Syukron for Sharing

Bismillaah…

Alhamdulillaah ada internet. Saya bisa ketemu sama blog-blog bermanfaat, insyaaAllah, yang dengan senang hati berbagi ilmu, sumber bacaan, bahan ajar, tautan-tautan bermanfaat dan cerita-cerita inspiratif.

Ada ebook yang bisa dicetak di Raudhah Al-Muhibbin

Ada tautan Belajar Asyik yang dipajang di blognya Ummu Jita

Kepada beliau-beliau penulis blog tersebut, jazaakumullaahu khoiron.

Iklan

Patience

So be patient with gracious patience.” (Quran Surah 70:5)

Make things easy for the people, and do not make it difficult for them, and make them calm with glad tidings and do not repulse them. (Bukhari)

There are several reasons why you should remain calm when disciplining your child. One reason is because you want to develop a loving relationship with her. A child that feels loved and respected is more inclined to want to please his parents. This makes things easier for the parent in her role of parenting. You are your child’s primary teacher. You don’t want to lose that connection between you and your child. Even though your child will go through periods in which peer pressure reigns, your child will still be open to your suggestions if you have an understanding relationship. This helps you continue exercising your influence into the period of adolescence and beyond.

Another reason to maintain your composure when disciplining is because when you become angry when correcting your child, rather than emphasizing that you want him to behave, you are instilling in your child that he has the power to control your emotions. Let us say your child is angry because you’re not letting him play his Play Station for three days because he neglected to complete his homework three days in a row during the week. He is angry and vindictive. Even if he has to sit in his room for 30 minutes, it’s worth it if he can ruffle your feathers and make you feel the frustration and pain he’s feeling right now for missing out on his games.

Remaining calm also shows your child that being rude and saying hurtful remarks are not the way to solve his problem. For some high-spirited children, your anger and shouting are likely to escalate and intensify the child’s resistance and encourage a battle of wills. He is likely to start a tantrum or other aggressive behavior that you feel helpless to control. Usually when you feel helpless and at a loss as to what you should do with your child, you tend to resort back to what you’re comfortable and familiar with—hitting. Controlling your anger can stop this power struggle before it starts in the first place.

Remaining calm shows your child you’re in control–you have the reigns. The strong-willed child needs to know you’re the director of him. This actually helps him feel more secure. He wants to know what his limits are, and he wants to be guided.

Narrated Abu Hurairah: The Prophet (saw) counseled a man who asked for his advice and told him three times “Don’t get angry.” (Bukhari Vol 8 no. 137)

Sometimes parents themselves need to calm down and deal with their own feelings first before they attempt to handle the behavior of their child. If you are in a bad mood or your child has done something that really ticks you off, do not immediately react. Take a breather. Go to your room for a few seconds—or minutes. Count to ten. The Prophet (SAW) counseled not to get angry. He also recommended that when you are angry you should sit down. If you’re already sitting, then lie down. Don’t act upon your anger. Be still until you have calmed down. You will be in a healthier state of mind to make the proper decisions for both you and your child.

When your child observes your actions during your episodes of frustration and anger, he learns from you. If you tend to become physically violent with him when you’re angry, your child will learn this as acceptable behavior. If you rant, curse and shout, he will learn this as acceptable behavior during his periods of anger, too. You are his role model, his teacher. Your actions are what he will emulate.

This is an excerpt from Grandma Jeddah’s e-Book: Discipline without Disrespecting: Discover the Hidden Secrets of How to Effectively Discipline Your Muslim Child—And Keep Your Peace of Mind While at It.

By Grandma Jeddah


Tulisan ini saya salin dari FB Islam For Kids.

Rasanya ingin menangis membacanya, mengingat saya masih sering terbawa emosi dalam mengurus anak-anak. Dan akibatnya kini sudah mulai tampak.

Tentu saya tidak menginginkan anak-anak tumbuh menjadi pribadi sulit dan kasar. Karenanya, saya yang harus berubah.

Maafkan Mama ya, Nak, belum bisa menjadi teladan yang baik bagi kalian. Mama akan berusaha dan terus belajar….

Dan, tidak ada yang kebetulan kan ketika saya dituntun Allah membaca tulisan ini. الْحَمْدُ لِلَّه , terima kasih, Rabb, Engkau hendak membuatku menjadi baik….

Dan kepada Ayah, ingatkan Mama ya, Yah… Mama akan berjuang.


mobile wordpress

Khalifah

Hari Selasa kemarin, sementara lagi di atas boncengan motor menuju Lapangan Banteng, jam 7 pagi lewat sekian menit, handphone berdering. Ah, nada deringnya khas panggilan telepon rumah.

“Bu, Kakak ngga mau sekolah… masih ngantuk katanya…”, pengasuhnya menyampaikan kabar.

( Ah… terjadi lagi… ada apa, Nak…?? 😦 )

“Ngantuk, Mama…”. Hm… baiklah. Hari ini Kakak nggak masuk sekolah. Belajar dan bermain di rumah saja.

Otakku mulai bertanya-tanya. Tumben. Ya memang dulu pernah sih dia mogok sekolah, waktu di TK A ( mungkin kali lain aku akan ceritakan juga di sini ). Apa bener hanya karena mengantuk? Setahuku, sejak di TK B, Kakak belum pernah nggak sekolah dengan alasan seperti ini. Bangun paginya juga seperti biasa, hanya memang dia tadi pagi kurang bersemangat. Aku curiga.

Baca lebih lanjut

Muslim atau Muslimah

Kami sedang menonton acara Stand Up Comedy di televisi. Yang tampil adalah laki-laki bergitar. Bercuap-cuap lelucon sebentar, kemudian memasangkan sehelai selendang di kepalanya. Gaya bicaranya dibuat-buat seperti waria bergitar.

Hatiku sudah mulai gelisah melihat tayangan itu karena Kakak juga ikut melihat.

“Itu muslim atau muslimah?”, celetuknya.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Yang kulakukan hanya meminta Ayah memindah saluran.

Aku bersyukur, karena Kakak sudah mulai tahu, “perbedaan” laki-laki dan perempuan (lebih khususnya, Muslimah). Namun di sisi lain, aku sedih juga karena belum siap jawaban yang tepat untuk pertanyaan seperti itu.

Menurut pembaca sekalian, untuk pertanyaan sejenis itu bagaimana sebaiknya aku menjawab? 😦 (need heeeeelp)


mobile wordpress

Gendong dan Bayi Stres (tulis ulang)

Tahukah Anda, menggendong bayi menghadap ke depan dapat berdampak negatif pada pertumbuhannya?

Menurut studi dari Dundee University, Inggris, bayi yang sering digendong dengan wajahnya menghadap ke depan rentan mengalami perkembangan yang naik turun sehingga saat dewasa kelak cenderung memliki tingkat kecemasan tinggi. Efek yang sama juga terjadi ketika menggunakan kereta dorong bayi.

“Bayi yang dipangku menghadap ke depan dan kereta dorong menciptakan situasi yang sangat menegangkan,” kata Profesor Catherine Fowler.

Sebaliknya, bayi yang digendong secara tradisional cenderung tertawa, mendengarkan ibu, dan tertidur menghadap ibunya sehingga tingkat stres rendah. (Daily Mail/*/X-5)

Tulisan di atas adalah hasil saya menulis ulang, mencontek dari harian Media Indonesia, hari Rabu tanggal 24 Agustus 2011, halaman 1 rubrik ‘PAUSE’.

~***~

Saya baru tahu loh perihal tersebut di atas. Karena menarik maka saya catat di sini.

Mungkin tidak berlaku secara umum ya, karena ada juga bayi-bayi yang nyaman-nyaman saja di kereta mereka. Atau mereka senyam-senyum saja digendong menghadap ke depan.

Namun demikian, hal ini patut kita perhatikan juga. Di saat bayi membutuhkan dekapan kita, tentu saya sebaiknya segera kita dekap dan gendong mereka, dengan kasih sayang.

Saya jadi teringat yang disampaikan Bu Elly Risman (dan rekan-rekan di Yayasan Kita dan Buah Hati, dalam seminar/pelatihan dan rekaman acara Dear Parents di radio), bahwa bayi sudah mengenal ibunya sejak dalam kandungan melalui suara sang ibu. Di awal kelahiran bayi belajar mengenali ibunya melalui suara, sentuhan, dan juga wajah.

Bayi-bayi dengan ibu yang selalu mendampingi (full-time-mom) saya rasa lebih beruntung daripada yang ibunya bekerja. Mengapa? karena di usia yang ketiga bulan, bayi sudah berpisah dengan ibunya yang bekerja, meski hanya beberapa jam. Bayi dengan ibu bekerja harus beradaptasi dengan wajah baru yang mengasuhnya, padahal sebelumnya dia sudah akrab dengan wajah ibunya, termasuk juga suara, sentuhan dan buaian.

Menurut para ahli jiwa, manusia itu memiliki rasa cemas sejak awal, berkaitan dengan cemas akan wajah asing dan perpisahan. Bayi usia 0-3 bulan, matanya belum fokus menatap wajah orangtua. Jadi untuk benar-benar mengenali wajah Ayah-Ibu bayi-bayi membutuhkan waktu yang lama. Belum juga akrab benar dengan wajah ibu, bayi kemudian diasuh orang lain, sehingga mereka merasa cemas dengan wajah asing dan perpisahan.

Jadi tanpa disadari, kita sudah menanamkan kecemasan/stres kepada bayi kita…

Ujung-ujungnya, tulisan ini membuat saya tenggelam dalam dilema… 😦

Remaja dan Ali bin Abu Thalib

Di rubrik Psikologi salah satu harian ibukota, terbaca judul Dampak Perceraian pada Anak. Aku tidak akan membahas perceraian itu. Aku hanya ingin mengutip dan mencatat kalimat-kalimat yang menurutku sayang kalo ngga disimpan.

Oleh psikolog (yang menulis di rubrik itu), dikatakan bahwa “Remaja sesungguhnya tidak mandiri. Mereka hanya merasa bahwa mereka harus mandiri. Meskipun menjauh dari orangtua, mencari lebih banyak kemandirian dan kebebasan, remaja tetap ingin mengetahui bahwa orangtua masih ada jika mereka membutuhkan”.

Aku langsung teringat akan Ali bin Abu Thalib RA. Beliau mengajarkan tahapan mendidik anak, yaitu :
Usia 0-7 tahun : jadikan ia raja (kita melayani kebutuhannya)
Usia 7-14 tahun : jadikan ia tentara (ajarkan kemandirian)
Usia 14 tahun ke atas : jadikan ia kawan. Teman yang sejajar, bukan melulu orangtua yang superior terhadap anak remaja. Remaja butuh kawan (yaitu orangtua) yang asyik, yang bisa mendengarkan mereka.

Posted with WordPressBlackBerry.