Aku Berangkat Sendiri

Aktifitas pagi sejak tahun ajaran baru ini, saya mengantar 3 anak sekaligus ke 2 sekolah berbeda. Motor Beat putih kesayangan itu harus ditunggangi oleh 3 bocah dan 1 ibu hamil. Rasa-rasanya udah ngga muat aja :p

Karena saya masih mampu untuk antar, juga Kakak R dan Mas A yang belum mau berangkat sekolah sendiri (karena harus naik angkot dan menyeberang jalan raya), sekaligus rasa ngga tega kepada Mas U yang masih tergolong murid baru di SDnya, maka saya masih mengantar mereka.

Namun pagi ini ketika semua sudah siap berangkat, tiba-tiba Mas U bilang, “Aku berangkat sendiri saja… naik sepeda”.

MaasyaaAllaah, jagoan Mama sudah berani bersekolah sendiri. Baarakallaahufiik, Nak.

Seketika hati saya menjadi hangat. Mengapa sekarang malah Mama yang mellow melihat lambaian tanganmu sebelum kau mengayuh sepedamu 😦

Dari sekolah kakak-kakaknya, saya mampir ke sekolah Mas U. Saya lihat sepatunya di rak. Alhamdulillaah dia sudah di dalam kelas. Saya juga mengabarkan ini kepada Bu Gurunya.

Hari ini, Jum’at, Mas U pulang jam 14. Saya jemput saja meski dia bersepeda. Begitu melihat saya di sekolah, eh dia malah protes. Hihihi. Mamanya ditinggal jauh di belakang, dia sudah melesat ngebut pulang.

Ya Alloh, saya mohon penjagaanMu untuk Mas U, dari semua keburukan.


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day7

Bangganya Mama (Ray usia 3 tahun)

Tahun ajaran baru tahun 2009, Ray masih berusia 3 tahun. Tahun ajaran baru berarti ada banyak murid-murid baru di sekolah, dan Ray harus beradaptasi lagi. Selama kira-kira 2 minggu, Ray mulai tidak tertib seperti awal-awal dia bersekolah. Sering ke luar kelas sementara pelajaran berlangsung (duuh, kok jadi mundur begini…)

Alhamdulillaah itu hanya sementara. Setelah kelas Kelompok Bermain dibagi menjadi dua kelas dan Ray masuk kelas B, tidak terlalu banyak anak-anak baru, Ray sudah kembali tertib.

Suatu waktu ada acara perayaan Hari Kartini di sekolah. Semua murid harus memakai pakaian adat nusantara. Mama mulai mencari tempat sewa pakaian seperti itu, dan dapat baju adat Aceh.

Mama sempat berpikir, ‘mau, nggak, ya dia memakai baju itu…?’

Dan benar saja, awal-awal dia tidak mau mencoba baju itu. Bajunya panas, terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat. Warnanya hitam pula. Hm, gimana ya…

Malam sebelum hari H, Mama dan Ayah bergantian meyakinkannya bahwa baju itu bagus, besok akan ada perayaan di sekolah.

‘Mau ya, besok ke sekolah pake baju bagus itu… Teman-teman Kakak semua pakai baju bagus juga lho…’

Dibujuk-bujuk…

Ray mengangguk…

Hari H, Mama ijin datang terlambat ke kantor, demi melihat anak Mama tampil di sekolah, dengan pakaian adat! (rela potong gaji deh heheheh πŸ™‚ )

kartono-an Acara di sekolah dimulai dengan pawai keliling komplek sekolah. Hihihi, meski peluh deleweran di keningnya, rambutnya pun basah oleh keringat (Mama tahu Ray kegerahan), tapi dia tetap bertahan, tidak mengeluh, tidak minta lepas tutup kepala. Kakak hebat deh!

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan semacam peragaan busana. Anak-anak berjalan dan bergaya di atas catwalk. Ray mengantri karena dia dapat nomer 17. Satu demi satu temannya bergaya, lucu sekali ya anak-anak itu… πŸ™‚ Melambaikan tangan, noleh kanan-kiri, terakhir di ujung catwalk, di depan Para Guru yang bertugas sebagai dewan juri, menutupkan kedua tangan di dada dengan sedikit membungkuk (ini standar yang diajarkan Bu Gurunya).

Hm, Raynar bisa ga ya bergaya seperti itu…

Mama memberi contoh, meyakinkannya bahwa dia bisa melakukannya (tapi tetep kuatir dia pemalu). Dan giliran Ray maju ke depan… Hasilnya, dia tidak malu-malu bergaya, tersenyum terus dia! Mama menyemangatinya… (dalam hati mama bersorak kegirangan!)

Ah, Nak… sampe hampir menangis Mama melihatmu tampil. Kakak melakukannya dengan berani dan percaya diri. Kakak hebat!

Maafkan Mama yang sedikit sangsi akan kemampuanmu (tentu Mama tidak akan bilang padamu waktu itu)… Mama salah, karena Kakak Ray sudah membuat Mama bangga luar biasa! Ya, bangga luar biasa!