Keteladanan

Alhamdulillaah, latihan kemandirian Kakak R dan Mas A untuk mencuci alat makannya terus dilakukan. Bahkan Mas U pun mulai mengikutinya tanpa diminta meskipun belum ajeg. Kekuatan keteladanan memang menjadi salah satu kunci keberhasilannya. 

Kakak R dan Mas A pun masih semangat naik angkot pulang sekolahnya. Dan masih ada teman saya sesama walimurid yang baru tahu dan merasa turut bangga dengan hal ini. 

Mas U pun saya perhatikan mulai konsisten memakai sepatu dimulai dari kaki kanan. 

Baarakallaahufiikum, anak-anak Mama  πŸ˜

Iklan

Merapikan Pakaian

Sudah lama Ayahnya anak-anak melatihkan skill ini ; memasukkan baju yang sudah disetrika ke dalam lemari.

Saya? saya justru terkadang “melemahkan” keterampilan ini. Hiks. Hehehe. Soalnya saya gemes aja melihat tumpukan pakaian mereka yang tidak rapi.

Anak-anak masih harus diingatkan oleh ayahnya untuk kegiatan ini. Hanya satu-dua kali saja Kakak R berinisiatif melakukannya tanpa disuruh.

Saat ini pun, tumpukan pakaian rapi masih teronggok di keranjang, belum dimasukkan ke dalam lemari. Ayahnya belum lagi “bersuara” karena belakangan ini anak-anak tidur lebih cepat dari biasanya, sementara di pagi hari kami semua sibuk dengan persiapan bekerja dan bersekolah.

Oh, ayolah, Mama… rapikan lemari…!


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day8

Aku Berangkat Sendiri

Aktifitas pagi sejak tahun ajaran baru ini, saya mengantar 3 anak sekaligus ke 2 sekolah berbeda. Motor Beat putih kesayangan itu harus ditunggangi oleh 3 bocah dan 1 ibu hamil. Rasa-rasanya udah ngga muat aja :p

Karena saya masih mampu untuk antar, juga Kakak R dan Mas A yang belum mau berangkat sekolah sendiri (karena harus naik angkot dan menyeberang jalan raya), sekaligus rasa ngga tega kepada Mas U yang masih tergolong murid baru di SDnya, maka saya masih mengantar mereka.

Namun pagi ini ketika semua sudah siap berangkat, tiba-tiba Mas U bilang, “Aku berangkat sendiri saja… naik sepeda”.

MaasyaaAllaah, jagoan Mama sudah berani bersekolah sendiri. Baarakallaahufiik, Nak.

Seketika hati saya menjadi hangat. Mengapa sekarang malah Mama yang mellow melihat lambaian tanganmu sebelum kau mengayuh sepedamu 😦

Dari sekolah kakak-kakaknya, saya mampir ke sekolah Mas U. Saya lihat sepatunya di rak. Alhamdulillaah dia sudah di dalam kelas. Saya juga mengabarkan ini kepada Bu Gurunya.

Hari ini, Jum’at, Mas U pulang jam 14. Saya jemput saja meski dia bersepeda. Begitu melihat saya di sekolah, eh dia malah protes. Hihihi. Mamanya ditinggal jauh di belakang, dia sudah melesat ngebut pulang.

Ya Alloh, saya mohon penjagaanMu untuk Mas U, dari semua keburukan.


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day7

Kanan Atau Kiri?

Kali ini tentang putera ketiga kami, Mas U. Dia baru saja menjadi murid SD.

Di hari pertama sekolah, Bu Guru mengingatkan murid-murid untuk memakai sepatu dimulai dari kaki kanan. Dan untuk melepas sepatu, dimulai dari kaki kiri.

Sebelumnya, saya pernah mengingatkannya tentang hal ini. Namun karena tidak konsisten, Mas U juga tidak melaksanakannya. Kata-kata Bu Guru tadi menyentil saya agar saya kembali dengan sadar melatihkan hal ini. Terima kasih, Bu Guru πŸ™‚

Hari-hari berikutnya, alhamdulillaah Mas U sudah mulai memakai dan melepas sepatu dengan benar.

Baarakallaahufiik, Nak…


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day6

Jalan Kaki atau Becak?

Masih tentang melatih kemandirian Kakak R dan Mas A. Kakak R ini beberapa kali minta uang transport yang berlebih.

“Bawa 50 ribu dong, Ma”

Oh, belum perlu sebanyak itu, Nak. Tapi, sepertinya Mama tahu nih kenapa minta uang lebih banyak. Maka Mama memberi mereka pengertian bahwa untuk punya uang lebih, mereka berdua menyisihkan uang transport mereka. Uang naik becak, bisa digunakan untuk membeli makanan atau minuman, asalkan mereka mau jalan kaki saja menuju jalan raya.

Dan nampaknya mereka menerima usul ini πŸ™‚

Terima kasih untuk Mama Wawa dan Mama-mama lain yang udah perhatian sama anak-anak saya.

Baarakallaahufiikuma, Nak…


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day5

Kardus : Parkir Mobil

Beberapa waktu yang lalu, di rumah ada banyak kardus kemasan makanan ringan (Stik Keju) yang saya jual. Maka saya mulai mencari referensi di Instagram untuk memanfaatkan kardus-kardus itu.

Si Tengah bersemangat sekali waktu melihat foto di Instagramnya pinkstripeysocks ini. (Hi, Leslie, thank you for sharing ^^ )

Jadi kami membuatnya juga. Bahan dan alatnya yaitu kardus bekas, penggaris (bila perlu), lem, gunting, cat, kuas, dan kertas bekas.

Kertas bekasnya digunakan untuk membalut tiang-tiangnya, supaya lebih rapi.

PhotoGrid_1435939720623

sudah diunggah di Instagram @andarucraft

Naah, ini gampang lho. Selamat mencoba…!Β  ^^

Jembatan Gantung

PhotoGrid_1435034933245Late post ini judulnya yaa…

Ini kegiatan saya dan Si Tengah. Membuat jembatan gantung.

Bahannya :

  • Kardus bekas sepatu. Kelupas bagian luarnya. Bagian dalamnya seperti di gambar ya, karton bergelombang gitu.
  • Tali rafia
  • Pelubang kertas
  • Balok-balok untuk penahan tali

Siapkan kartonnya, potong sesuai ukuran yang diinginkan. Kemudian lubangi bagian tepi-tepinya. Di setiap lubang, simpul dengan tali rafia, sedemikian rupa seperti gambar.

Si Tengah seneng banget bikin mainan ini. Alhamdulillaah.

Foto ini saya unggah juga di akun Instagram @andarucraft.

 

 

 

 

Botol Bekas : Mobil-mobilan

Masih bercerita tentang kegiatan bikin-bikin-nya kami di hari Sabtu lalu nih. Sementara Mama dan anak-anak menunggu Bunga Warna-warninya jadi, Ayah membantu anak-anak membuat mainan mobil-mobilan.

Idenya berasal dari majalah langganan kami, Mombi SD, edisi kapan udah ngga terlacak karena sampulnya sudah terlepas.

Bahan dan alat :

  • botol plastik bekas
  • karet sandal bekas
  • gunting
  • pisau dan alat tajam sejenis untuk melubangi botol
  • lidi
  • tali (untuk menarik mobil-mobilan)

Dengan melihat gambar di bawah ini, saya yakin Ayah dan Bunda udah kebayang cara bikinnya.

mombi

ini gambar di majalah Mombi SD

gunting karet sandal, bentuk lingkaran (untuk roda)

gunting karet sandal, bentuk lingkaran (untuk roda)

jadi deh mobil-mobilannya

jadi deh mobil-mobilannya, tapi talinya belum terpasang

Terima kasih ya, Ayah, udah membuatkan mainan untuk anak-anak. Anak-anak suka sekali. πŸ™‚