Menimbang, Mengingat, Memutuskan…

Wiii… judulnya mengingatkanku pada redaksi Surat-surat Keputusan yang sering kubaca sewaktu masih ngantor dulu, hihi. Hari ini saya mau membahas lagi tentang sebab-sebab dan perjalanan resign saya karena sampai saat ini pun masih ada beberapa teman yang bertanya.

Ya memang masalah bekerja atau tidak itu membingungkan, dan bukan masalah ringan bagi sebagian orang. Termasuk saya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Sisi A dan B, sisi Plus dan Minusnya. Dan kalo hanya dihitung secara matematika, ngga akan “ketemu”. Bersyukur saya punya Allah, Maha Tahu segala hal, yang mengarahkan saya, menunjuki saya kepada jalan yang menyenangkan ini.

Saya menghabiskan waktu kurang-lebih setengah tahun untuk yakin. Selama itu saya banyak membaca, mendengar, dan melihat.  Baca lebih lanjut

Dan Akupun Melakukannya

… بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ …

Dengan kemantapan hati, akhirnya aku melakukannya. Sesuatu yang sudah aku pikirkan sejak empat tahun lalu. Yang sejak awal tahun ini aku renungkan, aku timbang-timbang, aku mencari jawaban dan bulatkan tekad.

Aku memohon petunjuk Allah. Aku meminta restu kepada Emak dan Bapak, kepada Ibu dan Bapak mertua, kepada Kakak-kakak. Nyuwun donga lan pangestu, juga memohon dibukakan pintu maaf dan mengharap ikhlas mereka, karena aku memilih untuk melepas status PNS-ku.

Pada awalnya mereka merasa berat untuk memahami dan menerima perasaan dan jalan pikiran kami, aku dan suamiku. “Bukankah sudah nyaman dengan keadaan sekarang?”

Penghasilan, status sosial, jaminan kesehatan, juga uang pensiun adalah beberapa nilai positifku sebagai karyawati. Dan ada juga sisi kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri di luar rumah. Tak dapat dipungkiri, keluar rumah juga diperlukan untuk melepas kejenuhan.

Namun, seiring waktu berjalan, kami kemudian sadar, bahwa waktuku di luar rumah (bekerja) semakin mengurangi waktuku bermain dengan anak-anak. Tempat tinggalku semakin jauh dari ibu kota (mampunya beli di pinggir, hehhehe). Aku berangkat kerja lebih pagi dan pulang lebih malam. Pergi bekerja dalam keadaan full-charged dan pulang ke rumah dengan membawa penat dan lelah. Nyampe rumah sudah capek, sementara anak-anak butuh bermain, mungkin kangen sama Mamanya.

Dan yang lebih meresahkan, kapan aku bisa memasukkan nilai-nilai Islam, menanamkan keimanan, mengontrol akhlaq mereka, bila waktuku sangat singkat berada dekat dengan anak-anak. Tentu saja bisa dengan menelepon mereka di sela-sela bekerja. Tapi sungguh, rasanya bedaaa banget bila bicara face to face, melihat wajahnya, membaca bahasa tubuhnya.

Kira-kira bulan Mei, aku sudah memantapkan hati. Aku akan mengundurkan diri. Karena aku ingin, mulai tahun ajaran baru sekolah, aku sendiri yang akan antar-jemput Kakak dan Mas ke sekolah. Hm… Kubayangkan, betapa gembiranya hati kami….

Namun ternyata, aku masih mengulur waktu, bermaksud setelah selesai mengerjakan suatu pekerjaan (yang sebaiknya aku sendiri yang menyelesaikan), baru aku akan mengajukan surat pengunduran diri. Tanggal 31 Mei, pekerjaan tadi selesai, dan aku belum menyempatkan diri menulis surat itu. Pfhh…!

Akhirnya, aku putuskan, tanggal 1 Juni, aku harus bikin surat itu. Tapi, pekerjaan terus ada dan aku belum lagi menulis. Sampai di siang hari, PRT di rumah mengabarkan bahwa Emakku terjatuh, sulit/sakit untuk bergerak.

MasyaAllaah… Emakku, usia 65 tahun, terjatuh??

Ya Allah Yaa Rahiim, apakah ini jawaban dari-MU, bahwa seharusnya aku tidak lagi ragu dan mengulur waktu??… Yaa Rahmaan, aku berhusnudzon atas ketentuan-MU.

Yaa Robbi, baiklah…, dengan nama-MU, aku meluruskan dan mengikhlaskan niat, menghadap atasanku untuk mengutarakan niatku; berbakti kepada suami dan orangtua, serta merawat dan mendidik anak-anak.


mobile wordpress

Resign III : Bukan Sampah

Apakah saya terlihat mengeluh (dengan tulisan saya yang bertema resign)? saya kok ngga merasa gitu ya. (hehehe…)

Menuliskan kata hati dan pikiran-pikiran saya di sini, sungguh tidak bermaksud “mengasihani diri sendiri” dengan mengeluhkan ini-itu. Saya hanya berbagi kata hati, barangkali saja ada pencerahan dari teman-teman. Atau mungkin… ada banyak ibu bekerja di luar sana yang punya pikiran senada dengan saya bisa merasa “punya teman”. :p

Jadi bukan sampah-menyampah, Kawan. Ini kata hati yaaang…manusiawi kan?


Perewangan

Berangkat dari rumah, saya sudah berniat, hari ini mau kerja (jadi selama ini???). Maksud saya, saya tidak berencana menambah postingan di blog ini. Namun, pembicaraan dengan teman di area toilet perempuan, mengusik hati dan pikiran saya.

Tarik napaass….

Salah seorang teman saya, kembali memulangkan Asisten-nya (Asisten Rumah Tangga). Kenapa lagi? karena, si anak mengeluhkan pipinya yang sakit karena telah dipukul oleh si asisten. Duuh, sediiih, bercampur geram dengernya.

“Tuh, Mamaray, hati-hati sama pembantu…!”, pesan teman saya. Hiyaaa, huwaaa 😦

Sama juga dengan teman yang tadi, saya juga sudah sering gonta-ganti asisten. Macem-macem sebabnya. Karena si mbak menikah, si mbak ga betah, si mbak gak saling akur (ketika ada dua asisten di rumah), hingga saya PHK si mbak karena galak sama anak-anak, juga kedapatan mencuri pulsa telepon rumah. Urusan perewangan (rewang = asisten, bukan jin, hihihihi) ini memang cukup menguras pikiran dan perhatian. Karena mereka sewaktu-waktu bisa minta pulang, dsb. 😛  secara saya ngga bisa membeli loyalitas mereka dengan gaji yang terlalu tinggi, saya belum bisa menggaji Baby Sitter (gaji Babysitter dan ART biasa berbeda).

Ini, konsekuensi ibu bekerja. Ujung-ujungnya, saya semakin pingin resign. 😛 *tapi nek ga kerjo, ga duwe duit, piye jaaal??? mbuuh…*

Resign II : Kursi Bis dan Kursi Kantor

Setiap aku naik bis atau angkot, sering kali menghitung secara kasar saja, perbandingan jumlah penumpang laki-laki dan perempuan. Dan hasilnya? Di angkot, lebih banyak penumpang perempuan daripada laki-laki. Mungkin karena laki-laki lebih suka naik motor. Kalau di bis, perbandingannya bisa 50:50.

Jaman sekarang, banyak perempuan yang keluar rumah untuk bekerja. Untuk menghidupi diri dan keluarga.

Aku berpikir, ahh, barangkali posisi mereka juga sama denganku. Bekerja, dan meninggalkan anak-anak di rumah dengan pembantu.

Kasihan anak-anak itu, kasihan anak-anakku.

Kalau aku resign saja, mungkin aku memberikan jatah kursi di bis ini untuk penumpang yang sedang berdiri. Mungkin kursiku di kantor bisa “kuberikan” untuk kawan lain yang ingin pindah ke Jakarta. Ya kan?


WordPress4blackberry.

Untukmu, Mbak…

semoga Allah Swt memberikan kemudahan kepada Mbak Ari, memberikan kesehatan yang prima, ketenangan batin dan pikir, kelapangan dada dan keluasan rezeki. Semoga niat muliamu diganjar Allah Swt dengan pahala berlipat, dihadiahi-Nya dengan anak-anak yg sehat dan bahagia. Semoga penuhnya waktumu mengurus keluargamu, Mbak, menuai keridloan Allah dan keridloan suami. Semoga Allah Swt dan suamimu, Mbak, semakin cinta kepadamu… amiin, amiin, amiin….

Menahan tangis aku menuliskannya.

Itu do’aku untuk seorang kawan yang esok hari sudah tidak bekerja di kantor ini, Cuti di Luar Tanggungan Negara (sebelumnya dia berniat mengundurkan diri, resign, tapi ditolak sama atasannya). Baik-baik ya Mbak, aku akan merindukanmu,  tentu.