Kardus : Parkir Mobil

Beberapa waktu yang lalu, di rumah ada banyak kardus kemasan makanan ringan (Stik Keju) yang saya jual. Maka saya mulai mencari referensi di Instagram untuk memanfaatkan kardus-kardus itu.

Si Tengah bersemangat sekali waktu melihat foto di Instagramnya pinkstripeysocks ini. (Hi, Leslie, thank you for sharing ^^ )

Jadi kami membuatnya juga. Bahan dan alatnya yaitu kardus bekas, penggaris (bila perlu), lem, gunting, cat, kuas, dan kertas bekas.

Kertas bekasnya digunakan untuk membalut tiang-tiangnya, supaya lebih rapi.

PhotoGrid_1435939720623

sudah diunggah di Instagram @andarucraft

Naah, ini gampang lho. Selamat mencoba…!Β  ^^

Botol Bekas : Mobil-mobilan

Masih bercerita tentang kegiatan bikin-bikin-nya kami di hari Sabtu lalu nih. Sementara Mama dan anak-anak menunggu Bunga Warna-warninya jadi, Ayah membantu anak-anak membuat mainan mobil-mobilan.

Idenya berasal dari majalah langganan kami, Mombi SD, edisi kapan udah ngga terlacak karena sampulnya sudah terlepas.

Bahan dan alat :

  • botol plastik bekas
  • karet sandal bekas
  • gunting
  • pisau dan alat tajam sejenis untuk melubangi botol
  • lidi
  • tali (untuk menarik mobil-mobilan)

Dengan melihat gambar di bawah ini, saya yakin Ayah dan Bunda udah kebayang cara bikinnya.

mombi

ini gambar di majalah Mombi SD

gunting karet sandal, bentuk lingkaran (untuk roda)

gunting karet sandal, bentuk lingkaran (untuk roda)

jadi deh mobil-mobilannya

jadi deh mobil-mobilannya, tapi talinya belum terpasang

Terima kasih ya, Ayah, udah membuatkan mainan untuk anak-anak. Anak-anak suka sekali. πŸ™‚

Percobaan : Membuat Bunga Berwarna-warni

Sabtu kemarin, kami seru-seruan bermain dan bikin-bikin (istilah ini nyontek dari Mbak Retno) πŸ™‚

Idenya berasal dari buku EncyclopeBee terbitan Pustaka Lebah, bertema Amazing Experiments with Everyday Materials.

Judul eksperimen kami adalah Membuat Bunga Berwarna-warni.

Bahan dan alat yang dibutuhkan, alhamdulillaah tersedia di rumah, yaitu bunga berwarna putih, pewarna (kami menggunakan pewarna makanan), dan gelas bening.

petik_bunga

Si Sulung dan Si Tengah memetik bunga mawar putih yang tumbuh di taman mungil kami

Caranya : isi setiap gelas dengan air, tambahkan beberapa tetes pewarna makanan. Satu gelas untuk satu warna ya. Aduk hingga tercampur rata. Kemudian letakkan bunga putih di tiap-tiap gelas. Kami menggunakan warna ungu, merah, biru, dan kuning.

4_bunga

Dan inilah yang kemudian terjadi…

Setelah 30 menit, bunga di gelas berisi air biru berubah warna menjadi biru. Begitu juga gelas berisi air merah, bunganya bersemu merah muda. Sementara dua bunga lainnya tidak berubah warna, mungkin karena warna kuning dan ungunya kurang pekat.

bunga_30menit

Akhirnya dua bunga yang masih berwarna putih, kami masukkan ke gelas berisi air biru dan merah.

Setelah beberapa jam, semua bunga bersemu biru dan merah muda, seperti foto di bawah ini. Bahkan putiknya jadi berwarna biru dan merah mudah loh. Cantik kan…?

bunga warna

Dan untuk pertama kalinya nih, Si Sulung mencatat kegiatan percobaan kali ini. Mamanya telat ngajarin, hihihi. Catat di buku. Mulai dari Bahan dan Alat, Prosedur Percobaan, sampai pada Hasil, dan Kesimpulan. Sementara ini masih nyontek di buku EncyclopeBee-nya ya, Kak. Ngga papa, yang penting udah memulai belajar mencatat yah.

Ini kesimpulan percobaan kami (nyontek di buku) :

Bunga membutuhkan air untuk hidup. Air bergerak ke atas melalui jaringan vaskular yang ada di batang. Saat air sampai ke atas, bunga yang berwarna putih akan sedikit berubah warna tergantung dari warna air yang diserap.

Jaringan vaskular yang ada di batang terdiri atas Floem dan Xylem. Floem membawa makanan dari daun ke seluruh bagian tumbuhan. Sedangkan Xylem membawa air dan mineral dari bawah (akar) ke atas.

Naah, ada yang tertarik bereksperimen seperti kami? Selamat mencobaaa…!

Flanel : Alat Bantu Belajar Berhitung

~ Bismillaah ~

Kali ini saya mau berbagi pengalaman tentang membantu Si Sulung belajar berhitung. Sekarang Si Kakak ini udah naik kelas 3 loh, tetapi cerita tentang belajar berhitung di kelas 1 yang lalu baru ditulis sekarang. Hehe, ngga papa ya.

Dulu itu, sewaktu pelajaran Matematika tentang penjumlahan sederhana yang tidak lebih dari 10, Si Kakak lebih mudah mengerti. Namun, ketika sudah mulai Penjumlahan dengan metode Menyimpan, kayaknya dia memerlukan waktu dan usaha yang lebih banyak.

Saya sudah membantu dengan menuliskan di kertas/buku, papan tulis juga, tetapi sepertinya dia masih mengalami kebingungan.

Saya berpikir, Si Kakak ini lebih mudah mengerti kalau yang dia pelajari berbentuk nyata, bisa dilihat, atau mungkin diraba. Cenderung visual gaya belajarnya. Kalau dengan coret-coret di kertas/papan pun belum banyak membantunya, maka saya harus cari cara lain.

Akhirnya saya membuatkan angka 0 sampai dengan 9, menggunakan flanel-flanel yang ada di rumah. Masing-masing angka, 5 buah banyaknya (3 buah saja juga cukup). Cara menggunakannya ya sama saja dengan menuliskannya di kertas/buku, hanya saja ini angka-angkanya bisa diraba, warna-warni, bisa lebih asyik belajarnya karena bisa sambil main-main.

angkahitungAlhamdulillaah, dengan alat bantu angka-angka flanel ini, Si Kakak bisa lebih mudah mengerti konsep penjumlahan.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman πŸ™‚

~ Selamat berakhir pekan ~

Sumuk

Maghrib tadi, aku dan Si Kakak bersiap sholat di kamar. Tiba-tiba dia bilang, “Ma, sumuk, Ma”.

Eit, aku kaget. Dia udah tahu sumuk, hihi.

“Iya, sumuk itu gerah, Ma…”

Aku senyum-senyum sendiri. Anak-anak memang peniru.


mobile wordpress

Majalah, Bonus, dan Bingkai

Beberapa bulan yang lalu, saya baru menemukan majalah anak-anak yang asyik dan seru. Kakak dan Mas juga menyukai majalah ini. Tidak hanya berisi cerita bergambar loh. Hampir di setiap halamannya, anak diajak untuk berkreasi, mulai dari mewarnai, menggunting, menempel.

Tampilannya penuh warna. Jenis dan ukuran tulisan juga bervariasi, sehingga tak membosankan untuk dibaca. Yang membuat lebih seru adalah adanya bonus pernik-perniknya. Mulai dari stiker sampai manik-manik. Ohya, pensil warna juga pernah diselipkan sebagai bonus. Anak-anak diajak untuk berkarya dan menjadi kreatif.

Tapi bagi saya pribadi, masih ada sedikit yang kurang dari majalah ini. Karena bukan majalah Islam, tentu saja, tema-tema di majalah ini juga bersifat umum. Sehingga saya tetap ‘pilih-pilih’. Kalau temanya kurang sreg di hati saya, saya ngga beli, hehehhe. Nama majalahnya adalah Charlie and Lola.

Kami pernah bermain asyik menggunakan satu lembar halaman majalah ini. Menggunting, menempel, sampai jadi gambar yg bagus. Supaya Kakak dan Mas punya masing-masing satu, saya bagi dua halamannya (hehehhe, ngirit). Silahkan ditempel sendiri ya, Kakak dan Mas, mama membantu merapikan saja.

Setelah rapi, baru deh disisipkan di bingkai foto kecil yang Mama beli waktu cetak foto beberapa waktu sebelumnya. Punya Kakak yg bingkainya berwarna merah. Punya Mas yang hitam. Jadi deh! Tinggal dipajang… πŸ™‚


mobile wordpress

Prioritas

Kamis pekan lalu, si kecil Ulung demam, batuuuk sampe napasnya berat. Hari Sabtu sore baru dibawa ke dokter. Dahaknya banyak. Itu yang bikin napasnya berat. Dokter memberi resep obat batuk, tanpa antibiotik. Juga merujuk ke bagian fisioterapi buat inhalasi (diuap). Hari Senin aku udah ijin gak ngantor, karena mau bawa Ulung inhalasi lagi, semaleman masih demam dan masih batuk grak-grek.

Aku berharap Senin ini anak-anak bisa ‘tertib’ seperti biasa tanpa ada aku (aku biasanya berangkat pagi-pagi, maklum rumah jauh dari tempat kerja). Oh ternyata aku harus sedikit kecewa, karena Kakak mogok sekolah lagi. Dan problemnya sama, Kakak bertugas jadi khalifah! ( Ya Allah, Naak… sabar, sabar, sabar….! )

Oke.. Kakak nggak sekolah. Dan Adik kurang sehat. Jadi, aku harus menentukan prioritas. Baiklah, aku tidak marah. Adik saja didahulukan. Aku berdamai dengan hatiku sendiri. Aku memaafkan Kakak. Aku fokus dengan rencana membawa Adik ke rumah sakit.

Haaahh, dengan memilah-milah masalah seperti ini, pikiran jadi lebih tenang… Dan aku bisa tetap bersikap lembut sama Kakak, meskipun tetap saja ya, masalah mogok sekolah ini harus dipikirkan solusinya.

 

 

 

Khalifah

Hari Selasa kemarin, sementara lagi di atas boncengan motor menuju Lapangan Banteng, jam 7 pagi lewat sekian menit, handphone berdering. Ah, nada deringnya khas panggilan telepon rumah.

“Bu, Kakak ngga mau sekolah… masih ngantuk katanya…”, pengasuhnya menyampaikan kabar.

( Ah… terjadi lagi… ada apa, Nak…?? 😦 )

“Ngantuk, Mama…”. Hm… baiklah. Hari ini Kakak nggak masuk sekolah. Belajar dan bermain di rumah saja.

Otakku mulai bertanya-tanya. Tumben. Ya memang dulu pernah sih dia mogok sekolah, waktu di TK A ( mungkin kali lain aku akan ceritakan juga di sini ). Apa bener hanya karena mengantuk? Setahuku, sejak di TK B, Kakak belum pernah nggak sekolah dengan alasan seperti ini. Bangun paginya juga seperti biasa, hanya memang dia tadi pagi kurang bersemangat. Aku curiga.

Baca lebih lanjut