Reuse : Botol Bekas

Saya menggunakan botol kaca bekas creamer dan selai coklat sebagai pot. Isi air dan masukkan tanaman (yang bisa hidup dengan media air saja). Berfungsi sebagai penghasil oksigen, juga memperindah ruangan (bahkan toilet, heheehe…)

Oiya, jangan lupa sesekali dijemur di bawah sinar matahari agar warna daun tidak pucat.

Selamat mencoba… πŸ™‚


mobile wordpress

Mother, How Are You…?

Mother, how are you today?

Masih kuingat, 1 Juni lalu, Emak saya yang berusia 65 tahun, terjatuh ketika hendak menggendong Si Bungsu. Ach, saya selalu merasa sangat bersalah setiap kali mengingatnya. Akibatnya, Emak saya fraktur tulang belakang. Sediiiih…

Selama beberapa hari Emak saya tidak bisa ke mana-mana, hanya di tempat tidur saja. Mau bawa ke RS juga ragu-ragu kalo mau pake mobil. Alhamdulillaah, tetangga saya adalah seorang dokter di RS Hermina Bekasi. Dengan kemudahan dari Allah, dan bantuan dari tetangga, Emak dibawa ke RS menggunakan ambulance (mengangkat tubuh Emak pun dengan alat tandu khusus).

Lagi-lagi harus banyak bersyukur, karena Allah memberikan kemudahan, mempertemukan kami dengan dokter-dokter baik yang memberikan informasi dengan jelas. Bahkan menggratiskan pelayanan. Alhamdulillaah. Mungkin karena kami ditemani tetangga saya tadi. (Terima kasih, Dokter…)

Selanjutnya, untuk beraktifitas Emak saya harus menggunakan korset khusus, agar punggung beliau selalu dalam keadaan tegak, meminimalkan tekanan pada tulang yang cedera. Emak saya yang tadinya aktif, kini harus lebih banyak bersabar. Alhamdulillaah, Emak saya sangat sabar, berusaha ikhlas dan berbaik sangka kepada Allah.

Lebaran Idul Fitri tahun ini, Emak dan Bapak tidak pulang. Agak sedih sih, tapi demi kesehatan, beliau ikhlas tidak pulang dulu. Setelah libur lebaran, Emak periksa lagi ke RS. Kondisi beliau sudah jauh membaik. Emak sudah bisa sholat dengan berdiri seperti biasa (lebih sering sholat dengan duduk, karena sewaktu Ruku’ masih terasa sakit). Emak sudah jauh lebih tenang dan ceria. Sudah bisa melakukan aktifitas ringan, dengan berdiri tentunya (sementara ini belum bisa nunduk-nunduk dulu ya, Mak).

Sekarang Emak sudah pulang ke Sidoarjo. Rumah agak sepi. Saya jadi kangen ngobrol-ngobrol dengan beliau, membahas apaaa saja. Sekali waktu kami membuat kreasi flanel. Namun, kini saya “kehilangan” partner berkreasi. Kalau ada Emak di sini, segala persoalan terasa ringan. Curhat apapun, pasti ada solusi.

(Ach, Mak, saat-saat merawatmu, adalah saat yang membahagiakanku. Lekas pulih kembali ya, Mak… Semoga Allah memberkahi setiap aktifitasmu. Aamiin.)