Belanja Sayur dan Jemuran

Hari ini ada rapat walimurid di SDnya Mas U. Mama sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Dari luar pagar terdengar suara Pak No, tukang sayur langganan, memberi kode woro-woro agar ibu-ibu berbelanja. Karena saya repot, maka saya meminta bantuan Kakak R untuk berbelanja sayur untuk melatih kemandiriannya sekaligus agar saya dapat menghemat waktu karena saya akan segera berangkat ke sekolah.

Saya menuliskan daftar belanja di sehelai kertas dan memberinya uang. Kakak R pun melakukan tugas ini dengan baik. Alhamdulillaah.

Sore ini langit gelap. Saya meminta Kakak R dan Mas A untuk angkat jemuran sementara saya melakukan hal lain. Sebelumnya saya sudah pernah mengajak mereka melakukan kegiatan ini. Terkadang saya meminta Kakak R melakukannya sendiri, namun seringnya dia tak bersedia. Alasannya, tangannya ngga nyampe. Padahal ada kursi kecil yang bisa mereka gunakan lho untuk mengambil jemuran yang dirasa tinggi letaknya. Hari ini mereka berdua bekerjasama melaksanakan tugasnya.

Baarakallaahufiikum


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day9

 

Iklan

Merapikan Pakaian

Sudah lama Ayahnya anak-anak melatihkan skill ini ; memasukkan baju yang sudah disetrika ke dalam lemari.

Saya? saya justru terkadang “melemahkan” keterampilan ini. Hiks. Hehehe. Soalnya saya gemes aja melihat tumpukan pakaian mereka yang tidak rapi.

Anak-anak masih harus diingatkan oleh ayahnya untuk kegiatan ini. Hanya satu-dua kali saja Kakak R berinisiatif melakukannya tanpa disuruh.

Saat ini pun, tumpukan pakaian rapi masih teronggok di keranjang, belum dimasukkan ke dalam lemari. Ayahnya belum lagi “bersuara” karena belakangan ini anak-anak tidur lebih cepat dari biasanya, sementara di pagi hari kami semua sibuk dengan persiapan bekerja dan bersekolah.

Oh, ayolah, Mama… rapikan lemari…!


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day8

Aku Berangkat Sendiri

Aktifitas pagi sejak tahun ajaran baru ini, saya mengantar 3 anak sekaligus ke 2 sekolah berbeda. Motor Beat putih kesayangan itu harus ditunggangi oleh 3 bocah dan 1 ibu hamil. Rasa-rasanya udah ngga muat aja :p

Karena saya masih mampu untuk antar, juga Kakak R dan Mas A yang belum mau berangkat sekolah sendiri (karena harus naik angkot dan menyeberang jalan raya), sekaligus rasa ngga tega kepada Mas U yang masih tergolong murid baru di SDnya, maka saya masih mengantar mereka.

Namun pagi ini ketika semua sudah siap berangkat, tiba-tiba Mas U bilang, “Aku berangkat sendiri saja… naik sepeda”.

MaasyaaAllaah, jagoan Mama sudah berani bersekolah sendiri. Baarakallaahufiik, Nak.

Seketika hati saya menjadi hangat. Mengapa sekarang malah Mama yang mellow melihat lambaian tanganmu sebelum kau mengayuh sepedamu 😦

Dari sekolah kakak-kakaknya, saya mampir ke sekolah Mas U. Saya lihat sepatunya di rak. Alhamdulillaah dia sudah di dalam kelas. Saya juga mengabarkan ini kepada Bu Gurunya.

Hari ini, Jum’at, Mas U pulang jam 14. Saya jemput saja meski dia bersepeda. Begitu melihat saya di sekolah, eh dia malah protes. Hihihi. Mamanya ditinggal jauh di belakang, dia sudah melesat ngebut pulang.

Ya Alloh, saya mohon penjagaanMu untuk Mas U, dari semua keburukan.


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day7

Kanan Atau Kiri?

Kali ini tentang putera ketiga kami, Mas U. Dia baru saja menjadi murid SD.

Di hari pertama sekolah, Bu Guru mengingatkan murid-murid untuk memakai sepatu dimulai dari kaki kanan. Dan untuk melepas sepatu, dimulai dari kaki kiri.

Sebelumnya, saya pernah mengingatkannya tentang hal ini. Namun karena tidak konsisten, Mas U juga tidak melaksanakannya. Kata-kata Bu Guru tadi menyentil saya agar saya kembali dengan sadar melatihkan hal ini. Terima kasih, Bu Guru πŸ™‚

Hari-hari berikutnya, alhamdulillaah Mas U sudah mulai memakai dan melepas sepatu dengan benar.

Baarakallaahufiik, Nak…


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day6

Jalan Kaki atau Becak?

Masih tentang melatih kemandirian Kakak R dan Mas A. Kakak R ini beberapa kali minta uang transport yang berlebih.

“Bawa 50 ribu dong, Ma”

Oh, belum perlu sebanyak itu, Nak. Tapi, sepertinya Mama tahu nih kenapa minta uang lebih banyak. Maka Mama memberi mereka pengertian bahwa untuk punya uang lebih, mereka berdua menyisihkan uang transport mereka. Uang naik becak, bisa digunakan untuk membeli makanan atau minuman, asalkan mereka mau jalan kaki saja menuju jalan raya.

Dan nampaknya mereka menerima usul ini πŸ™‚

Terima kasih untuk Mama Wawa dan Mama-mama lain yang udah perhatian sama anak-anak saya.

Baarakallaahufiikuma, Nak…


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day5

Angkot dan Becak Pertama

Berlatih naik angkot, saya masih memberi mereka kesempatan untuk beradaptasi dan memilih kapan naik angkot. Ketika berangkat sekolahkah, atau ketika pulangnya. Kakak R dan Mas A memilih untuk naik angkot ketika pulang sekolah. Alasannya sih, kalau pulang sekolah, mereka tidak perlu menyeberang jalan raya.

Untuk menuju ke jalan raya dari gedung sekolahnya pun, masih ada sekitar 200-an meter jaraknya. Mereka bisa berjalan kaki atau naik becak.

Hari pertama, mereka berencana naik becak. Setahu saya dulu, tarifnya 5 ribu rupiah. Namun, mereka cukup berhati-hati lho, dengan bertanya terlebih dahulu kepada Abang Becaknya. Ternyata sekarang tarifnya 10 ribu, hihihi. Jujur saja saya agak kuatir Si Abang semaunya saja menarik ongkos. Wah, uang transport mereka nggak cukup! Mereka saya beri 11 ribu rupiah saja, dengan asumsi ongkos angkot 5 ribu dan becak 6 ribu. Akhirnya mereka putuskan untuk jalan kaki saja, toh hari pertama sekolah, mereka pulang sekolah lebih awal ; jam 11.

Kakak R ini anaknya tipe “main aman”. Ketika turun angkot, dia menyerahkan uang 11 ribu kepada supir. πŸ˜€ Dapet kembalian 6 ribu rupiah. Nah bener kan angkotnya 5 ribu, Kak… πŸ™‚ Hihihihi

Semangat, Nak !


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day4

Belajar Naik Angkot

Sejak tahu saya hamil, maka saya dan suami sudah mulai sounding ke Kakak R dan Mas A agar naik angkot untuk berangkat dan pulang sekolah. Rencana ini pun mulai didengungkan lebih intensif lagi sejak libur sekolah. Kepada Mas U pun, sudah mulai disounding bahwa dia nantinya akan berangkat-pulang sekolah sendiri dengan naik sepeda.

Kakak R sekarang kelas 6 SD, Mas A kelas 4, dan Mas U kelas 1. Suami saya sudah berpikir bahwa anak lelaki kami harus mulai mandiri. Terutama Kakak R, usia SMP nanti (baligh) dia sudah bisa pergi-pergi sendiri. Maka mulailah kami melatihkan skill yang satu ini pas saat tahun ajaran baru ini, pas kondisi saya demikian. Jika bayi kami lahir, otomatis saya tidak bisa leluasa mengantar-jemput sekolah mereka.

Kakak R dan Mas A bersekolah di tempat yang sama, jaraknya sekitar 3 Km dari rumah, melewati jalan raya yang ramai. Sedangkan Mas U di sekolah lain yang lebih dekat jaraknya, letaknya di kampung, sehingga dia bisa bersepeda saja untuk sekolah.

Dua hari sebelum sekolah dimulai, saya mengajak Kakak R dan Mas A untuk belajar naik angkot. Pada awalnya mereka tidak terlalu setuju dengan ide ini. Mereka mengusulkan untuk ke sekolah naik ojek langganan, ojek online, atau mobil jemputan sekolah.

Oh, Anakku, sesungguhnya Ayah dan Mamamu hendak membekalimu dengan sesuatu yang kelak kamu butuhkan, yakni bertahan dalam situasi yang kurang nyaman. Maka bersabarlah…! πŸ™‚

Latihan pertama ini berjalan lancar, meski Mama harus merogoh kocek lagi untuk syarat yang mereka ajukan ; mampir toko mainan.


#Level2 #Tantangan10 Hari #BunsayIIP #Day3

Mama Juga Harus Mandiri

Hal yang menantang dari melatih Kakak R dan Mas A mencuci piring sendiri adalah pada saat selesai sarapan. Tahu kan, kalau pagi itu Emak-emak sibuk ini-itu di dapur, menyiapkan sarapan dan bekal sekolah. Plus mulut tak berhenti mengingatkan anak-anak untuk “bergerak” siap-siap bersekolah.

Seringnya, peralatan masak pun menumpuk di bak cuci piring. Nah, kalau sudah begitu, Si Mas A ini kadang naruh piring begitu saja tanpa mencucinya. Sementara saya pun tidak selalu awas, mengingat adiknya (Mas U) sekarang pun masuk SD sehingga perhatian saya terpecah juga kepadanya yang sedang beradaptasi dengan ritme baru sebagai anak SD.

Kalau Kakak R relatif lebih konsisten, alhamdulillaah. Dan saya cukup terbantu oleh Kakak R ini karena dia mengingatkan adiknya untuk mencuci piring. Baarakallaahufiih.

So, demi kelancaran aktifitas pagi, Mama juga harus bangun lebih pagi lagi nih, agar punya lebih banyak waktu juga untuk membereskan cucian peralatan masaknya. Hihihi…

Semangat, Mama !


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day2

Tahun Ajaran Baru, Kemandirian Baru

Bismillaah…

Bulan Juli ini, bulan kedua Kelas Bunda Sayang. Materinya tentang Mengajarkan Kemandirian, kepada diri sendiri dan/atau kepada keluarga. Ini saat yang pas banget untuk saya mulai konsisten melatihkan kemandirian kepada Kak R dan Mas A ; cuci piring sendiri. πŸ™‚

Pada awalnya mereka berdua masih harus selalu diingatkan untuk mencuci piring setelah makan. Tahap awal ini sih mereka hanya mencuci piring bekas makan mereka sendiri. Hasil cuciannya pun belum sempurna. Ketika sudah kering dan saya akan meletakkan piring kering ke dalam rak piring, baru deh ketahuan kalau masih ada sisa makanan mengering yang belum terbasuh.

Oiya, mereka juga lumayan boros air ketika mencuci piring. Well, saya memakluminya saja sambil terus mengingatkan agar hemat air dan teliti ketika mencuci.

Semangat, Nak !


#level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day1