Belajar Naik Angkot

Sejak tahu saya hamil, maka saya dan suami sudah mulai sounding ke Kakak R dan Mas A agar naik angkot untuk berangkat dan pulang sekolah. Rencana ini pun mulai didengungkan lebih intensif lagi sejak libur sekolah. Kepada Mas U pun, sudah mulai disounding bahwa dia nantinya akan berangkat-pulang sekolah sendiri dengan naik sepeda.

Kakak R sekarang kelas 6 SD, Mas A kelas 4, dan Mas U kelas 1. Suami saya sudah berpikir bahwa anak lelaki kami harus mulai mandiri. Terutama Kakak R, usia SMP nanti (baligh) dia sudah bisa pergi-pergi sendiri. Maka mulailah kami melatihkan skill yang satu ini pas saat tahun ajaran baru ini, pas kondisi saya demikian. Jika bayi kami lahir, otomatis saya tidak bisa leluasa mengantar-jemput sekolah mereka.

Kakak R dan Mas A bersekolah di tempat yang sama, jaraknya sekitar 3 Km dari rumah, melewati jalan raya yang ramai. Sedangkan Mas U di sekolah lain yang lebih dekat jaraknya, letaknya di kampung, sehingga dia bisa bersepeda saja untuk sekolah.

Dua hari sebelum sekolah dimulai, saya mengajak Kakak R dan Mas A untuk belajar naik angkot. Pada awalnya mereka tidak terlalu setuju dengan ide ini. Mereka mengusulkan untuk ke sekolah naik ojek langganan, ojek online, atau mobil jemputan sekolah.

Oh, Anakku, sesungguhnya Ayah dan Mamamu hendak membekalimu dengan sesuatu yang kelak kamu butuhkan, yakni bertahan dalam situasi yang kurang nyaman. Maka bersabarlah…! πŸ™‚

Latihan pertama ini berjalan lancar, meski Mama harus merogoh kocek lagi untuk syarat yang mereka ajukan ; mampir toko mainan.


#Level2 #Tantangan10 Hari #BunsayIIP #Day3

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s