Review NHW#5

📝 BELAJAR CARA BELAJAR 📝

( Learning how to Learn)

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, bagaimana rasanya mengerjakan Nice Homework di sesi #5 ini? Melihat reaksi para peserta matrikulasi ini yang rata ada di semua grup adalah

a. Bingung, ini maksudnya apa?

b. Bertanya-tanya pada diri sendiri dan mendiskusikannya ke pihak lain, entah itu suami atau teman satu grup

c. Mencari berbagai referensi yang mendukung hasil pemikiran kita semua

d. Masih ada yang merasakan hal lain?

Maka kalau teman-teman merasakan semua hal tersebut di atas, kami ucapkan SELAMAT, karena teman-teman sudah memasuki tahap belajar cara belajar.

Nice Homework #5 ini adalah tugas yang paling sederhana, tidak banyak panduan dan ketentuan. Prinsip dari tugas kali ini adalah Semua Boleh, kecuali yang tidak boleh. Yang tidak boleh hanya satu, yaitu diam tidak bergerak dan tidak berusaha apapun.

Selama ini sebagian besar dari kita hampir memiliki pengalaman belajar yang sama, yaitu OUTSIDE IN informasi yang masuk bukan karena proses “rasa ingin tahu” dari dalam diri kita melainkan karena keperluan sebuah kurikulum yang harus tuntas disampaikan dalam kurun waktu tertentu. Sehingga belajar menjadi proses penjejalan sebuah informasi. Sehingga wajar kalau banyak diantara kita menjadi tidak suka “belajar”, akibat dari pengalaman tersebut.

Di Institut Ibu Profesional ini kita belajar bagaimana membuat desain pembelajaran yang ala kita sendiri, diukur dari rasa ingin tahu kita terhadap sesuatu, membuat road map perjalanannya, mencari support system untuk hal tersebut, dan menentukan exit procedure andaikata di tengah perjalanan ternyata kita mau ganti haluan.

Ketika ada salah seorang peserta matrikulasi yang bertanya, apakah Nice Homework #5 kali ini ada hubungannya dengan materi-materi sebelumnya? TENTU IYA.

Tetapi kami memang tidak memberikan panduan apapun.

Kalau teman-teman amati, bagaimana cara fasilitator memandu Nice Homework #5 kali ini?

Ketika peserta bertanya, tidak buru-buru menjawab, justru kadang balik bertanya.

Ketika peserta bingung, tidak buru-buru memberikan arah jalan, hanya memberikan clue saja.

Fasilitator banyak diam andaikata tidak ada yang bertanya, karena memberikan ruang berpikir dan kesempatan saling berinteraksi antar peserta.

Itulah salah satu tugas kita sebagai pendidik anak-anak. Tidak buru-buru memberikan jawaban, karena justru hal tersebut mematikan rasa ingin tahu anak.

Membaca sekilas hasil Nice Homework #5 kali ini ada beberapa kategori sbb :

a. Memberikan teori tentang desain pembelajaran

b. Membuat desain pembelajaran untuk diri kita sendiri

c. Menghubungkannya dengan NHW-NHW berikutnya, sehingga tersusunlah road map pembelajaran kita di jurusan ilmu yang kita inginkan.

d. Ada yang menggunakan ketiga hal tersebut di atas untuk membuat desain pembelajaran masing-masing anaknya.

tidak ada BENAR-SALAH dalam mengerjakan Nice homework#5 kali ini, yang ada seberapa besar hal tersebut memicu rasa ingin tahu teman-teman terhadap proses belajar yang sedang anda amati di keluarga.

Semangat belajar ini tidak boleh putus selama misi hidup kita di dunia ini belum selesai. Karena sejatinya belajar adalah proses untuk membaca alam beserta tanda-tandaNya sebagai amunisi kita menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi ini.

Setelah bunda menemukan pola belajar masing-masing, segera fokus dan praktekkan kemampuan tersebut. Setelah itu jangan lupa buka kembali materi awal tentang ADAB mencari ilmu. Karena sejatinya ADAB itu sebelum ILMU.

Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan:

1) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong.

Yaitu mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu, merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasehat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga menganggap pendapat orang yang memberikan nasehat kepadanya, disalahkannya. Selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah. Terkadang mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada yang berpendidikan tinggi, namun tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.

2) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu.`

Tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya faham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah pun mencintainya.

3) Barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa ( stay foolish, stay hungry).

Tingkatan terakhir adalah yang teristimewa. Selalu merasa dirinya haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa (stay foolish, stay hungry) meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.

Sampai dimanakah posisi kita? Hanya anda yang tahu.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Sumber Bacaan :

Hasil Nice Homework #5, Peserta matrikulasi IIP Batch #3, 2017

Materi Matrikulasi IIP Batch #3, Belajar cara Belajar, 2017

Materi Matrikulasi IIP Batch #3, Adab Menuntut Ilmu, 20172)

Iklan

NiceHomework#5

Bismillaah

Untuk mengerjakan NHW#5 ini saya meminta perpanjangan waktu kepada Koodinator Mingguan. Apa pasal? Hehe, jujur sampai kemarin saya masih meraba-raba apa yang saya rasa dan pikirkan, karena tugas kali ini adalah membuat Design Pembelajaran. Untuk siapa? Untuk saya sendiri! Blarrr!

Emang selama ini ngga pernah belajar, apa?

Yaa belajar sih. Dimulai dari belajar semasa sekolah dulu deh. Yang paling saya ingat ya cara belajar yang SKS (Sistem Kebut Semalam) dengan tujuan hanya agar bisa menjawab soal dan mendapat nilai bagus.

Udah tua begini, baru deh ngerasain kalo cara belajar seperti itu ngga efektif untuk saya. Buktinya, memori saya tentang pelajaran itu yaa ngga bertahan lama, apalagi kalo pelajarannya ngga berhubungan dengan aktifitas sehari-hari. Hihihi.

Nah, karena sejak di IIP ini saya mencanangkan untuk belajar ilmu agama (Tauhid), bahasa Arab, parenting, nyetir mobil, dan mengelola sampah, maka saya berpikir bahwa keempatnya ngga bisa dijalani hanya dengan SKS dan hafalan, melainkan dengan praktik.

Padahal bagian praktik inilah bagian yang paling menantang. Hiks.

Yuk mundur ke belakang. Lihat lagi pelaksanaan NHW#4 yang udah dibuat.

Lancar? enggak. Hiks.

Tahu sebabnya? Tahu. Gadget. #Plakk

Jadi, udah tahu Design Pembelajaran yang akan dijalani? Ya, begini :

  1. Patuh gadget hour.
  2. Membuat time-limit sesuai jenis aktifitas. Ini yang baru kemarin saya canangkan. Karena dengan gadget hour 15-18 dan 19-21 ternyata belum efektif untuk harmoni tugas-tugas rumahtangga, maka saya perlu membuat time-limit.
  3. Membuat media belajar yang bersifat visual untuk semakin menguatkan kosakata bahasa arab yang dipelajari.
  4. Menjadwalkan sharing keluarga di akhir pekan, mengenai pengalaman saya sepekan itu, juga review buku yang saya baca pekan itu (sesuai tema yang sudah saya buat di NHW sebelumnya)
  5. Belajar nyetir belum terlaksanana. Suami belum mau ngajarin lagi. Hiks.

Cukup? ya, segini dulu aja.

Everyone is unique, dan design ini cocok untuk saya saat ini.

Semangat!!

 

 

NiceHomework#4

Bismillah

Setelah di NHW#2 saya diajak untuk membuat indikator keprofesionalan saya sebagai manusia, maka tugas di NHW#4 adalah untuk mempertajam, mengajak saya lebih fokus melaksanakannya.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Saya tetap pada pilihan saya.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpacu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Nah ini bagian tersulit. Hiks, huwaaaaaaaaa… 😦

Saya belum konsisten. Saya masih sering menunda pekerjaan. Saya belum keras berlatih.

c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Sebenernya udah pernah membaca dan mendengar, bahwa saya diciptakan Alloh Ta’ala adalah untuk beribadah kepada-Nya.

Ibadah adalah segala hal yang Alloh cintai, Allah ridhoi.

Dari mana saya tahu tentang yang Alloh cinta dan ridho? Dari sunnah Rosul Muhammad ShollaLloohu ‘alayhi wasallam, sunnah Khulafaurrasyid, para Shahabat, dan nasehat para ulama.

c. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Mengingat kaidah Melakukan yang wajib, kemudian yang Sunnah, maka set langkah saya :

KM 0 (nol kilometer), adalah hari ini untuk berlatih menjadi ibu yang bertanggungjawab. Salah satu cara yang saya tempuh adalah mengikuti dan lulus program Matrikulasi IIP ini. Kemudian dilanjutkan KM 1 dan seterusnya adalah Program Bunda Sayang, Bunda Cekatan dan seterusnya sesuai program wajib di IIP.

KM 0 di ilmu agama adalah mulai hari ini. Berjuang meluangkan waktu untuk membaca Kitab Suci, Tafsir, dan buku yang lain.

KM 0 di belajar mengemudi adalah di akhir pekan ini. Saya belum menemukan tempat kursus setir mobil khusus perempuan, sehingga saya akan mulai merayu kembali suami untuk ngajari saya. hihihihi.

KM 0 di pengolahan sampah adalah bulan ini. Sudah menumpuk banyak itu cup bekas eskrim dan tutup galon. Belajar adalah dengan melakukan.

Saya memilih jurusan ilmu yang bersifat seumur hidup, dan paling mendasar (menurut saya lho) sebagai manusia. Kebermanfaatan diri saya yang saya harapkan, sesuai dengan kapasitas saya yang terbatas ini.

e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Saya merevisi aktifitas harian saya dengan menambahkan bagaimana perasaan saya ketika melakukannya.

nhw-daftar-pekanan-revisi1

f. Lakukan, lakukan, dan lakukan. Buatlah sejarah!

I have my own journey. Saya merencanakan apa yang saya mampu raih. Terlihat sangat sederhana checklist harian saya. Saya sengaja membuatnya demikian. Saya ingin “selesai dengan diri sendiri” dulu sebelum saya berpikir untuk menginspirasi orang.

Seperti halnya Bu Septi Wulandari, Founder IIP, penggagas materi-materi di IIP. Beliau kini mempunyai misi hidup sebagai inspirator dalam bidang pendidikan ibu dan anak. Tentu, beliau mengajarkan apa yang sudah beliau kerjakan. Walk the talk.

Fokus saya saat ini, keberadaan saya bermanfaat untuk keluarga saya ; suami dan anak-anak. Target saya saat ini adalah Lillah, agar aktifitas kerumahtanggaan saya tak hanya berujung Lelah.

Semangat!!

 

Materi 4 Matrikulasi IIP Batch 3

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini.

Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi.

Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI.

Apakah mudah? TIDAK.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain.

Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah Anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3.

Bagi yang sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi Anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“ Just DO It”,

Lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada Apa yang harus dipelajari anak-anak kita,  bukan pada Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut, sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu :

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:

a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya. Tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

e. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

f. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition”.

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Page 2 of 10

Catatan Andaru

Sudah lama kami rutin membeli majalah Mombi dan Mombi SD, karena suami meminta loper koran di kantor untuk membawakan majalah-majalah itu. Untuk saat ini sih Mombi (TK)nya kami stop, tinggal yang Mombi SD saja. Terbitnya bulanan.

Karena itulah, majalah-majalah numpuk di rumah. Mau dibuang, sayang banget. Jadilah saya terpikir untuk menulis ulang aja artikel-artikel di majalah itu, tentu dengan menyertakan sumber tulisan. Siapa tahu ada anak-anak yang butuh artikel untuk bahan tugas sekolah mereka kan…

Untuk sementara ini saya yang mengetik ulang. Harapannya sih, Si Kakak suatu saat ikut mengetik juga. Itung-itung latihan menulis/mengetik.

Silahkan ke https://catatanandaru.wordpress.com yaa… Semoga bermanfaat.

 

Review NHW #2

Bismillaah

Berikut ini saya copas aja ya review NHW#2 dari tim IIP.


CHECKLIST PEREMPUAN PROFESIONAL

Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan “rasa” berat untuk mengerjakan nice homework#2 ini. Kalau di Jawa ada pepatah  yang mengatakan “Ojo kalah karo wegah” (Jangan mau kalah dengan rasa malas).  Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU. Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa.

Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga. Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.

KOMITMEN DAN KONSISTEN

Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya.

Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusunDEEP HABIT yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.

Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas  “Shallow Work”, yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.

Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam “shallow activities”, kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.

Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses “peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu, meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, Sehinga bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori “SHALLOW WORK” menjadi “DEEP WORK” (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).

Untuk itu mari kita lihat kembali Checklist kita :

1.Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat “akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah” akan lebih baik anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan Gadget hours selama 2 jam.

2.Apakah kalimat-kalimat di checklist  sudah terukur? misal “Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga”, akan lebih baik kalau diganti dengan ” Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga”

3. Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya.

Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan.

Kembali ke istilah jawa ini namanya “gayuk…gayuk tuna” (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)

4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online. Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.

5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan November. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai Pebruari 2017.

Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya.

Silakan teman-teman  lihat  kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.

Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari.

Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.

Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

 


Fiuuuuuhhh….

Reaksi saya membaca review tersebut adalah,

Pertama, saya bahagia! karena usaha saya dan teman-teman yang udah susah payah menyusun NHW dihargai. Pemilihan kata SALUT itu udah membuat saya merasa spesial.

Kedua, saya menangkap nasehat yang saaaaangat daleem. Nasehat yang tidak menggurui, namun justru didasari rasa ingin membantu/mendukung/merangkul kami. Kami yang tak jarang memang menghabiskan waktu untuk Shallow Work.

Ketiga, setelah mulai tergugah, tersadar bahwa ada yang harus diubah demi terwujudnya Peningkatan Kualitas Diri Perempuan (Ibu), maka kami diajak untuk menuliskan, mencanangkan target-target yang sudah kami susun pada NHW#2 

Keempat, saya disuruh ngeprint booo’.. hihihi. Biar selalu inget, jadi lebih kenceng usaha melakukan target. Hihihi. Baiklah, kalau sebelumnya saya hanya nulis asal-asalan to do list, sekarang saya bikin cantik. Supaya lebih semangattt!

Link di bawah ini format pdfnya

daftar-pekanan-nhw2

Ya Allooh ya Robbi, mohon taufiq untuk menjalani hari.

 

Hari Ini Mama Sudah…

Bismillaah

Pernah, ngga, merasa jengkel sama diri sendiri? merasa diri tak berharga?

Saya sering, hehehe. Kapan itu? Ketika saya merasa do nothing, padahal kan ya ngga bengong-bengong amat di rumah. Pengen berdaya guna, tapi penyakit moody-nya sering kambuh. Sigh.

Trus, saya ngga mau dong keadaan ini berlangsung selamanya. Saya ingin ada perubahan pada diri saya.

Oke, saatnya nengok-nengok pengalaman dulu-dulu. Ketika masih gadis dulu, saya suka mencatat to do list harian, misalnya di kantor saya akan ngerjain apa aja. Atau saya ada rencana pergi ke mana aja, beli apa aja. Ketika itu tercentang semua, rasanya bahagia dan puas. Kalaupun ada yang tidak tercentang, masih oke-oke aja toh lain hari masih bisa dilakukan.

Trus ketika udah berstatus stay at home mom, saya merasa kewalahan aja dengan kerjaan rumah tangga, yang justru rutin sifatnya. Karena saya terpaku pada rutinitas itulah, saya jadi agak kaku nih dalam menyikapi tercentang-tidaknya to do list saya. Kalau ngga banyak centang, saya jadi bete lagi. Huh…

Cukup sudah yaa diombang-ambing suasana hati.

Jadi saya menjadikan to do list saya menjadi seperti ini :

Alhamdulillaah. Selamat, Mama, hari ini sudah :

  1. Mencuci baju
  2. Memasak
  3. dst

Lalu, ngaruh ngga ke suasana hati? ngaruh banget sekaliiiii…! Hihihi. Meskipun tidak setiap hari juga saya mendadak jadi wonderwoman, namun tetap ada semangat untuk merasa berharga sepanjang hari itu.

Dahsyat ya efek yang ditimbulkan dari kata-kata yang positif, yang mengapresiasi sekecil apapun perbuatan. Saya tempel kertas berisi kegiatan saya hari itu di pintu lemari baju saya. Si Kakak melihat-lihat tapi ngga berkomentar apa-apa. Tapi saya tahu, dia akan mudah saya ajak menuliskan hal semacam ini juga untuk pembelajaran keluarga yang InsyaAllah akan saya terapkan, biidznillaah.

Jadi, saya berharga. Saya muslimah, berdaya guna. Alloh menciptakan saya untuk beribadah. Apapun pekerjaan rumah tangga, itu adalah ibadah, untuk mencari ridho Alloh.

 

NiceHomeWork#2

Bismillaah…

NHW#2 ini saya rasakan lebih berat

(…Tarik napas…)

karena tugasnya adalah membuat checklist indikator-indikator profesionalisme perempuan, sebagai individu, istri, dan ibu, yang saya sendiri bisa menjalankannya. Boleh tanya dulu ke suami dan anak-anak tentang harapan mereka kepada saya.

Indikator itu haruslah SMART ; Specific, Measurable (terukur), Achievable, Realistic, and Timebond (batas waktu)

Dengan metode wawancara, pengalaman saya sih, suami hanya menjawab “jadilah dirimu sendiri”. Kalau kepada anak-anak, jawaban utamanya “jangan marah-marah” 🙂 Jlebbb!!

Saya memilih menyatukan peran saya (sebagai individu, istri, dan ibu) karena satu-sama lain saling berkaitan.

Dirangkum berdasarkan :

a. kesadaran bahwa saya adalah hamba Alloh yang diperintahkan untuk bertaqwa kepada-Nya

b. hasil wawancara dan mengingat respon suami dan anak-anak terhadap apa yang saya lakukan selama ini

c. suara hati saya

maka berikut ini hasilnya :

  1. Menjaga sholat. Maksimal molornya 30 menit dari adzan. Semangaatt, Mamaa!
  2. Tilawah Al-qur’an, setiap hari, 1 jam (akumulasi). Berjuanglah, Mama!
  3. Membaca Al-Mulk, setiap malam. You can do it, Mama!
  4. Dzikir pagi-petang, setiap hari
  5. Membaca buku dan/atau mendengarkan rekaman kajian Islam tema Aqidah (pekan 1), Fiqih (pekan 2), Akhlaq (pekan 3), Sejarah (pekan 4). Let’s do it!
  6. Membacakan buku dan/atau beraktifitas melibatkan anak-anak sesuai tema pekanan. This is it!
  7. Membaca buku parenting, hari Sabtu-Ahad. Itu buku-buku jangan dipajang aja, hihi.
  8. Exciting Thing, setiap hari, terdiri atas memasak, mencuci baju, menata rumah dan lain sebagainya pekerjaan domestik rumah tangga. C’mon give it a shot!!! hapenya disimpen duluuuu!!!
  9. Free gadget jam 15-18, 19-21. Umpetiiiiiiin!
  10. Belajar Bahasa Arab dengan rekaman kajian Durusul Lughoh di radio Rodja setiap Senin, Rabu, dan Jum’at. Pasti sempet, Mama!
  11. Crafting, setiap hari, waktunya menyesuaikan maksimal 30 menit. Itu bahan craft numpuk, Mama, ayo tanggungjawab. Hihi.
  12. Mengajari anak-anak mengaji, setiap hari, setelah Maghrib atau Isya, atau menyesuaikan. Tiap hari, Mamaaaa, itu anaknya jangan dilepasin aja ngajinya!

Fiuuuuhhhh…

Sudah? iya sudah, segitu dulu aja. Jalani duluuu dan konsistenlah sebulaaaan aja dulu.

Ya Allooh… saya memohon pertolongan…

Ganbate!


Rencana-rencana di atas sebagai sebuah acuan agar semua tetap on track. Dibuat  fleksibel mengikuti keadaan di lapangan.