Belanja Sayur dan Jemuran

Hari ini ada rapat walimurid di SDnya Mas U. Mama sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Dari luar pagar terdengar suara Pak No, tukang sayur langganan, memberi kode woro-woro agar ibu-ibu berbelanja. Karena saya repot, maka saya meminta bantuan Kakak R untuk berbelanja sayur untuk melatih kemandiriannya sekaligus agar saya dapat menghemat waktu karena saya akan segera berangkat ke sekolah.

Saya menuliskan daftar belanja di sehelai kertas dan memberinya uang. Kakak R pun melakukan tugas ini dengan baik. Alhamdulillaah.

Sore ini langit gelap. Saya meminta Kakak R dan Mas A untuk angkat jemuran sementara saya melakukan hal lain. Sebelumnya saya sudah pernah mengajak mereka melakukan kegiatan ini. Terkadang saya meminta Kakak R melakukannya sendiri, namun seringnya dia tak bersedia. Alasannya, tangannya ngga nyampe. Padahal ada kursi kecil yang bisa mereka gunakan lho untuk mengambil jemuran yang dirasa tinggi letaknya. Hari ini mereka berdua bekerjasama melaksanakan tugasnya.

Baarakallaahufiikum


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day9

 

Jalan Kaki atau Becak?

Masih tentang melatih kemandirian Kakak R dan Mas A. Kakak R ini beberapa kali minta uang transport yang berlebih.

“Bawa 50 ribu dong, Ma”

Oh, belum perlu sebanyak itu, Nak. Tapi, sepertinya Mama tahu nih kenapa minta uang lebih banyak. Maka Mama memberi mereka pengertian bahwa untuk punya uang lebih, mereka berdua menyisihkan uang transport mereka. Uang naik becak, bisa digunakan untuk membeli makanan atau minuman, asalkan mereka mau jalan kaki saja menuju jalan raya.

Dan nampaknya mereka menerima usul ini πŸ™‚

Terima kasih untuk Mama Wawa dan Mama-mama lain yang udah perhatian sama anak-anak saya.

Baarakallaahufiikuma, Nak…


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day5

Botol Bekas : Mobil-mobilan

Masih bercerita tentang kegiatan bikin-bikin-nya kami di hari Sabtu lalu nih. Sementara Mama dan anak-anak menunggu Bunga Warna-warninya jadi, Ayah membantu anak-anak membuat mainan mobil-mobilan.

Idenya berasal dari majalah langganan kami, Mombi SD, edisi kapan udah ngga terlacak karena sampulnya sudah terlepas.

Bahan dan alat :

  • botol plastik bekas
  • karet sandal bekas
  • gunting
  • pisau dan alat tajam sejenis untuk melubangi botol
  • lidi
  • tali (untuk menarik mobil-mobilan)

Dengan melihat gambar di bawah ini, saya yakin Ayah dan Bunda udah kebayang cara bikinnya.

mombi

ini gambar di majalah Mombi SD

gunting karet sandal, bentuk lingkaran (untuk roda)

gunting karet sandal, bentuk lingkaran (untuk roda)

jadi deh mobil-mobilannya

jadi deh mobil-mobilannya, tapi talinya belum terpasang

Terima kasih ya, Ayah, udah membuatkan mainan untuk anak-anak. Anak-anak suka sekali. πŸ™‚

Prakarya : Rumah-rumahan

Sejak beberapa hari yang lalu Mama mulai rajin ngumpulin kotak susu bekas anak-anak. Mereka biasa minum susu UHT, jadi kami lebih sering membelinya sekalian banyak. Sebelumnya sih belum kepikir memilah sampah untuk dibikin-bikin sesuatu, selain memilah sampah dapur untuk dijadikan kompos cair.

Si Tengah (sekarang usianya 6 tahun) nih yang lebih seneng utak-atik bikin-bikin, jadi Mama bersemangat deh untuk berkreasi juga. Hari Sabtu kemarin, Mama dan Si Tengah membuat rumah-rumahan dari kotak susu.

DSC00560

Kotak susu yang sebelumnya sudah digunting sisi atasnya, dicuci bersih, kemudian ditiriskan sampai kering. Bahan dan alatΒ  lainnya adalah kertas bekas, selotip, spidol warna-warni. Juga sedikit imajinasi dan kesabaran, hihiΒ  πŸ™‚

Sisi atas kotak yang terbuka ditutup dengan selotip. Kemudian bungkus kotak dengan kertas. Tambahkan potongan kertas sebagai atap rumah-rumahannya. Kemudian digambar sesuai selera πŸ™‚ mudah bin gampang gak pake ruwet πŸ˜€

DSC00561

Yang ini contoh bikinan Mama

DSC00563

Yang ini rumah Si Tengah. Dia bikin sendiri, sesukanya. πŸ™‚

DSC00565

Ini karya Si Tengah juga, untuk diberikan ke adiknya. Tapi dia hanya menutup satu sisi saja, xixixi. Minimalis.

Dan inilah komplek perumahan kami :)

Dan inilah komplek perumahan kami πŸ™‚

Alhamdulillaah, mainan kami tidak selalu bikinan pabrik hehehe.

Selamat berkarya! πŸ™‚

Prakarya : Kapal Selam

Kemarin mulai blogwalking. Jalan-jalan… lihat-lihat… sampailah pada blognya Mbak Erikasari, pas di postingan berjudul Submarine, berbinarlah saya. Mau bikin prakarya juga ah, pas ada kotak bekas minuman kemasan juga di rumah. Si Tengah ikutan melihat-lihat dan bersemangat membuat kapal selam yang semisal dengan karya Mbak Erikasari (foto-fotonya kereeen euy, Mbak πŸ™‚ )

Saya menggunakan kotak bekas minuman, botol air mineral, sedotan, selotip, spidol, gunting, cutter. Ngga punya cat, jadi kapal kami ngga diwarnai. Ngga papa deh ya, mumpung anak-anak lagi semangat nih.

DSC00517

Buat pola lingkaran di kotak menggunakan guntingan botol. Lubangi.

DSC00518

Masukkan potongan botol ke dalam lubang di kotak

DSC00524

Lubangi tutup botol menggunakan gunting, masukkan sedotan.

DSC00527

Buat beberapa lingkaran kecil dari bahan kotak yang tidak terpakai, rekatkan di sisi kapal menggunakan lem/selotip.

DSC00553

DSC00542

Terima kasih, Mbak Erika, untuk inspirasi karyanya πŸ™‚

Matur Nuwun

Semalam, setelah saya sampai di rumah, ART kami pamit pulang karena jam kerjanya memang sampai saya sampai di rumah, Pergi-Pulang.

Iya, Mbak, silahkan. Matur nuwun ya, Mbak.

Tiba-tiba Si Mas nyeletuk, “Mama, matur nuwun itu apa?”

Hahaha… Matur nuwun itu terima kasih, Nak.

(Wah, bisa-bisa bahasa Jawa tidak lagi dimengerti oleh keturunan kami karena tidak dipakai dalam percakapan dengan anak-anak) πŸ˜›

Khalifah

Hari Selasa kemarin, sementara lagi di atas boncengan motor menuju Lapangan Banteng, jam 7 pagi lewat sekian menit, handphone berdering. Ah, nada deringnya khas panggilan telepon rumah.

“Bu, Kakak ngga mau sekolah… masih ngantuk katanya…”, pengasuhnya menyampaikan kabar.

( Ah… terjadi lagi… ada apa, Nak…?? 😦 )

“Ngantuk, Mama…”. Hm… baiklah. Hari ini Kakak nggak masuk sekolah. Belajar dan bermain di rumah saja.

Otakku mulai bertanya-tanya. Tumben. Ya memang dulu pernah sih dia mogok sekolah, waktu di TK A ( mungkin kali lain aku akan ceritakan juga di sini ). Apa bener hanya karena mengantuk? Setahuku, sejak di TK B, Kakak belum pernah nggak sekolah dengan alasan seperti ini. Bangun paginya juga seperti biasa, hanya memang dia tadi pagi kurang bersemangat. Aku curiga.

Baca lebih lanjut

Mama Capek Yaa…?

Di kamar, sepulang dari kantor, meletakkan tas, bersiap bermain sama anak-anak. Tiba-tiba Affan muncul dari balik pintu.

“Mama capek yaa…?” dengan suara lucunya dia mencoba membaca bahasa tubuhku.

Hihihi… iya, Mama capek, Nak. Tapi, mendengar ucapanmu, capek Mama hilang, Nak…. Terima kasih ya Mas Affan… *peluk*

Hampir Saja Menyerah

Pesan nasehat, kata-kata mutiara, kalimat motivasi akan sangat ‘mengena’ di hati tatkala kita memang sedang berada di posisi atau situasi yang pas denganya.

Yaa Allah, jadikan setiap tetesan ASI yang terisap malaikat kecil kami menjadi embun penggugur dosa kami, penumbuh kesalehan dan keberkahan buah hati kami, dan izinkan menjadi bulir-bulir amal yang akan menjadi bekal kami menuju ridha-Mu. Amiin. (Ariani, dr. – Penulis buku “Ibu, Susui Aku”)

Ndilalah muncul pesan itu di BBM Group ( Emak-emak Smunisda, grup teman SMA) , pas banget ketika saya hampir saja menyerah kalah.

Cita-cita saya, selama 18 bulan awal usianya, Ulung mendapat full ASI. Sementara pekan kemarin, tabungan ASIP saya hanya ngepas. Hasil perahan hari ini, diminumkan besok. In-out saja, gak ada tabungan. Saya sudah menyiapkan susu UHT bila ASIP saya masih kurang untuknya.

Alhamdulillaah, pesan di BBM membuat saya kembali bersemangat, kembali disiplin mengatur waktu. Memang, belakangan ini saya tidak disiplin. ( Huuh… ) Terima kasih ya, Emak-emak Smunisda, kini ASIP saya kembali surplus, ada tabungan lagi, nggak ngepas-ngepas lagi, hehehe.

Dan untuk ibu-ibu di luar sana yang tengah berjuang memberikan ASI, ayo semangat Buu… ASI is the best, and always be the best for babies. Teruskan perjuangan…! πŸ˜€