Hampir Saja Menyerah

Pesan nasehat, kata-kata mutiara, kalimat motivasi akan sangat ‘mengena’ di hati tatkala kita memang sedang berada di posisi atau situasi yang pas denganya.

Yaa Allah, jadikan setiap tetesan ASI yang terisap malaikat kecil kami menjadi embun penggugur dosa kami, penumbuh kesalehan dan keberkahan buah hati kami, dan izinkan menjadi bulir-bulir amal yang akan menjadi bekal kami menuju ridha-Mu. Amiin. (Ariani, dr. – Penulis buku “Ibu, Susui Aku”)

Ndilalah muncul pesan itu di BBM Group ( Emak-emak Smunisda, grup teman SMA) , pas banget ketika saya hampir saja menyerah kalah.

Cita-cita saya, selama 18 bulan awal usianya, Ulung mendapat full ASI. Sementara pekan kemarin, tabungan ASIP saya hanya ngepas. Hasil perahan hari ini, diminumkan besok. In-out saja, gak ada tabungan. Saya sudah menyiapkan susu UHT bila ASIP saya masih kurang untuknya.

Alhamdulillaah, pesan di BBM membuat saya kembali bersemangat, kembali disiplin mengatur waktu. Memang, belakangan ini saya tidak disiplin. ( Huuh… ) Terima kasih ya, Emak-emak Smunisda, kini ASIP saya kembali surplus, ada tabungan lagi, nggak ngepas-ngepas lagi, hehehe.

Dan untuk ibu-ibu di luar sana yang tengah berjuang memberikan ASI, ayo semangat Buu… ASI is the best, and always be the best for babies. Teruskan perjuangan…! πŸ˜€

Iklan

ASI

Tahu ga? Bisa memberikan ASI-Ex itu suatu perjuangan buat ibu bekerja.

Yang harus disiapkan adalah… yang pertama dan utama, niat! Supaya punya niat memberikan ASI-Ex, ketahui dulu apa manfaat ASI bagi bayi, monggo dicek di sini, di situ, juga di sana (dan masih banyak lagi informasi mengenai keunggulan ASI di internet). Kalo sudah tahu, pasang niat kuat di hati ya, untuk tetap memberikan ASI, meskipun ibu kembali bekerja.

Niat udah ada nih, sekarang cari tahu caranya supaya bisa tetap memberikan ASI meskipun ibu kembali bekerja. Intinya ada 2 hal yang harus dilakukan, yaitu memerah ASI dan menabung ASI Perah (ASIP) sebelum kembali bekerja dan selama berada di tempat kerja.

Hah, ribet yaa..? Aaah, enggak koooq… kan udah ada niat. Ada kemauan, pasti ada jalan.

Trus, cari tahu tentang teknik memerah ASI dan menabung ASIP. Di internet udah bertebaran tuh informasinya, salah satunya adalah milis asiforbaby.

Selama masa menyusui, pergi ke kantor pasti mbawa “peralatan perang”. Cooler bag plus Ice gel, sapu tangan, dan 4-6 botol ASIP. Saya ngga bawa pompa ASI karena saya memompa dengan tangan. ASIP saya simpan di kulkas. Alhamdulillaah ada kulkas di kantor, jd cooler bag dan ice gelnya digunakan saat dalam perjalanan pulang kantor saja (1-1.5 jam).

Hambatannya apa? Hambatan terbesarnya adalah ketika semangat memerahnya menurun karena sedang diburu pekerjaan, atau karena memang sedang malas. Hehe. Alhamdulillaah ada teman-teman seperjuangan, bisa saling menyemangati. Atau, bayangkan saja wajah bayi kita di rumah, ah dia sedang menanti, merindukan kita, dia butuh kita karena (tentu) makanan dia ada di kita. Hehe. Ga tega kan kalo harus menggantinya dengan susu sapi???

Jadi, ibu bekerja dan ingin memberikan ASI-Ex? Bisa banget…!!

Prestasi

Coba ingat-ingat lagi, kapan Anda meraih prestasi atau pencapaian yang membanggakan?

Ketika peringkat pertama di sekolah berhasil diraih, ketika berhasil memenangi kejuaraan renang atau olimpiade matematika, ketika berhasil menduduki jabatan tertentu di kantor, atau bahkan ketika berhasil memperistri seorang kembang desa yang jelita? πŸ™‚

Tentu senang ya, ketika suatu perjuangan berakhir dengan cerita bahagia, happy ending. Apalagi bisa membuat orangtua, guru di sekolah, dan teman-teman bangga dengan prestasi kita, atau bisa membuat ‘lawan’ atau ‘saingan’ kita nangis meratapi kekalahan karena si kembang desa tidak memilihnya sebagai pasangan jiwa. Pasti ada perasaan puas tak terkira, bangga, bahagia, juga rasa syukur kepada Tuhan, karena tanpa campur tangan-Nya prestasi-prestasi dan pencapaian-pencapaian itu mustahil bisa diraih.

Sementara ukuran-ukuran prestasi bagi setiap orang bisa berbeda-beda, tetapi ada satu persamaannya, bahagia dan puasnya itu hanya hati yang bisa merasakan. Hati kita, bukan semata hati orang lain… (ini pendapat pribadiku saja).

Jadi apa prestasimu, Mamaray…? Baca lebih lanjut