Botol Bekas : Mobil-mobilan

Masih bercerita tentang kegiatan bikin-bikin-nya kami di hari Sabtu lalu nih. Sementara Mama dan anak-anak menunggu Bunga Warna-warninya jadi, Ayah membantu anak-anak membuat mainan mobil-mobilan.

Idenya berasal dari majalah langganan kami, Mombi SD, edisi kapan udah ngga terlacak karena sampulnya sudah terlepas.

Bahan dan alat :

  • botol plastik bekas
  • karet sandal bekas
  • gunting
  • pisau dan alat tajam sejenis untuk melubangi botol
  • lidi
  • tali (untuk menarik mobil-mobilan)

Dengan melihat gambar di bawah ini, saya yakin Ayah dan Bunda udah kebayang cara bikinnya.

mombi

ini gambar di majalah Mombi SD

gunting karet sandal, bentuk lingkaran (untuk roda)

gunting karet sandal, bentuk lingkaran (untuk roda)

jadi deh mobil-mobilannya

jadi deh mobil-mobilannya, tapi talinya belum terpasang

Terima kasih ya, Ayah, udah membuatkan mainan untuk anak-anak. Anak-anak suka sekali. πŸ™‚

Iklan

Percobaan : Membuat Bunga Berwarna-warni

Sabtu kemarin, kami seru-seruan bermain dan bikin-bikin (istilah ini nyontek dari Mbak Retno) πŸ™‚

Idenya berasal dari buku EncyclopeBee terbitan Pustaka Lebah, bertema Amazing Experiments with Everyday Materials.

Judul eksperimen kami adalah Membuat Bunga Berwarna-warni.

Bahan dan alat yang dibutuhkan, alhamdulillaah tersedia di rumah, yaitu bunga berwarna putih, pewarna (kami menggunakan pewarna makanan), dan gelas bening.

petik_bunga

Si Sulung dan Si Tengah memetik bunga mawar putih yang tumbuh di taman mungil kami

Caranya : isi setiap gelas dengan air, tambahkan beberapa tetes pewarna makanan. Satu gelas untuk satu warna ya. Aduk hingga tercampur rata. Kemudian letakkan bunga putih di tiap-tiap gelas. Kami menggunakan warna ungu, merah, biru, dan kuning.

4_bunga

Dan inilah yang kemudian terjadi…

Setelah 30 menit, bunga di gelas berisi air biru berubah warna menjadi biru. Begitu juga gelas berisi air merah, bunganya bersemu merah muda. Sementara dua bunga lainnya tidak berubah warna, mungkin karena warna kuning dan ungunya kurang pekat.

bunga_30menit

Akhirnya dua bunga yang masih berwarna putih, kami masukkan ke gelas berisi air biru dan merah.

Setelah beberapa jam, semua bunga bersemu biru dan merah muda, seperti foto di bawah ini. Bahkan putiknya jadi berwarna biru dan merah mudah loh. Cantik kan…?

bunga warna

Dan untuk pertama kalinya nih, Si Sulung mencatat kegiatan percobaan kali ini. Mamanya telat ngajarin, hihihi. Catat di buku. Mulai dari Bahan dan Alat, Prosedur Percobaan, sampai pada Hasil, dan Kesimpulan. Sementara ini masih nyontek di buku EncyclopeBee-nya ya, Kak. Ngga papa, yang penting udah memulai belajar mencatat yah.

Ini kesimpulan percobaan kami (nyontek di buku) :

Bunga membutuhkan air untuk hidup. Air bergerak ke atas melalui jaringan vaskular yang ada di batang. Saat air sampai ke atas, bunga yang berwarna putih akan sedikit berubah warna tergantung dari warna air yang diserap.

Jaringan vaskular yang ada di batang terdiri atas Floem dan Xylem. Floem membawa makanan dari daun ke seluruh bagian tumbuhan. Sedangkan Xylem membawa air dan mineral dari bawah (akar) ke atas.

Naah, ada yang tertarik bereksperimen seperti kami? Selamat mencobaaa…!

Flanel : Alat Bantu Belajar Berhitung

~ Bismillaah ~

Kali ini saya mau berbagi pengalaman tentang membantu Si Sulung belajar berhitung. Sekarang Si Kakak ini udah naik kelas 3 loh, tetapi cerita tentang belajar berhitung di kelas 1 yang lalu baru ditulis sekarang. Hehe, ngga papa ya.

Dulu itu, sewaktu pelajaran Matematika tentang penjumlahan sederhana yang tidak lebih dari 10, Si Kakak lebih mudah mengerti. Namun, ketika sudah mulai Penjumlahan dengan metode Menyimpan, kayaknya dia memerlukan waktu dan usaha yang lebih banyak.

Saya sudah membantu dengan menuliskan di kertas/buku, papan tulis juga, tetapi sepertinya dia masih mengalami kebingungan.

Saya berpikir, Si Kakak ini lebih mudah mengerti kalau yang dia pelajari berbentuk nyata, bisa dilihat, atau mungkin diraba. Cenderung visual gaya belajarnya. Kalau dengan coret-coret di kertas/papan pun belum banyak membantunya, maka saya harus cari cara lain.

Akhirnya saya membuatkan angka 0 sampai dengan 9, menggunakan flanel-flanel yang ada di rumah. Masing-masing angka, 5 buah banyaknya (3 buah saja juga cukup). Cara menggunakannya ya sama saja dengan menuliskannya di kertas/buku, hanya saja ini angka-angkanya bisa diraba, warna-warni, bisa lebih asyik belajarnya karena bisa sambil main-main.

angkahitungAlhamdulillaah, dengan alat bantu angka-angka flanel ini, Si Kakak bisa lebih mudah mengerti konsep penjumlahan.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman πŸ™‚

~ Selamat berakhir pekan ~

Prakarya : Rumah-rumahan

Sejak beberapa hari yang lalu Mama mulai rajin ngumpulin kotak susu bekas anak-anak. Mereka biasa minum susu UHT, jadi kami lebih sering membelinya sekalian banyak. Sebelumnya sih belum kepikir memilah sampah untuk dibikin-bikin sesuatu, selain memilah sampah dapur untuk dijadikan kompos cair.

Si Tengah (sekarang usianya 6 tahun) nih yang lebih seneng utak-atik bikin-bikin, jadi Mama bersemangat deh untuk berkreasi juga. Hari Sabtu kemarin, Mama dan Si Tengah membuat rumah-rumahan dari kotak susu.

DSC00560

Kotak susu yang sebelumnya sudah digunting sisi atasnya, dicuci bersih, kemudian ditiriskan sampai kering. Bahan dan alatΒ  lainnya adalah kertas bekas, selotip, spidol warna-warni. Juga sedikit imajinasi dan kesabaran, hihiΒ  πŸ™‚

Sisi atas kotak yang terbuka ditutup dengan selotip. Kemudian bungkus kotak dengan kertas. Tambahkan potongan kertas sebagai atap rumah-rumahannya. Kemudian digambar sesuai selera πŸ™‚ mudah bin gampang gak pake ruwet πŸ˜€

DSC00561

Yang ini contoh bikinan Mama

DSC00563

Yang ini rumah Si Tengah. Dia bikin sendiri, sesukanya. πŸ™‚

DSC00565

Ini karya Si Tengah juga, untuk diberikan ke adiknya. Tapi dia hanya menutup satu sisi saja, xixixi. Minimalis.

Dan inilah komplek perumahan kami :)

Dan inilah komplek perumahan kami πŸ™‚

Alhamdulillaah, mainan kami tidak selalu bikinan pabrik hehehe.

Selamat berkarya! πŸ™‚

Prakarya : Kapal Selam

Kemarin mulai blogwalking. Jalan-jalan… lihat-lihat… sampailah pada blognya Mbak Erikasari, pas di postingan berjudul Submarine, berbinarlah saya. Mau bikin prakarya juga ah, pas ada kotak bekas minuman kemasan juga di rumah. Si Tengah ikutan melihat-lihat dan bersemangat membuat kapal selam yang semisal dengan karya Mbak Erikasari (foto-fotonya kereeen euy, Mbak πŸ™‚ )

Saya menggunakan kotak bekas minuman, botol air mineral, sedotan, selotip, spidol, gunting, cutter. Ngga punya cat, jadi kapal kami ngga diwarnai. Ngga papa deh ya, mumpung anak-anak lagi semangat nih.

DSC00517

Buat pola lingkaran di kotak menggunakan guntingan botol. Lubangi.

DSC00518

Masukkan potongan botol ke dalam lubang di kotak

DSC00524

Lubangi tutup botol menggunakan gunting, masukkan sedotan.

DSC00527

Buat beberapa lingkaran kecil dari bahan kotak yang tidak terpakai, rekatkan di sisi kapal menggunakan lem/selotip.

DSC00553

DSC00542

Terima kasih, Mbak Erika, untuk inspirasi karyanya πŸ™‚

MamaRay’s Blog, Apa Kabarmu?

foto diambil dari http://www.bounceideas.ca/blog/bid/150609/Blogging-Tools-Great-Resources-to-Help-Build-Your-Blog

Kabarku? baik-baik saja… πŸ™‚

Yaah mungkin sedikit berdebu, bau apek, atau suram, hehehhe…

Postingan terakhir di tahun 2013, sebetulnya sudah mau aktif nulis lagi. Tapi yang terjadi adalah adaaa aja halangan yang membuat berhenti ngeblog. Salah satunya adalah laptop yang rusak.

Gimana ngga rusak kalo laptopnya keinjek kaki mungil Si Bungsu. Amboi anak ulung ini memang seulung namanya πŸ™‚ aktif ke sana-sini, hobinya lompat-lompat. Alhamdulillaah sehat terus ya, Dik… πŸ™‚

Berikutnya, Ayah bawakan PC ke rumah. Horeee. Bakalan bisa ngeblog lagi. Tapi, itu ngga lama. Belum sempat posting baru, ada pemberitahuan bahwa saya ngga bisa log-in untuk sementara waktu. Oke, saya tunggu sampe beberapa hari lagi. Namun tetap saja saya ngga bisa masuk dashboard.

Saya coba masuk lewat mobile wordpress. Bisa kok. Tapi, teteeep aja lebih nyaman ngetik di keyboard komputer kan? Yo wis, akhirnya saya ngga posting, hanya approve comments dan membalasnya.

Tak puas dengan keadaan ini, saya bertanya ke seorang kawan yang beberapa hari ini woro-woroin blog barunya. Saran darinya, ganti Chrome dengan Firefox. Saya coba, dan berhasil! Yeaay! Jangan tanya saya ya mengapa bisa demikian, hihihi, saya ngga mudeng.

Alhamdulillaah ya, sekarang bisa lebih leluasa nulis lagi… ditambah sekarang blogwalking ke blog kawan-kawan baru, nambah pengetahuan dan ilmu πŸ™‚

So, Keep Calm and Blog On! *halah

(Foto diambil dari sini, terima kasih ya, Pak, Bu)

Pengalaman Pertama, Serangga Nyasar

Ahad sore kemarin, saya sedang sibuk di dapur, srang-sreng menggoreng ikan untuk makan malam. Anak-anak ramai di halaman, bermain sepak bola dan bermain sepeda.

Tiba-tiba, terdengar lengkingan tangis Si Tengah. Nangis kejer! Hah? ada apa? ada apa?

Sambil terus menangis dan memegang terlinganya, dia bilang ada sesuatu masuk ke telinganya. Dalam hati saya bersyukur, karena mendengar jeritannya saja saya tadinya kuatir terjadi sesuatu yang lebih fatal, terjatuh dengan fraktur misalnya (huh, pikiran suka macem-macem kalo udah denger nangis kejernya).

Yang ada di otak saya ketika itu, oh mungkin semut atau semisalnya yang nyasar ke telinganya. Saya ingat, dulu waktu kecil diajari (entah oleh siapa), kalau ada semut masuk telinga, cukup mengoleskan air ludah ke sisi belakang telinga, nanti semut itu akan keluar sendiri. Waktu itu saya nurut saja, sambil bersabar dengan suara grubuk2 yang ngga nyaman di telinga.

Jadi itu yang saya lakukan kepadanya. Nangisnya udah berhenti, tapi sepertinya dia masih kaget dan khawatir. Saya lanjutkan aktifitas saya di dapur. Tak lama, dia nangis kejer lagi, bilang telinganya sakit. Haduuuhhh…. Tangisannya membuat saya ikutan panik, karena Si Tengah ini kalo nangis udah heboh aja meskipun itu “hanya” berantem kecil sama kakak-adiknya. Lha ini nangis kejer karena kesakitan (dan ketakutan karena ada suara grubuk-grubuk di telinga), tambah paniklah saya.

Mendadak inget lagi, saya punya buku Dokter Di Rumah Anda, barangkali ada info di situ. Alhamdulillaah ada! di sana tertulis “Menuangkan air hangat ke telinga si anak adalah cara paling aman untuk mengeluarkan serangga yang terjebak”.

Penyunting Dr. Tony Smith Penerbit Dian Rakyat

Penyunting Dr. Tony Smith
Penerbit Dian Rakyat

Dia tampak lebih tenang dan tangisannya berhenti setelah saya membuka-buka buku itu dan membaca isinya, mungkin dia berpikir mamanya akan segera melakukan sesuatu untuknya. Air hangat, pelan-pelan saya tuang ke telinga kirinya dan tak lama kemudian ada serangga hitam bersayap keluar bersamaan dengan air yang tumpah ke luar telinga.

Alhamdulillaah… fyuuuh, legaaa…!!

Hooo, yang nyasar ke telinganya ternyata serangga seperti semut bersayap. Mungkin tadi sempet nggigit ya jadinya Si Tengah kejer kayak gitu. Ngga papa, Nak, ini pengalaman pertama, tentu saja kau khawatir luar biasa πŸ™‚

Pelajaran penting, selain cara mengatasi telingga yang kemasukan serangga, adalah betapa kita tak berdaya menghadapi gangguan, meski itu berasal dari makhluk kecil semacam semut. Jadi, saya sampaikan padanya untuk meminta perlindungan kepada Allah Ta’ala karena Dia sebaik-baik penolong dan pelindung. Salah satunya dengan mengamalkan Dzikir Pagi dan Petang.

Yuk, mari sama-sama kita rutinkan dzikirnya πŸ™‚