Dan Akupun Melakukannya

… بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ …

Dengan kemantapan hati, akhirnya aku melakukannya. Sesuatu yang sudah aku pikirkan sejak empat tahun lalu. Yang sejak awal tahun ini aku renungkan, aku timbang-timbang, aku mencari jawaban dan bulatkan tekad.

Aku memohon petunjuk Allah. Aku meminta restu kepada Emak dan Bapak, kepada Ibu dan Bapak mertua, kepada Kakak-kakak. Nyuwun donga lan pangestu, juga memohon dibukakan pintu maaf dan mengharap ikhlas mereka, karena aku memilih untuk melepas status PNS-ku.

Pada awalnya mereka merasa berat untuk memahami dan menerima perasaan dan jalan pikiran kami, aku dan suamiku. “Bukankah sudah nyaman dengan keadaan sekarang?”

Penghasilan, status sosial, jaminan kesehatan, juga uang pensiun adalah beberapa nilai positifku sebagai karyawati. Dan ada juga sisi kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri di luar rumah. Tak dapat dipungkiri, keluar rumah juga diperlukan untuk melepas kejenuhan.

Namun, seiring waktu berjalan, kami kemudian sadar, bahwa waktuku di luar rumah (bekerja) semakin mengurangi waktuku bermain dengan anak-anak. Tempat tinggalku semakin jauh dari ibu kota (mampunya beli di pinggir, hehhehe). Aku berangkat kerja lebih pagi dan pulang lebih malam. Pergi bekerja dalam keadaan full-charged dan pulang ke rumah dengan membawa penat dan lelah. Nyampe rumah sudah capek, sementara anak-anak butuh bermain, mungkin kangen sama Mamanya.

Dan yang lebih meresahkan, kapan aku bisa memasukkan nilai-nilai Islam, menanamkan keimanan, mengontrol akhlaq mereka, bila waktuku sangat singkat berada dekat dengan anak-anak. Tentu saja bisa dengan menelepon mereka di sela-sela bekerja. Tapi sungguh, rasanya bedaaa banget bila bicara face to face, melihat wajahnya, membaca bahasa tubuhnya.

Kira-kira bulan Mei, aku sudah memantapkan hati. Aku akan mengundurkan diri. Karena aku ingin, mulai tahun ajaran baru sekolah, aku sendiri yang akan antar-jemput Kakak dan Mas ke sekolah. Hm… Kubayangkan, betapa gembiranya hati kami….

Namun ternyata, aku masih mengulur waktu, bermaksud setelah selesai mengerjakan suatu pekerjaan (yang sebaiknya aku sendiri yang menyelesaikan), baru aku akan mengajukan surat pengunduran diri. Tanggal 31 Mei, pekerjaan tadi selesai, dan aku belum menyempatkan diri menulis surat itu. Pfhh…!

Akhirnya, aku putuskan, tanggal 1 Juni, aku harus bikin surat itu. Tapi, pekerjaan terus ada dan aku belum lagi menulis. Sampai di siang hari, PRT di rumah mengabarkan bahwa Emakku terjatuh, sulit/sakit untuk bergerak.

MasyaAllaah… Emakku, usia 65 tahun, terjatuh??

Ya Allah Yaa Rahiim, apakah ini jawaban dari-MU, bahwa seharusnya aku tidak lagi ragu dan mengulur waktu??… Yaa Rahmaan, aku berhusnudzon atas ketentuan-MU.

Yaa Robbi, baiklah…, dengan nama-MU, aku meluruskan dan mengikhlaskan niat, menghadap atasanku untuk mengutarakan niatku; berbakti kepada suami dan orangtua, serta merawat dan mendidik anak-anak.


mobile wordpress