Perewangan

Berangkat dari rumah, saya sudah berniat, hari ini mau kerja (jadi selama ini???). Maksud saya, saya tidak berencana menambah postingan di blog ini. Namun, pembicaraan dengan teman di area toilet perempuan, mengusik hati dan pikiran saya.

Tarik napaass….

Salah seorang teman saya, kembali memulangkan Asisten-nya (Asisten Rumah Tangga). Kenapa lagi? karena, si anak mengeluhkan pipinya yang sakit karena telah dipukul oleh si asisten. Duuh, sediiih, bercampur geram dengernya.

“Tuh, Mamaray, hati-hati sama pembantu…!”, pesan teman saya. Hiyaaa, huwaaa 😦

Sama juga dengan teman yang tadi, saya juga sudah sering gonta-ganti asisten. Macem-macem sebabnya. Karena si mbak menikah, si mbak ga betah, si mbak gak saling akur (ketika ada dua asisten di rumah), hingga saya PHK si mbak karena galak sama anak-anak, juga kedapatan mencuri pulsa telepon rumah. Urusan perewangan (rewang = asisten, bukan jin, hihihihi) ini memang cukup menguras pikiran dan perhatian. Karena mereka sewaktu-waktu bisa minta pulang, dsb. πŸ˜›Β  secara saya ngga bisa membeli loyalitas mereka dengan gaji yang terlalu tinggi, saya belum bisa menggaji Baby Sitter (gaji Babysitter dan ART biasa berbeda).

Ini, konsekuensi ibu bekerja. Ujung-ujungnya, saya semakin pingin resign. πŸ˜› *tapi nek ga kerjo, ga duwe duit, piye jaaal??? mbuuh…*

Iklan

9 thoughts on “Perewangan

  1. kuwi jenenge tantangan urip mbakyu. yen tantangan kuwi dihindari dengan resign atau dengan cara lain, pasti enek tantangan liyane sing mbarai awake dhewe kie mumet plus puyeng. btw, kanca kantor sing ngulihne rewange kuwi pancen si rewange wes gak betah, wes pengen metu tapi gak oleh. karena gak betah tapi gak boleh pisah, akhirnya bikin ulah….
    Sing akeh dongane, supoyo Allah sing kuwaos njaga arek2 cilik sing neng omah. Ojo lalu moco robithoh ngge rewange.
    Dadi, bisnis apa kita sekarang? hehehehe…


    re : hu’uh, musti banyak berdoa.
    bisnis? biasalaah… hehe

    Suka

  2. Ini curhat para Ibu Rumah Tangga yang bekerja …
    dan ini sangat beralasan …
    Memang sering kali saya mendengar … banyak dari kita yang direpotkan dengan tingkah Asisten yang seperti MamaRay tulis …

    Dan kalau boleh saya tambahkan keluhan teman-teman … yaitu … Pacaran !
    (dan pacarnya diajak masuk ke rumah …)(hhhmmmm ….)

    Alhamdulillah kami belum (dan jangan sampai) pernah mendapatkan asisten seperti itu … yang ada adalah … Habis lebaran … tidak kembali lagi … cari lagi … ngajari lagi …
    Dan Alhamdulillah lagi … Anak-anak kami sudah relatif besar … sehingga ada yang bisa di “karyakan” … (termasuk Bapaknya …)(semua dikaryakan …).

    Salam Saya Mamaray


    re : iya beneer, pacaran juga sering dikeluhkan. heheheh…
    memang harus sabar Om. Alhamdulillaah ya kalau suami dan anak-anak pengertian seperti di keluarga Om. πŸ™‚

    Suka

    • kalo udah kayak gini pinginnya anak2 cepet besar biar bisa crita kalo diapa2in sama pembantu, ato skalian aja ga usah pake pembantu, semua dikaryakan…


      re : iya Mbak, pengennya segera tuntas ya. Tapi ternyata semua perlu proses… πŸ˜€

      Suka

  3. semoga dapat jalan terbaik bun , baik resign ataupun tidak.


    re : amiin. terima kasih doanya ya, Mam.
    terima kasih sudah mengerti kata hati saya.
    thanks Mbak Lid πŸ™‚

    Suka

  4. Yakinlah semua ada jawabannya, kadang kita terlalu jauh mencari jawaban padahal kadang jawaban itu ada di dekat kita, kalau anda mau resign yakinlah itu jawaban yang tepat untuk anda dan itulah pilihan anda.


    re : makasih masukannya, Ndi…

    Suka

  5. Saya sekarang gak pakai asisten karena mencari asisten ternyata sulit.

    Jaman sekarang anak2 lebih suka kerja di pabrik atau toko atau dimana saja asal bukan jadi asisten. Walaupun diperhalus menjadi PRT, Nanny, Asisten mungkin mereka malu jika jabatan mereka diberi istilah-istilah aslinya : babu, bedinde, jongos, gedibhal ( kata Nunung Srimulat).

    Walau gajinya mungkin lebih rendah, mereka lebih senang jika disebut sebagai : customer service di rumah makan,di toko,dll atau public relation ( purel ha ha ha ha..dimana hayooooo?

    Pulang mudik tidak kembali, nikah, gak krasan, nyolongan, ngrumpian dan pacaran adalah alasan mengapa saya sering kehilangan PRT>

    Salam hangat dari Surabaya


    re : ow ow ow… Pakde juga merasakan kesulitan juga ya…

    iya bener, De, kadang mereka ngga mau juga jauh dari keluarga. Kalo bersedia jauh ya sekalian jadi TKW ke luar negeri, gajine kan luwih akeh, De…

    Suka

  6. Pengalaman dalam hal perewangan bu…. Kalau nyari yg sempurna itu susah. Akhirnya… asal telaten momong anak dan cocok…yo..wis…. gak pinter masak atau ngepel gak bersih… akhirnya gak jadi masalah…soalnya kalau diajari juga belum tentu bisa… (bakat ga bisa masak kali..)
    Ada tambahan nih mamaray….. paling khawatir kalau ada tugas luar kota (pertemuan/pelatihan)… belum apa-apa sudah stres…..minta ijinnya ke suami…. nitipin anak2 ke asisten…..
    Persiapan mau tugas luar kota gak kalah heboh… misal beli susu (biar gak kehabisan), perlengkapan2 lain yang mau habis.dan kasih tips buat asisten..


    re : ya, memang Bu Nuning. Setiap ibu bekerja tentu sudah pernah berurusan dengan perewangan. Dan memang, butuh pengertian dari kita juga ya, karena mereka tidak bisa 100% ‘sempurna’ dalam pekerjaan.

    Semoga anak-anak dan keluarga tetap dalam penjagaan Allah ya Bu, mengingat beberapa kejahatan juga melibatkan ART/Pengasuh anak. Na’udzubillaah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s