Matur Nuwun

Semalam, setelah saya sampai di rumah, ART kami pamit pulang karena jam kerjanya memang sampai saya sampai di rumah, Pergi-Pulang.

Iya, Mbak, silahkan. Matur nuwun ya, Mbak.

Tiba-tiba Si Mas nyeletuk, “Mama, matur nuwun itu apa?”

Hahaha… Matur nuwun itu terima kasih, Nak.

(Wah, bisa-bisa bahasa Jawa tidak lagi dimengerti oleh keturunan kami karena tidak dipakai dalam percakapan dengan anak-anak) πŸ˜›

Tsa

Alhamdulillaah… Hari Jum’at malam, pertama kali Mama dengar Kakak melafalkan Tsa (huruf Hijaiyah) dengan benar. Sebelumnya Tsa masih terbaca Sa.

Terima kasih Allah, atas izin dan karuniaMu ini.

Dan Kakak, good job…!


mobile wordpress

Prioritas

Kamis pekan lalu, si kecil Ulung demam, batuuuk sampe napasnya berat. Hari Sabtu sore baru dibawa ke dokter. Dahaknya banyak. Itu yang bikin napasnya berat. Dokter memberi resep obat batuk, tanpa antibiotik. Juga merujuk ke bagian fisioterapi buat inhalasi (diuap). Hari Senin aku udah ijin gak ngantor, karena mau bawa Ulung inhalasi lagi, semaleman masih demam dan masih batuk grak-grek.

Aku berharap Senin ini anak-anak bisa ‘tertib’ seperti biasa tanpa ada aku (aku biasanya berangkat pagi-pagi, maklum rumah jauh dari tempat kerja). Oh ternyata aku harus sedikit kecewa, karena Kakak mogok sekolah lagi. Dan problemnya sama, Kakak bertugas jadi khalifah! ( Ya Allah, Naak… sabar, sabar, sabar….! )

Oke.. Kakak nggak sekolah. Dan Adik kurang sehat. Jadi, aku harus menentukan prioritas. Baiklah, aku tidak marah. Adik saja didahulukan. Aku berdamai dengan hatiku sendiri. Aku memaafkan Kakak. Aku fokus dengan rencana membawa Adik ke rumah sakit.

Haaahh, dengan memilah-milah masalah seperti ini, pikiran jadi lebih tenang… Dan aku bisa tetap bersikap lembut sama Kakak, meskipun tetap saja ya, masalah mogok sekolah ini harus dipikirkan solusinya.

 

 

 

Tamu Kendari

Ψ§Ω„Ψ³Ω‘ΩŽΩ„Ψ§ΩŽΩ…Ω ΨΉΩŽΩ„ΩŽΩŠΩ’ΩƒΩΩ…Ω’ ΩˆΩŽΨ±ΩŽΨ­Ω’Ω…ΩŽΨ©Ω اللهِ ΩˆΩŽΨ¨ΩŽΨ±ΩŽΩƒΩŽΨ§Ψͺُهُ

Mau berbagi bahagia nih, Kawan…

Tadi pagi, sembari mengembalikan jualan teman, kain Batik Madura, aku bawa juga jualanku, bros. Hal yang biasa bila sesama pedagang saling menjualkan, heheheh. Ketika menggelar lapak, masuklah seorang bapak, teman sejawat, dari Kendari.

“Eeh, apa ini? Lucu-lucu. Aku beli ya, buat istriku, mungkin dia bisa mencontoh”, kalimat Si Bapak ketika melihat lapak kami.

Hihihi. Alhamdulillaah, dibelilah 2 buah bros. Yippiee, seneeeeng. Hasil karyaku (dan Emakku, tentu) disukai orang. Terima kasih ya, Pak…. πŸ˜€


mobile wordpress

Khalifah

Hari Selasa kemarin, sementara lagi di atas boncengan motor menuju Lapangan Banteng, jam 7 pagi lewat sekian menit, handphone berdering. Ah, nada deringnya khas panggilan telepon rumah.

“Bu, Kakak ngga mau sekolah… masih ngantuk katanya…”, pengasuhnya menyampaikan kabar.

( Ah… terjadi lagi… ada apa, Nak…?? 😦 )

“Ngantuk, Mama…”. Hm… baiklah. Hari ini Kakak nggak masuk sekolah. Belajar dan bermain di rumah saja.

Otakku mulai bertanya-tanya. Tumben. Ya memang dulu pernah sih dia mogok sekolah, waktu di TK A ( mungkin kali lain aku akan ceritakan juga di sini ). Apa bener hanya karena mengantuk? Setahuku, sejak di TK B, Kakak belum pernah nggak sekolah dengan alasan seperti ini. Bangun paginya juga seperti biasa, hanya memang dia tadi pagi kurang bersemangat. Aku curiga.

Baca lebih lanjut