File’s Not Found

Pagi-pagi mau cerita yang sedikit mellow… hehe. Ngga papa yah.

Ngomong-ngomong soal bayi… hmm, untuk Teman-teman yang membaca tulisan ini, yang baru saja punya bayi baru, saya ucapkan selamaat. Semoga bayi Anda semua sehat-sehaat, menjadi anak shalih-shalihah. Aamiin.

Sebenernya, saya kangen punya bayi lagi, hehe. Udah anak tiga tapi kadang masih ingin gendong-gendong bayi lagi. Mendadak lupa repotnya mengurus bayi. Lupa kalau pernah ngalamin baby-blues yang lumayan tidak nyaman.

Seringkali, ketika melihat iklan produk keperluan bayi, melihat bayi yang lucu, saya melihat ke masa lalu, mengingat-ingat dulu pas anak-anak saya umur segitu, kayak apa wajah lucunya, kayak apa ya gerakan aktifnya. Saat itu pula, otak saya memberi informasi : File’s Not Found.

Sedih ya. Yaa, sedikit.

Bisa sih dengan melihat foto-foto mereka, rindu saya terobati. Tapi, tetep ngga bisa gendong kan. hehe.

File’s Not Found. Saya masih bekerja sewaktu mereka masih kecil-kecil. Waktu untuk menggendong mereka, bermain bersama mereka lebih sedikit daripada waktu untuk bekerja di kantor. Jika ada prinsip “Yang penting waktu berkualitas bersama anak”, mungkin saat ini bisa saya katakan, “Tidak, kuantitas pun tak kalah penting”.

Semoga tak menjadi perdebatan, karena masing-masing ibu punya perasaan yang mungkin berbeda. Demikian.

Iklan

Menimbang, Mengingat, Memutuskan…

Wiii… judulnya mengingatkanku pada redaksi Surat-surat Keputusan yang sering kubaca sewaktu masih ngantor dulu, hihi. Hari ini saya mau membahas lagi tentang sebab-sebab dan perjalanan resign saya karena sampai saat ini pun masih ada beberapa teman yang bertanya.

Ya memang masalah bekerja atau tidak itu membingungkan, dan bukan masalah ringan bagi sebagian orang. Termasuk saya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Sisi A dan B, sisi Plus dan Minusnya. Dan kalo hanya dihitung secara matematika, ngga akan “ketemu”. Bersyukur saya punya Allah, Maha Tahu segala hal, yang mengarahkan saya, menunjuki saya kepada jalan yang menyenangkan ini.

Saya menghabiskan waktu kurang-lebih setengah tahun untuk yakin. Selama itu saya banyak membaca, mendengar, dan melihat.  Baca lebih lanjut

Dan Akupun Melakukannya

… بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ …

Dengan kemantapan hati, akhirnya aku melakukannya. Sesuatu yang sudah aku pikirkan sejak empat tahun lalu. Yang sejak awal tahun ini aku renungkan, aku timbang-timbang, aku mencari jawaban dan bulatkan tekad.

Aku memohon petunjuk Allah. Aku meminta restu kepada Emak dan Bapak, kepada Ibu dan Bapak mertua, kepada Kakak-kakak. Nyuwun donga lan pangestu, juga memohon dibukakan pintu maaf dan mengharap ikhlas mereka, karena aku memilih untuk melepas status PNS-ku.

Pada awalnya mereka merasa berat untuk memahami dan menerima perasaan dan jalan pikiran kami, aku dan suamiku. “Bukankah sudah nyaman dengan keadaan sekarang?”

Penghasilan, status sosial, jaminan kesehatan, juga uang pensiun adalah beberapa nilai positifku sebagai karyawati. Dan ada juga sisi kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri di luar rumah. Tak dapat dipungkiri, keluar rumah juga diperlukan untuk melepas kejenuhan.

Namun, seiring waktu berjalan, kami kemudian sadar, bahwa waktuku di luar rumah (bekerja) semakin mengurangi waktuku bermain dengan anak-anak. Tempat tinggalku semakin jauh dari ibu kota (mampunya beli di pinggir, hehhehe). Aku berangkat kerja lebih pagi dan pulang lebih malam. Pergi bekerja dalam keadaan full-charged dan pulang ke rumah dengan membawa penat dan lelah. Nyampe rumah sudah capek, sementara anak-anak butuh bermain, mungkin kangen sama Mamanya.

Dan yang lebih meresahkan, kapan aku bisa memasukkan nilai-nilai Islam, menanamkan keimanan, mengontrol akhlaq mereka, bila waktuku sangat singkat berada dekat dengan anak-anak. Tentu saja bisa dengan menelepon mereka di sela-sela bekerja. Tapi sungguh, rasanya bedaaa banget bila bicara face to face, melihat wajahnya, membaca bahasa tubuhnya.

Kira-kira bulan Mei, aku sudah memantapkan hati. Aku akan mengundurkan diri. Karena aku ingin, mulai tahun ajaran baru sekolah, aku sendiri yang akan antar-jemput Kakak dan Mas ke sekolah. Hm… Kubayangkan, betapa gembiranya hati kami….

Namun ternyata, aku masih mengulur waktu, bermaksud setelah selesai mengerjakan suatu pekerjaan (yang sebaiknya aku sendiri yang menyelesaikan), baru aku akan mengajukan surat pengunduran diri. Tanggal 31 Mei, pekerjaan tadi selesai, dan aku belum menyempatkan diri menulis surat itu. Pfhh…!

Akhirnya, aku putuskan, tanggal 1 Juni, aku harus bikin surat itu. Tapi, pekerjaan terus ada dan aku belum lagi menulis. Sampai di siang hari, PRT di rumah mengabarkan bahwa Emakku terjatuh, sulit/sakit untuk bergerak.

MasyaAllaah… Emakku, usia 65 tahun, terjatuh??

Ya Allah Yaa Rahiim, apakah ini jawaban dari-MU, bahwa seharusnya aku tidak lagi ragu dan mengulur waktu??… Yaa Rahmaan, aku berhusnudzon atas ketentuan-MU.

Yaa Robbi, baiklah…, dengan nama-MU, aku meluruskan dan mengikhlaskan niat, menghadap atasanku untuk mengutarakan niatku; berbakti kepada suami dan orangtua, serta merawat dan mendidik anak-anak.


mobile wordpress

Resign III : Bukan Sampah

Apakah saya terlihat mengeluh (dengan tulisan saya yang bertema resign)? saya kok ngga merasa gitu ya. (hehehe…)

Menuliskan kata hati dan pikiran-pikiran saya di sini, sungguh tidak bermaksud “mengasihani diri sendiri” dengan mengeluhkan ini-itu. Saya hanya berbagi kata hati, barangkali saja ada pencerahan dari teman-teman. Atau mungkin… ada banyak ibu bekerja di luar sana yang punya pikiran senada dengan saya bisa merasa “punya teman”. :p

Jadi bukan sampah-menyampah, Kawan. Ini kata hati yaaang…manusiawi kan?


Perewangan

Berangkat dari rumah, saya sudah berniat, hari ini mau kerja (jadi selama ini???). Maksud saya, saya tidak berencana menambah postingan di blog ini. Namun, pembicaraan dengan teman di area toilet perempuan, mengusik hati dan pikiran saya.

Tarik napaass….

Salah seorang teman saya, kembali memulangkan Asisten-nya (Asisten Rumah Tangga). Kenapa lagi? karena, si anak mengeluhkan pipinya yang sakit karena telah dipukul oleh si asisten. Duuh, sediiih, bercampur geram dengernya.

“Tuh, Mamaray, hati-hati sama pembantu…!”, pesan teman saya. Hiyaaa, huwaaa 😦

Sama juga dengan teman yang tadi, saya juga sudah sering gonta-ganti asisten. Macem-macem sebabnya. Karena si mbak menikah, si mbak ga betah, si mbak gak saling akur (ketika ada dua asisten di rumah), hingga saya PHK si mbak karena galak sama anak-anak, juga kedapatan mencuri pulsa telepon rumah. Urusan perewangan (rewang = asisten, bukan jin, hihihihi) ini memang cukup menguras pikiran dan perhatian. Karena mereka sewaktu-waktu bisa minta pulang, dsb. 😛  secara saya ngga bisa membeli loyalitas mereka dengan gaji yang terlalu tinggi, saya belum bisa menggaji Baby Sitter (gaji Babysitter dan ART biasa berbeda).

Ini, konsekuensi ibu bekerja. Ujung-ujungnya, saya semakin pingin resign. 😛 *tapi nek ga kerjo, ga duwe duit, piye jaaal??? mbuuh…*

Untukmu, Mbak…

semoga Allah Swt memberikan kemudahan kepada Mbak Ari, memberikan kesehatan yang prima, ketenangan batin dan pikir, kelapangan dada dan keluasan rezeki. Semoga niat muliamu diganjar Allah Swt dengan pahala berlipat, dihadiahi-Nya dengan anak-anak yg sehat dan bahagia. Semoga penuhnya waktumu mengurus keluargamu, Mbak, menuai keridloan Allah dan keridloan suami. Semoga Allah Swt dan suamimu, Mbak, semakin cinta kepadamu… amiin, amiin, amiin….

Menahan tangis aku menuliskannya.

Itu do’aku untuk seorang kawan yang esok hari sudah tidak bekerja di kantor ini, Cuti di Luar Tanggungan Negara (sebelumnya dia berniat mengundurkan diri, resign, tapi ditolak sama atasannya). Baik-baik ya Mbak, aku akan merindukanmu,  tentu.

Gendong dan Bayi Stres (tulis ulang)

Tahukah Anda, menggendong bayi menghadap ke depan dapat berdampak negatif pada pertumbuhannya?

Menurut studi dari Dundee University, Inggris, bayi yang sering digendong dengan wajahnya menghadap ke depan rentan mengalami perkembangan yang naik turun sehingga saat dewasa kelak cenderung memliki tingkat kecemasan tinggi. Efek yang sama juga terjadi ketika menggunakan kereta dorong bayi.

“Bayi yang dipangku menghadap ke depan dan kereta dorong menciptakan situasi yang sangat menegangkan,” kata Profesor Catherine Fowler.

Sebaliknya, bayi yang digendong secara tradisional cenderung tertawa, mendengarkan ibu, dan tertidur menghadap ibunya sehingga tingkat stres rendah. (Daily Mail/*/X-5)

Tulisan di atas adalah hasil saya menulis ulang, mencontek dari harian Media Indonesia, hari Rabu tanggal 24 Agustus 2011, halaman 1 rubrik ‘PAUSE’.

~***~

Saya baru tahu loh perihal tersebut di atas. Karena menarik maka saya catat di sini.

Mungkin tidak berlaku secara umum ya, karena ada juga bayi-bayi yang nyaman-nyaman saja di kereta mereka. Atau mereka senyam-senyum saja digendong menghadap ke depan.

Namun demikian, hal ini patut kita perhatikan juga. Di saat bayi membutuhkan dekapan kita, tentu saya sebaiknya segera kita dekap dan gendong mereka, dengan kasih sayang.

Saya jadi teringat yang disampaikan Bu Elly Risman (dan rekan-rekan di Yayasan Kita dan Buah Hati, dalam seminar/pelatihan dan rekaman acara Dear Parents di radio), bahwa bayi sudah mengenal ibunya sejak dalam kandungan melalui suara sang ibu. Di awal kelahiran bayi belajar mengenali ibunya melalui suara, sentuhan, dan juga wajah.

Bayi-bayi dengan ibu yang selalu mendampingi (full-time-mom) saya rasa lebih beruntung daripada yang ibunya bekerja. Mengapa? karena di usia yang ketiga bulan, bayi sudah berpisah dengan ibunya yang bekerja, meski hanya beberapa jam. Bayi dengan ibu bekerja harus beradaptasi dengan wajah baru yang mengasuhnya, padahal sebelumnya dia sudah akrab dengan wajah ibunya, termasuk juga suara, sentuhan dan buaian.

Menurut para ahli jiwa, manusia itu memiliki rasa cemas sejak awal, berkaitan dengan cemas akan wajah asing dan perpisahan. Bayi usia 0-3 bulan, matanya belum fokus menatap wajah orangtua. Jadi untuk benar-benar mengenali wajah Ayah-Ibu bayi-bayi membutuhkan waktu yang lama. Belum juga akrab benar dengan wajah ibu, bayi kemudian diasuh orang lain, sehingga mereka merasa cemas dengan wajah asing dan perpisahan.

Jadi tanpa disadari, kita sudah menanamkan kecemasan/stres kepada bayi kita…

Ujung-ujungnya, tulisan ini membuat saya tenggelam dalam dilema… 😦

ASI

Tahu ga? Bisa memberikan ASI-Ex itu suatu perjuangan buat ibu bekerja.

Yang harus disiapkan adalah… yang pertama dan utama, niat! Supaya punya niat memberikan ASI-Ex, ketahui dulu apa manfaat ASI bagi bayi, monggo dicek di sini, di situ, juga di sana (dan masih banyak lagi informasi mengenai keunggulan ASI di internet). Kalo sudah tahu, pasang niat kuat di hati ya, untuk tetap memberikan ASI, meskipun ibu kembali bekerja.

Niat udah ada nih, sekarang cari tahu caranya supaya bisa tetap memberikan ASI meskipun ibu kembali bekerja. Intinya ada 2 hal yang harus dilakukan, yaitu memerah ASI dan menabung ASI Perah (ASIP) sebelum kembali bekerja dan selama berada di tempat kerja.

Hah, ribet yaa..? Aaah, enggak koooq… kan udah ada niat. Ada kemauan, pasti ada jalan.

Trus, cari tahu tentang teknik memerah ASI dan menabung ASIP. Di internet udah bertebaran tuh informasinya, salah satunya adalah milis asiforbaby.

Selama masa menyusui, pergi ke kantor pasti mbawa “peralatan perang”. Cooler bag plus Ice gel, sapu tangan, dan 4-6 botol ASIP. Saya ngga bawa pompa ASI karena saya memompa dengan tangan. ASIP saya simpan di kulkas. Alhamdulillaah ada kulkas di kantor, jd cooler bag dan ice gelnya digunakan saat dalam perjalanan pulang kantor saja (1-1.5 jam).

Hambatannya apa? Hambatan terbesarnya adalah ketika semangat memerahnya menurun karena sedang diburu pekerjaan, atau karena memang sedang malas. Hehe. Alhamdulillaah ada teman-teman seperjuangan, bisa saling menyemangati. Atau, bayangkan saja wajah bayi kita di rumah, ah dia sedang menanti, merindukan kita, dia butuh kita karena (tentu) makanan dia ada di kita. Hehe. Ga tega kan kalo harus menggantinya dengan susu sapi???

Jadi, ibu bekerja dan ingin memberikan ASI-Ex? Bisa banget…!!