Menimbang, Mengingat, Memutuskan…

Wiii… judulnya mengingatkanku pada redaksi Surat-surat Keputusan yang sering kubaca sewaktu masih ngantor dulu, hihi. Hari ini saya mau membahas lagi tentang sebab-sebab dan perjalanan resign saya karena sampai saat ini pun masih ada beberapa teman yang bertanya.

Ya memang masalah bekerja atau tidak itu membingungkan, dan bukan masalah ringan bagi sebagian orang. Termasuk saya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Sisi A dan B, sisi Plus dan Minusnya. Dan kalo hanya dihitung secara matematika, ngga akan “ketemu”. Bersyukur saya punya Allah, Maha Tahu segala hal, yang mengarahkan saya, menunjuki saya kepada jalan yang menyenangkan ini.

Saya menghabiskan waktu kurang-lebih setengah tahun untuk yakin. Selama itu saya banyak membaca, mendengar, dan melihat.Β  Baca lebih lanjut

Iklan

Fatwa Hati

Dan dari Wabishah bin Ma’bad ra, ia berkata, “Saya mendatangi Rasulullah saw, lalu beliau bertanya, ‘Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?’ Saya menjawab, β€˜Ya.’ Beliau bersabda, ‘Mintalah fatwa kepada hatimu; kebajikan adalah sesuatu yang jiwamu tenteram kepadanya dan hatimu menjadi tenang, dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di dalam jiwa dan ragu di dada, meski manusia memberi fatwa kepadamu.”

(Imam Nawawi berkata, “Hadits hasan, kami meriwayatkannya dalam dua kitab Musnad; Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi dengan isnad hasan.“)

Hadits ini dicuplik dari web majalah Ummi.

Resign III : Bukan Sampah

Apakah saya terlihat mengeluh (dengan tulisan saya yang bertema resign)? saya kok ngga merasa gitu ya. (hehehe…)

Menuliskan kata hati dan pikiran-pikiran saya di sini, sungguh tidak bermaksud “mengasihani diri sendiri” dengan mengeluhkan ini-itu. Saya hanya berbagi kata hati, barangkali saja ada pencerahan dari teman-teman. Atau mungkin… ada banyak ibu bekerja di luar sana yang punya pikiran senada dengan saya bisa merasa “punya teman”. :p

Jadi bukan sampah-menyampah, Kawan. Ini kata hati yaaang…manusiawi kan?


Perewangan

Berangkat dari rumah, saya sudah berniat, hari ini mau kerja (jadi selama ini???). Maksud saya, saya tidak berencana menambah postingan di blog ini. Namun, pembicaraan dengan teman di area toilet perempuan, mengusik hati dan pikiran saya.

Tarik napaass….

Salah seorang teman saya, kembali memulangkan Asisten-nya (Asisten Rumah Tangga). Kenapa lagi? karena, si anak mengeluhkan pipinya yang sakit karena telah dipukul oleh si asisten. Duuh, sediiih, bercampur geram dengernya.

“Tuh, Mamaray, hati-hati sama pembantu…!”, pesan teman saya. Hiyaaa, huwaaa 😦

Sama juga dengan teman yang tadi, saya juga sudah sering gonta-ganti asisten. Macem-macem sebabnya. Karena si mbak menikah, si mbak ga betah, si mbak gak saling akur (ketika ada dua asisten di rumah), hingga saya PHK si mbak karena galak sama anak-anak, juga kedapatan mencuri pulsa telepon rumah. Urusan perewangan (rewang = asisten, bukan jin, hihihihi) ini memang cukup menguras pikiran dan perhatian. Karena mereka sewaktu-waktu bisa minta pulang, dsb. πŸ˜›Β  secara saya ngga bisa membeli loyalitas mereka dengan gaji yang terlalu tinggi, saya belum bisa menggaji Baby Sitter (gaji Babysitter dan ART biasa berbeda).

Ini, konsekuensi ibu bekerja. Ujung-ujungnya, saya semakin pingin resign. πŸ˜› *tapi nek ga kerjo, ga duwe duit, piye jaaal??? mbuuh…*

Gendong dan Bayi Stres (tulis ulang)

Tahukah Anda, menggendong bayi menghadap ke depan dapat berdampak negatif pada pertumbuhannya?

Menurut studi dari Dundee University, Inggris, bayi yang sering digendong dengan wajahnya menghadap ke depan rentan mengalami perkembangan yang naik turun sehingga saat dewasa kelak cenderung memliki tingkat kecemasan tinggi. Efek yang sama juga terjadi ketika menggunakan kereta dorong bayi.

“Bayi yang dipangku menghadap ke depan dan kereta dorong menciptakan situasi yang sangat menegangkan,” kata Profesor Catherine Fowler.

Sebaliknya, bayi yang digendong secara tradisional cenderung tertawa, mendengarkan ibu, dan tertidur menghadap ibunya sehingga tingkat stres rendah. (Daily Mail/*/X-5)

Tulisan di atas adalah hasil saya menulis ulang, mencontek dari harian Media Indonesia, hari Rabu tanggal 24 Agustus 2011, halaman 1 rubrik ‘PAUSE’.

~***~

Saya baru tahu loh perihal tersebut di atas. Karena menarik maka saya catat di sini.

Mungkin tidak berlaku secara umum ya, karena ada juga bayi-bayi yang nyaman-nyaman saja di kereta mereka. Atau mereka senyam-senyum saja digendong menghadap ke depan.

Namun demikian, hal ini patut kita perhatikan juga. Di saat bayi membutuhkan dekapan kita, tentu saya sebaiknya segera kita dekap dan gendong mereka, dengan kasih sayang.

Saya jadi teringat yang disampaikan Bu Elly Risman (dan rekan-rekan di Yayasan Kita dan Buah Hati, dalam seminar/pelatihan dan rekaman acara Dear Parents di radio), bahwa bayi sudah mengenal ibunya sejak dalam kandungan melalui suara sang ibu. Di awal kelahiran bayi belajar mengenali ibunya melalui suara, sentuhan, dan juga wajah.

Bayi-bayi dengan ibu yang selalu mendampingi (full-time-mom) saya rasa lebih beruntung daripada yang ibunya bekerja. Mengapa? karena di usia yang ketiga bulan, bayi sudah berpisah dengan ibunya yang bekerja, meski hanya beberapa jam. Bayi dengan ibu bekerja harus beradaptasi dengan wajah baru yang mengasuhnya, padahal sebelumnya dia sudah akrab dengan wajah ibunya, termasuk juga suara, sentuhan dan buaian.

Menurut para ahli jiwa, manusia itu memiliki rasa cemas sejak awal, berkaitan dengan cemas akan wajah asing dan perpisahan. Bayi usia 0-3 bulan, matanya belum fokus menatap wajah orangtua. Jadi untuk benar-benar mengenali wajah Ayah-Ibu bayi-bayi membutuhkan waktu yang lama. Belum juga akrab benar dengan wajah ibu, bayi kemudian diasuh orang lain, sehingga mereka merasa cemas dengan wajah asing dan perpisahan.

Jadi tanpa disadari, kita sudah menanamkan kecemasan/stres kepada bayi kita…

Ujung-ujungnya, tulisan ini membuat saya tenggelam dalam dilema… 😦