Gendong dan Bayi Stres (tulis ulang)

Tahukah Anda, menggendong bayi menghadap ke depan dapat berdampak negatif pada pertumbuhannya?

Menurut studi dari Dundee University, Inggris, bayi yang sering digendong dengan wajahnya menghadap ke depan rentan mengalami perkembangan yang naik turun sehingga saat dewasa kelak cenderung memliki tingkat kecemasan tinggi. Efek yang sama juga terjadi ketika menggunakan kereta dorong bayi.

“Bayi yang dipangku menghadap ke depan dan kereta dorong menciptakan situasi yang sangat menegangkan,” kata Profesor Catherine Fowler.

Sebaliknya, bayi yang digendong secara tradisional cenderung tertawa, mendengarkan ibu, dan tertidur menghadap ibunya sehingga tingkat stres rendah. (Daily Mail/*/X-5)

Tulisan di atas adalah hasil saya menulis ulang, mencontek dari harian Media Indonesia, hari Rabu tanggal 24 Agustus 2011, halaman 1 rubrik ‘PAUSE’.

~***~

Saya baru tahu loh perihal tersebut di atas. Karena menarik maka saya catat di sini.

Mungkin tidak berlaku secara umum ya, karena ada juga bayi-bayi yang nyaman-nyaman saja di kereta mereka. Atau mereka senyam-senyum saja digendong menghadap ke depan.

Namun demikian, hal ini patut kita perhatikan juga. Di saat bayi membutuhkan dekapan kita, tentu saya sebaiknya segera kita dekap dan gendong mereka, dengan kasih sayang.

Saya jadi teringat yang disampaikan Bu Elly Risman (dan rekan-rekan di Yayasan Kita dan Buah Hati, dalam seminar/pelatihan dan rekaman acara Dear Parents di radio), bahwa bayi sudah mengenal ibunya sejak dalam kandungan melalui suara sang ibu. Di awal kelahiran bayi belajar mengenali ibunya melalui suara, sentuhan, dan juga wajah.

Bayi-bayi dengan ibu yang selalu mendampingi (full-time-mom) saya rasa lebih beruntung daripada yang ibunya bekerja. Mengapa? karena di usia yang ketiga bulan, bayi sudah berpisah dengan ibunya yang bekerja, meski hanya beberapa jam. Bayi dengan ibu bekerja harus beradaptasi dengan wajah baru yang mengasuhnya, padahal sebelumnya dia sudah akrab dengan wajah ibunya, termasuk juga suara, sentuhan dan buaian.

Menurut para ahli jiwa, manusia itu memiliki rasa cemas sejak awal, berkaitan dengan cemas akan wajah asing dan perpisahan. Bayi usia 0-3 bulan, matanya belum fokus menatap wajah orangtua. Jadi untuk benar-benar mengenali wajah Ayah-Ibu bayi-bayi membutuhkan waktu yang lama. Belum juga akrab benar dengan wajah ibu, bayi kemudian diasuh orang lain, sehingga mereka merasa cemas dengan wajah asing dan perpisahan.

Jadi tanpa disadari, kita sudah menanamkan kecemasan/stres kepada bayi kita…

Ujung-ujungnya, tulisan ini membuat saya tenggelam dalam dilema… 😦

Iklan

Bangganya Mama (Ray usia 3 tahun)

Tahun ajaran baru tahun 2009, Ray masih berusia 3 tahun. Tahun ajaran baru berarti ada banyak murid-murid baru di sekolah, dan Ray harus beradaptasi lagi. Selama kira-kira 2 minggu, Ray mulai tidak tertib seperti awal-awal dia bersekolah. Sering ke luar kelas sementara pelajaran berlangsung (duuh, kok jadi mundur begini…)

Alhamdulillaah itu hanya sementara. Setelah kelas Kelompok Bermain dibagi menjadi dua kelas dan Ray masuk kelas B, tidak terlalu banyak anak-anak baru, Ray sudah kembali tertib.

Suatu waktu ada acara perayaan Hari Kartini di sekolah. Semua murid harus memakai pakaian adat nusantara. Mama mulai mencari tempat sewa pakaian seperti itu, dan dapat baju adat Aceh.

Mama sempat berpikir, ‘mau, nggak, ya dia memakai baju itu…?’

Dan benar saja, awal-awal dia tidak mau mencoba baju itu. Bajunya panas, terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat. Warnanya hitam pula. Hm, gimana ya…

Malam sebelum hari H, Mama dan Ayah bergantian meyakinkannya bahwa baju itu bagus, besok akan ada perayaan di sekolah.

‘Mau ya, besok ke sekolah pake baju bagus itu… Teman-teman Kakak semua pakai baju bagus juga lho…’

Dibujuk-bujuk…

Ray mengangguk…

Hari H, Mama ijin datang terlambat ke kantor, demi melihat anak Mama tampil di sekolah, dengan pakaian adat! (rela potong gaji deh heheheh πŸ™‚ )

kartono-an Acara di sekolah dimulai dengan pawai keliling komplek sekolah. Hihihi, meski peluh deleweran di keningnya, rambutnya pun basah oleh keringat (Mama tahu Ray kegerahan), tapi dia tetap bertahan, tidak mengeluh, tidak minta lepas tutup kepala. Kakak hebat deh!

Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan semacam peragaan busana. Anak-anak berjalan dan bergaya di atas catwalk. Ray mengantri karena dia dapat nomer 17. Satu demi satu temannya bergaya, lucu sekali ya anak-anak itu… πŸ™‚ Melambaikan tangan, noleh kanan-kiri, terakhir di ujung catwalk, di depan Para Guru yang bertugas sebagai dewan juri, menutupkan kedua tangan di dada dengan sedikit membungkuk (ini standar yang diajarkan Bu Gurunya).

Hm, Raynar bisa ga ya bergaya seperti itu…

Mama memberi contoh, meyakinkannya bahwa dia bisa melakukannya (tapi tetep kuatir dia pemalu). Dan giliran Ray maju ke depan… Hasilnya, dia tidak malu-malu bergaya, tersenyum terus dia! Mama menyemangatinya… (dalam hati mama bersorak kegirangan!)

Ah, Nak… sampe hampir menangis Mama melihatmu tampil. Kakak melakukannya dengan berani dan percaya diri. Kakak hebat!

Maafkan Mama yang sedikit sangsi akan kemampuanmu (tentu Mama tidak akan bilang padamu waktu itu)… Mama salah, karena Kakak Ray sudah membuat Mama bangga luar biasa! Ya, bangga luar biasa!