Percakapan gak penting

Ini percakapan (dengan Cacak) yang terjadi beberapa menit yang lalu… Gak penting, jadi ga usah dibaca aja deh.

me  : ramidin…?
lantai 4?
itu Lamidin…!

Cak : ramidinnn

me  : L

Cak : R

me  : hahaha

Cak : mbak gak teteh seh…

me  : aku wong Cino sih…
ga bisa bilang R
hahahhaha
(bo’ong banget kan aku)

Cak : Cino ireng?
hihi

me  : hahahha…
cokelat
eh, soklat…

Cak : ehm,… bener
kalo cokelat itu makanan
kalo soklat itu warna campuran item sama putih sama macem2 deh


me  : tuh kan, temen2 seruangan bilang dia itu LAMIDIN
hey, kamu anak muda, jangan ngeyel sama orang tua
(temen2 seruanganku yang pada tua maksudnya)

Cak : lho, aku lho sing cidek ambek wonge

me  : cidek kan ga mesti bener…
tanya yang seangkatan sama beliau dong

Cak : masak sih?

me  : hahahha
(hurraiy, gufron keder)

Cak : aku kalo manggil ” Pak Ram ! ”
au ah
yg penting pak ram

me  : hihihii

Sent at 2:15 PM on Wednesday

Iklan

Apa yang ditabur, itu yang dituai

Suatu hari,

Aku menyimak pengajian Aa Gym di kaset.

“Ketika saya banyak memberi kepada orang lain, maka saya mendapat balasan yang lebih banyak. Coba perhatikan…”

Kemudian Aa Gym mengucapkan salam,

“Assalaamu’alaykum Warahmatullaahi Wabarakaatuh”

“Wa’alaykumussalaam Warahmatullaahi Wabarakaatuh”, yang hadir menjawab salam beliau.

“Saya ulang ya… Assalaamu’alaykum…”

“Wa’alaykumussalaam…”

“Tuh kan, ketika saya sedikit memberi, balasannya juga kurang dari sebelumnya…”

Suatu hari di tahun 2005

Pertama kali menginjakkan kaki di Kantor Pusat DJPBN, deg-degan bercampur kagum. Ini Jakarta!

Gedung berlantai lima, penghuninya kurasa keren-keren, rapi semua, terlihat smart semua. Duh, aku orang baru pindah dari Bumi Anging Mamiri, kantornya di sebuah gedung tua. Sekarang aku berada di gedung yang bagus, area parkir dipenuhi mobil-mobil bagus, mobil para pejabat.

Yang ini gedung Menteri A, yang di sebelah sana gedung Menteri B…

Orang-orang itu… hmm, aku belum kenal mereka. Aku orang baru. Jadi, aku harus menegur mereka, memperkenalkan diri, kalau aku ingin berteman dengan mereka. Buang rasa malu, selama itu bukan kesalahan.

Hasilnya, mereka menerimaku, menyapaku, mengajak bicara. Mereka orang-orang yang baik. Mereka memberitahuku ini dan itu. Kini aku telah menuai bernih perkenalan yang manis, teman-teman yang baik dan banyak. Salah satunya, yang menginspirasi untuk belajar menulis di blog, Mbak Dev.

Pekan kemarin,

Berkunjung ke rumah Bang Imoe, Pak Trainer, Pak Raden, Bu Imelda, Bu Tutinonka… Sebelumnya berkunjung ke teman-teman blogger yang lain. Giliran mereka yang berkunjung akhir-akhir ini hehehehe 🙂

Jadi, kalau ingin menuai banyak, banyaklah juga menabur… (Seribu teman terasa sedikit, sedang satuu saja musuh, rasanya pahit) 😀

Ray Usia 2 Tahun, bagian 2

Setelah merasa kurang puas dengan PAUD, kami menyekolahkan Ray di Kelompok Bermain swasta dekat rumah. Kami menyampaikan kepada guru-guru di sana perihal Ray, dan mereka menerimanya. Namanya juga sekolah kecil, tentu belum secanggih sekolah-sekolah mahal dan terkenal itu. Kami hanya ingin Ray belajar bersosialisasi dan bertemu dengan banyak teman, siapa tahu dia mau “bicara”.

Ray beradaptasi. Agak lama. Masa awal sekolah adalah masa perjuangan buat Mama. Mama mengantar sendiri Ray ke sekolah karena waktu itu sedang tidak ada asisten di rumah. Setelah itu baru Mama berangkat kerja (seminggu tiga kali Mama datang terlambat, Alhamdulillaah bos Mama pengertian) . Ray ditinggal di rumah dengan Mbah Ti dan Affan, adiknya yang masih bayi.

Semester II Ray sudah lebih tertib. Frekuensi ke luar kelas sewaktu pelajaran berlangsung sudah mulai berkurang. Kalaupun itu terjadi, paling cuma sebentar dan mudah dibujuk kembali masuk kelas.

“Mau main prosotan ya? ya deh boleh, satu kali merosot ya… 1, 2, 3, meluncuuur…”

“yaa… yuk masuk kelas lagi yuk…”, Mama lari menggandeng Ray masuk kelas. Dia tertawa-tawa. Tak jarang Mama bermain pura-pura mengejar dia.

Mama selalu bersiap di dekat pintu kelas, sedangkan ibu-ibu pengantar lainnya sedang asyik ngobrol dengan yang lain. Duduk-duduk, cerita-cerita. Hmm, memperhatikan Ray belajar di kelas jauh (sangat jauh) lebih menyenangkan daripada ikut ngobrol dengan ibu-ibu itu. Mama senyum-senyum sendiri melihat Ray, dia bertepuk tangan ketika anak-anak menyanyi, ikut melafalkan doa-doa (meskipun pengucapannya belum benar). Dalam hati Mama bahagia dan bersyukur bisa menikmati momen seperti ini.

Sebelum bersekolah, kami juga memeriksakan Ray ke dokter dan membawanya terapi wicara seperti pernah dituliskan di sini. Bahkan kami pernah mengundang seorang terapis ke rumah.  Seminggu sekali beliau datang.

Waktu itu, yang terpikirkan oleh kami adalah bagaimana mengejar ketertinggalan Ray. Terapis yang datang ke rumah mengobservasi Ray. Pekan berikutnya dia datang, mengkondisikan Ray belajar dengan duduk di kursi seperti di sekolah. Duuh, Ray tidak mau menurut. Lari-lari, teriak-teriak, nangis.

Kurang lebih empat kali terapis itu datang ke rumah, kami tidak melihat kemajuan berarti. Ray hampir selalu teriak-teriak kalau diajak belajar. Mama dan Ayah mulai berpikir bahwa cara ini bukan yang terbaik untuk Ray. Ada kesan paksaan dan tidak ‘fun’. Kami putuskan untuk tidak mendatangkan terapis ke rumah.

Akhirnya, kami lebih memilih cara yang lebih menyenangkan, dengan mengajaknya bermain, bernyanyi, tidak harus dalam kondisi belajar. Kami bacakan buku-buku cerita. Kami banyak mengajaknya bicara dan lebih sering bertemu dengan orang-orang asing. Kami mengajaknya berkunjung ke rumah teman-teman Ayah, yang sebelumnya belum pernah dia kenal. Kami ajak bermain di taman. Di area bermain anak-anak, dia belajar mengantri. Kami juga sering mengajaknya belanja ke pasar tradisional, kami kenalkan apa-apa saja barang yang dibeli.

Alhamdulillaah, ada kemajuan. Ray sudah mulai bicara, dengan bahasa yang belum jelas. Namun demikian, syukur kepada Allah SWT tiada henti. Setiap kemajuan Ray kami hargai, sangat kami hargai.

Maafkan Mama dan Ayah, ya, Nak, bila dalam proses belajarmu, pernah ada hal-hal yang membuatmu kurang nyaman. Maafkan kami, ya, Nak, kami masih harus terus belajar untuk memahamimu…

(masih) suka ngopi

Aku sudah tidak ingat kapan aku mulai minum kopi. Mungkin ketika aku mulai hidup di rantau, tahun 2000. Belajar tengah malam menghadapi ujian semester (salah sendiri belajarnya menganut Sistem Kebut Semalam, SKS), aku minum kopi untuk mengusir rasa kantuk. Bukan kopi item sih, cuma kopi 3 in 1, tapi kan tetep kopi.

Sampai saat ini aku masih suka ngopi, ya itu, masih kopi 3 in 1. Kadang pengen menghentikan kebiasaan ini, tapi masih sering kangen kalo udah lama ga minum kopi (udah ketagihan kah?).  Apalagi seorang teman semasa kuliah kadang ngajak ngopi via chatting, “a cup of coffee?” 🙂

Hanya sewaktu hamil dan menyusui aku kuat-kuat ngerem kebiasaan ini. Bagaimanapun nikmatnya kopi, tetep aja ada kafein yang kalo dikonsumsi berlebihan malah kurang bagus buat kesehatan. Ini nih beberapa diantara efek negatif kopi (dari berbagai sumber) :

  • kopi menyebabkan karang gigi dan gigi menjadi kuning bia dikonsumsi dalam jumlah berlebihan
  • minum terlalu banyak kopi dapat meningkatkan kemungkinan untuk terkena serangan jantung
  • perempuan yang minum dua cangkir kopi atau lebih per hari dapat meningkatkan risiko terkena pengeroposan tulang (osteoporosis)
  • bayi yang ibunya terlalu banyak minum kopi ketika hamil mempunyai risiko tinggi terkena epilepsi (duh serem ya…)
  • kopi dapat mengganggu saluran pencernaan dengan meningkatkan kadar keasaman perut sehingga menyebabkan timbulnya luka pada dinding saluran pencernaan (makanya orang yang sakit maag ga boleh minum kopi)

Namun demikian, aku (masih) suka ngopi… *ngeyel 😀

Ray Usia 2 Tahun, bagian 1

Ray belum bicara, hanya menunjuk-menunjuk dan menarik-narik tangan kami bila menginginkan sesuatu. Rentang konsentrasi pendek, tidak fokus, mudah bosan. Tidak mudah beradaptasi, menarik diri bila berada di lingkungan baru atau bertemu dengan orang asing. Tidak suka suara bising dan keras.

Usia 2 tahun 9 bulan, Ray bersekolah. Sekolah pertama Ray adalah PAUD di dekat rumah. Hasilnya, kurang memuaskan.  Di PAUD, Ray bersekolah dengan 30-an anak. Hal itu membuatnya merasa kurang nyaman. Suara bising dan suasana yang ramai, karena rata-rata orang tua dan pengasuh anak-anak itu ikut masuk ke dalam kelas, membuatnya enggan masuk kelas. Ray hanya berjalan-jalan dan lari-lari di halaman dan di jalan dekat sekolahnya. Mama yang mengantar juga ikut “berolah raga” mengejar-ngejar Ray.

Kadang Ray harus digendong supaya mau masuk kelas. Ray bisa tenang di kelas jika Bu Gurunya sedang mengajak anak-anak menyanyi, bertepuk tangan, dan kegiatan semacamnya yang menarik perhatiannya. Tetapi ketika beberapa menit jeda, tidak ada Bu Guru yang “menguasai” kelas, Ray kembali kabur ke luar kelas. Mama tidak bisa duduk tenang kalau Ray seperti ini.

Di situ kami menyadari, Ray berbeda dengan anak-anak lain seusianya.  Ray butuh perhatian yang lebih banyak daripada anak-anak lainnya. Ray anak spesial.

Mulailah kami mencari ilmu tentang anak berkebutuhan khusus, membaca majalah, mencari artikel via internet, dan Mama menjadi sering mengunjungi puterakembara.org . Bahkan salah satu tetangga kami memberikan kami sebuah buku berjudul “Anakku Terlambat Bicara” ditulis oleh Julia Maria Van Tiel.

Buku (besar, bukan seukuran novel) setebal 408 halaman itu Mama baca dengan cepat, setiap hari membaca buku itu. Buku itu ditulis oleh seorang ibu dengan anak berbakat (Gifted Child). Dikisahkannya perjuangan membesarkannya, mengasuhnya, perilaku anaknya, juga terapi-terapi yang dijalaninya. Setelah dibaca-baca dan membandingkan dengan perilaku Ray, perasaanku mengatakan Ray bukan anak gifted.

Semir Sepatu

Aku punya sepatu hitam. Belakangan ini aku jarang memakainya. Jadi pas kemarin kupakai, terlihat kusam sekali. Cuma kusikat dan aku segera berangkat kerja.

Hari ini, masih sama. Cuma kusikat saja sepatu itu. Lama-lama risih juga memakai sepatu yang hitam kusam tak bercahaya. Dan kuputuskan untuk membeli semir sepatu. Kusemirlah sepatuku di kantor.

Mendadak aku teringat suamiku dan mencoba mengingat kapan terakhir kali aku menyemirkan sepatunya (Mama minta maaf ya, Yah… sungguh aku sangat merasa bersalah kepadamu) 😦  Aku tidak ingat kapan…

Astaghfirullaah… ampuni aku ya Rabb, aku telah lalai dan lupa. Terbayang berapa banyak pahala yang telah kusia-siakan, yang tidak kuambil. Padahal mungkin saja Allah menyediakan pahala sebesar gunung bila aku tulus ikhlas melakukannya.

*Yang, aku akan menyemirkan sepatumu lagi…*

Berhasil bikin Amris, yippii…

Gara-gara baca blog teman yang nampilin banner Natural Cooking Club (NCC), aku jadi penasaran, apa sih itu NCC.

Setelah baca-baca bentar, iseng ikut milisnya. Wew, milisnya aktif sekali! Setiap hari ada banyak e-mail yang kuterima. Selain baca-baca isi e-mail, tak lupa aku melirik blog-blog member NCC yang ngobrol di milis. Duuh, lebih banyak di blogspot ya… hiks, padahal di kantor aku ga bisa blogspot 😦 , dan yang di wordpress bisa dihitung dengan jari.

Dari beberapa blog NCC-ers (ini istilah intern), yang pertama aku kunjungi dan membuatku seneng adalah blog Apricot karena aku berhasil bikin American Risoles 😀 (Terima kasih ya Apricotcake…)

Aku masih berpikir mengapa dinamakan American Risoles. Apakah karena Risoles yang ini berisi daging asap dan keju (identik dengan makanan Barat)?

Berikut ini resep (dari Apricotcake) dengan sedikit tambahan :

American Risoles

#Penulis : Fatmah Bahalwan (salah satu pengajar di NCC)

Bahan Kulit :

  • 100 gr tepung terigu
  • 1 sdt garam
  • 3 butir telur
  • 250 ml susu cair
  • 1 sdm mentega, lelehkan
  • margarin untuk olesan
  • 1 sdm tepung kanji (ini tambahan dariku, supaya kulit Risoles tidak mudah pecah)

Bahan Isi :

  • 4 lembar smoked beef (daging asap), potong kecil 1×3 cm
  • 100 gr keju cheddar parut (ini aku ganti keju Kraft Quick Melt, dipotong balok panjang)
  • 4 btr telur rebus, potong-potong
  • 1 butir telur, kocok lepas
  • 250 gr tepung panir
  • minyak untuk menggoreng

Cara membuat kulit :

  1. Ayak terigu, taruh dalam wadah, tambahkan garam. Buat lubang di tengah, pecahkan telur di dalamnya, aduk satu arah
  2. Tambahkan susu sedikit demi sedikit hingga adonan menjadi licin dan halus
  3. Susu habis, masukkan mentega leleh.
  4. Tutup adonan dengan plastik, diamkan 30 menit (jujur aku tidak paham mengapa harus didiamkan hehehe)
  5. Olesi wajan dadar berdiameter 12 cm dengan margarin, panaskan.
  6. Tuangi 1 sendok adonan (aku pake sendok sayur), ratakan sambil diputar, 2-3 menit, angkat.

Penyelesaian :

  1. Bentangkan kulit, isi dengan potongan daging asap, potongan telur rebus, potongan keju, lipat seperti amplop (gulung). Sisihkan. Lakukan hingga adonan kulit habis.
  2. Celupkan risoles ke dalam telur kocok, lalu gulingkan dalam tepung panir.
  3. Simpan dalam lemari pendingin kira-kira selama 1 jam (biasanya aku malah langsung goreng, udah ga tahan pengen makan hihihii).
  4. Goreng hingga kuning kecoklatan.
  5. Sajikan dengan saos cabe atau cabe rawit.

Amrisfotonya masih amatir

Tetangga yang ikut nyicipin bilang enak, bahkan si kecil Affan doyan banget lho. Terima kasih ya, Mama jadi semangat berpetualang di dapur, Nak… 🙂

Balik lagi…. senengnyaa….!

Setiap kali lebaran, hatiku diliputi kecemasan… ini tentang asisten rumah tangga. Sudah tiga kali lebaran, asisten pulang kampung, terus nggak balik lagi. Akhirnya kan nyari lagi, nyari lagi. Capek hati karena harus adaptasi lagi, kasihan anak-anak….

Salah satu konsekuensi menjadi ibu bekerja adalah mencari asisten buat njaga anak-anak selama ditinggal kerja, kalo tidak ada saudara yang bisa bantu-bantu njaga. Dan itu berarti harus siap-siap sedih dan capek hati kalo asisten tidak seperti yang diharapkan.

Tak jarang, pas lebaran, mereka mudik dan gak balik lagi ke rumah, alias kabur. Meninggalkan kita yang ga bisa berbuat apa-apa buat meminta tanggung jawab mereka. Itulah makanya ada majikan yang menahan sebagian gaji mereka sebagai pancingan supaya mereka balik lagi. Tapi aku tidak setega itu sama asisten-asistenku. Tiap awal bulan, aku berikan gaji mereka. Aku takut disebut mendholimi mereka, takut Allah SWT gak suka.

Dan Alhamdulillaah lebaran kali ini aku bahagia karena mereka bersedia balik kerja di rumahku, njaga anak-anakku. Sementara teman-teman lain pusing karena asisten mereka gak balik, aku bersyukur karena aku tidak. Alhamdulillaah… Terima kasih, ya, Allah, atas kemudahan-kemudahan yang kau berikan kepadaku dan keluargaku… ajari kami untuk menjadi majikan dan orang tua yang baik dan amanah bagi mereka… amiin…