Terapi untuk MSDD

Catatan ini adalah (masih) copy-paste dari Nakita No. 555/TH. X/16-22 Nopember 2009. Dan karena tidak jarang orang nyasar ke blog ini dengan kata kunci seperti usia 2 tahun belum bicara, MSDD, dan nakita no. 555 (kehabisan tabloid ini ‘kali hehehe), maka aku coba rangkumkan di sini, semoga bermanfaat buat yang lain.

***

Seperti gangguan perkembangan pada masa kanak-kanak, MSDD juga perlu ditangani segera dengan terapi yang tepat, untuk membantu anak-anak menangani masalahnya dan memandu anak-anak belajar atau menemukan keterampilannya yang belum muncul. Masing-masing terapi diberikan sesuai kondisi dan kebutuhan anak.

Selain pengaturan terapi terapi yang harus diikuti, kedisiplinan dan pola interaksi keluarga yang stabil mutlak dibutuhkan bagi kesembuhan anak dengan MSDD. Terapi yang dijalankan oleh terapis akan sulit berhasil tanpa dukungan orangtua dengan menerapkan terapi di rumah dan dukungan guru di sekolah, dengan mengerti kebutuhan anak dan kelebihannya, memonitor kemajuannya, serta berupaya terus tanpa kenal lelah demi perbaikan dan penyembuhannya.Β  Baca lebih lanjut

Ray Usia 2 Tahun, bagian 2

Setelah merasa kurang puas dengan PAUD, kami menyekolahkan Ray di Kelompok Bermain swasta dekat rumah. Kami menyampaikan kepada guru-guru di sana perihal Ray, dan mereka menerimanya. Namanya juga sekolah kecil, tentu belum secanggih sekolah-sekolah mahal dan terkenal itu. Kami hanya ingin Ray belajar bersosialisasi dan bertemu dengan banyak teman, siapa tahu dia mau “bicara”.

Ray beradaptasi. Agak lama. Masa awal sekolah adalah masa perjuangan buat Mama. Mama mengantar sendiri Ray ke sekolah karena waktu itu sedang tidak ada asisten di rumah. Setelah itu baru Mama berangkat kerja (seminggu tiga kali Mama datang terlambat, Alhamdulillaah bos Mama pengertian) . Ray ditinggal di rumah dengan Mbah Ti dan Affan, adiknya yang masih bayi.

Semester II Ray sudah lebih tertib. Frekuensi ke luar kelas sewaktu pelajaran berlangsung sudah mulai berkurang. Kalaupun itu terjadi, paling cuma sebentar dan mudah dibujuk kembali masuk kelas.

“Mau main prosotan ya? ya deh boleh, satu kali merosot ya… 1, 2, 3, meluncuuur…”

“yaa… yuk masuk kelas lagi yuk…”, Mama lari menggandeng Ray masuk kelas. Dia tertawa-tawa. Tak jarang Mama bermain pura-pura mengejar dia.

Mama selalu bersiap di dekat pintu kelas, sedangkan ibu-ibu pengantar lainnya sedang asyik ngobrol dengan yang lain. Duduk-duduk, cerita-cerita. Hmm, memperhatikan Ray belajar di kelas jauh (sangat jauh) lebih menyenangkan daripada ikut ngobrol dengan ibu-ibu itu. Mama senyum-senyum sendiri melihat Ray, dia bertepuk tangan ketika anak-anak menyanyi, ikut melafalkan doa-doa (meskipun pengucapannya belum benar). Dalam hati Mama bahagia dan bersyukur bisa menikmati momen seperti ini.

Sebelum bersekolah, kami juga memeriksakan Ray ke dokter dan membawanya terapi wicara seperti pernah dituliskan di sini. Bahkan kami pernah mengundang seorang terapis ke rumah. Β Seminggu sekali beliau datang.

Waktu itu, yang terpikirkan oleh kami adalah bagaimana mengejar ketertinggalan Ray. Terapis yang datang ke rumah mengobservasi Ray. Pekan berikutnya dia datang, mengkondisikan Ray belajar dengan duduk di kursi seperti di sekolah. Duuh, Ray tidak mau menurut. Lari-lari, teriak-teriak, nangis.

Kurang lebih empat kali terapis itu datang ke rumah, kami tidak melihat kemajuan berarti. Ray hampir selalu teriak-teriak kalau diajak belajar. Mama dan Ayah mulai berpikir bahwa cara ini bukan yang terbaik untuk Ray. Ada kesan paksaan dan tidak ‘fun’. Kami putuskan untuk tidak mendatangkan terapis ke rumah.

Akhirnya, kami lebih memilih cara yang lebih menyenangkan, dengan mengajaknya bermain, bernyanyi, tidak harus dalam kondisi belajar. Kami bacakan buku-buku cerita. Kami banyak mengajaknya bicara dan lebih sering bertemu dengan orang-orang asing. Kami mengajaknya berkunjung ke rumah teman-teman Ayah, yang sebelumnya belum pernah dia kenal. Kami ajak bermain di taman. Di area bermain anak-anak, dia belajar mengantri. Kami juga sering mengajaknya belanja ke pasar tradisional, kami kenalkan apa-apa saja barang yang dibeli.

Alhamdulillaah, ada kemajuan. Ray sudah mulai bicara, dengan bahasa yang belum jelas. Namun demikian, syukur kepada Allah SWT tiada henti. Setiap kemajuan Ray kami hargai, sangat kami hargai.

Maafkan Mama dan Ayah, ya, Nak, bila dalam proses belajarmu, pernah ada hal-hal yang membuatmu kurang nyaman. Maafkan kami, ya, Nak, kami masih harus terus belajar untuk memahamimu…

Ray Usia 2 Tahun, bagian 1

Ray belum bicara, hanya menunjuk-menunjuk dan menarik-narik tangan kami bila menginginkan sesuatu. Rentang konsentrasi pendek, tidak fokus, mudah bosan. Tidak mudah beradaptasi, menarik diri bila berada di lingkungan baru atau bertemu dengan orang asing. Tidak suka suara bising dan keras.

Usia 2 tahun 9 bulan, Ray bersekolah. Sekolah pertama Ray adalah PAUD di dekat rumah. Hasilnya, kurang memuaskan. Β Di PAUD, Ray bersekolah dengan 30-an anak. Hal itu membuatnya merasa kurang nyaman. Suara bising dan suasana yang ramai, karena rata-rata orang tua dan pengasuh anak-anak itu ikut masuk ke dalam kelas, membuatnya enggan masuk kelas. Ray hanya berjalan-jalan dan lari-lari di halaman dan di jalan dekat sekolahnya. Mama yang mengantar juga ikut “berolah raga” mengejar-ngejar Ray.

Kadang Ray harus digendong supaya mau masuk kelas. Ray bisa tenang di kelas jika Bu Gurunya sedang mengajak anak-anak menyanyi, bertepuk tangan, dan kegiatan semacamnya yang menarik perhatiannya. Tetapi ketika beberapa menit jeda, tidak ada Bu Guru yang “menguasai” kelas, Ray kembali kabur ke luar kelas. Mama tidak bisa duduk tenang kalau Ray seperti ini.

Di situ kami menyadari, Ray berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Β Ray butuh perhatian yang lebih banyak daripada anak-anak lainnya. Ray anak spesial.

Mulailah kami mencari ilmu tentang anak berkebutuhan khusus, membaca majalah, mencari artikel via internet, dan Mama menjadi sering mengunjungi puterakembara.org . Bahkan salah satu tetangga kami memberikan kami sebuah buku berjudul “Anakku Terlambat Bicara” ditulis oleh Julia Maria Van Tiel.

Buku (besar, bukan seukuran novel) setebal 408 halaman itu Mama baca dengan cepat, setiap hari membaca buku itu. Buku itu ditulis oleh seorang ibu dengan anak berbakat (Gifted Child). Dikisahkannya perjuangan membesarkannya, mengasuhnya, perilaku anaknya, juga terapi-terapi yang dijalaninya. Setelah dibaca-baca dan membandingkan dengan perilaku Ray, perasaanku mengatakan Ray bukan anak gifted.

Sweet Ray o’mine

hihihi… judulnya seperti judul lagu grup band Guns ‘N Roses (G’NR), “Sweet Child o’mine”. Sama sih, ini juga tentang sweet child, anak laki-lakiku yang pertama, namanya Raynar.

Raynar, pas Mama nulis ini, umurnya 3 tahun 11 bulan. Tanggal 24 Oktober, bulan depan, adalah ulang tahunnya yang ke empat. Dia sudah bersekolah di Kelompok Bermain Baitunnur, Rawamangun, Jakarta Timur. Sejak dia bersekolah, kemampuan verbalnya sudah banyak mengalami kemajuan. Mungkin karena dia bertemu dengan banyak teman, juga mendapat stimulasi dari guru-gurunya.

Umur 2 tahun, Ray belum bicara, padahal sewaktu masih bayi dia juga mengalami fase Babbling (mengoceh). Kupikir, kemampuan bicara akan berkembang sendiri, ternyata tidak! Itu harus diusahakan! Anak harus distimulasi sesuai tahapan perkembangan dan kemampuannya.

Akhirnya kami membawa Ray ke RSIA Hermina untuk diperiksa. Di sana bertemu dengan dokter saraf, Prof. dr. Taslim… (lupa nama lengkapnya), dan dirujuk untuk terapi wicara di Check My Child (CMC), Pulomas, Jakarta Timur. Tempat terapi CMC ternyata diasuh oleh seorang dokter juga, dr. Hardiono Pusponegoro, SpA.

Ternyata banyak anak yang terapi di CMC. Jadwal terapi untuk ‘anak baru’ menyesuaikan jadwal terapis yang ada. Jadi harus ada konfirmasi dulu dari terapisnya bahwa Ray akan terapi hari apa dan jam berapa. Akhirnya, sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh terapisnya, Ray diobservasi dulu. Observasi dilakukan selama 2 jam. Waktu itu Mama tidak bisa ikut menemani, Ray diantar Ayah.

“Anak Bapak terlalu steril… otot-otot bicaranya kurang terlatih… sensorik-motorik juga kurang terlatih… ”

Steril??

hmmm… anakku steril dalam arti dia belum pernah makan es krim, permen, coklat, mandi hujan dan bermain kotor, dan semacamnya. Karena ‘otot mengunyah’nya tidak banyak distimulasi, otot bicaranya juga terpengaruh. Karena jarang berkotor-kotor ria, jadi dia amat sensitif dengan indera perabanya. Sewaktu diobservasi itu, oleh terapisnya Ray disemprot dengan foam. Ray risih, gak mau ada sesuatu yang bertekstur aneh di badan dan bajunya.

hhhh… aku seperti “kecolongan” karena selama hampir setahun, dari Ray umur 1 tahun sampai hampir 2 tahun, sering batuk. Sudah ke dokter dan minum obat, masih saja hilang-timbul. Jadi kami tidak memberikan makanan yang dicurigai memicu batuknya kambuh, seperti permen, es, dan coklat. Setelah sekian lama, akhirnya seorang teman menyarankan untuk mengganti air minum yang kami konsumsi. Air mineral (biasanya langsung diminum) yang kami konsumsi harus direbus dulu. Dan ternyata benar, Ray tidak pernah batuk lagi, gak perlu ke dokter dan minum obat. Alhamdulillaah…

Gembira karena Ray sembuh dari batuk, dan kaget karena kami kecolongan. Dan ternyata, Home Programme-nya adalah menjilat permen atau es krim, makan ‘ngemut’ permen, berenang, berkuda (menunggang kuda ternyata bagus untuk melatih keseimbangan dan otot tungkai bawah), dan mendaki. Hhh… bagaimana kami tidak merasa kecolongan, coba…?!

Home Programme berjalan baik. Akhir pekan adalah hari untuk berenang dan berkuda. Berenang di kolam renang Bojana Tirta dan berkuda di Pacuan Kuda Pulomas. Yang sedikit bikin pusing adalah di mana kami bisa mengajak Ray mendaki…. Sudah keliling-keliling, akhirnya nemu di Taman Jogging Kelapa Gading. Terus gak sengaja nemu ‘jalan’ yang miring untuk Ray mendaki adalah di Taman Lapangan Banteng. Untuk rangsang sensoris, Ray punya 2 handuk mandi, halus dan kasar, yang dipakai bergantian setiap kali habis mandi. Selain itu, Ray mandi dengan air dingin dan hangat setiap kali mandi. Kalo dibilang ribet ya ribet, tapi demi anak, semua rela dan dengan sabar dilakukan… πŸ™‚

Kini Ray sudah tidak terapi di CMC lagi. Ilmu yang kami ambil dari terapisnya kami terapkan di rumah. Dan Alhamdulillaah, sudah nampak hasilnya. Semua ini karena kehendak Allah SWT dan hasil kekompakan kami sebagai orang tua, asisten yang menjaga Ray di rumah selama kami bekerja, pun Mbahkung dan Mbahti yang kadang ikut mengasuh Ray.

Allah, ya Rabb, terima kasih atas segala kemudahan dan petunjukMu…