Alhamdulillaah, Empat, InsyaAllah

Bismillaah…

Lama ngga update blog. Hihihi… Jujur saja, mengerjakan NHW itu oke banget buat semangat nulis blog. Nah, setelah selesai sembilan pekan Kelas Matrikulasi IIP, ngga ada lagi NHW doong… jadi blognya sepi lagi. Apalagi di akhir-akhir Matrikulasi, saya mulai merasakan perubahan tubuh. Pasalnya saya positif hamil. Alhamdulillaah.

Beberapa waktu lalu saya sempet mellow di cerita yang ini, File’s Not Found. Alhamdulillah, Allah kembali mempercayakan sebuah amanah agung untuk kami.

Baruuu aja tempo hari di NHW#8 saya menuliskan azzam untuk memiliki iman baja, maasyaaAllah, Allah langsung mengujinya dengan kehamilan ini. InsyaAllah ini takdir Allah yang terbaik untuk kami sekeluarga.

Banyaaak bersyukur karena saya merasa excited di kehamilan ini. Namun tetep merasa seperti ngga banyak tahu ilmu kehamilan karena jarak yang cukup lama. Apalagi sekarang semakin berkembang itu ilmu-ilmu pengasuhan dan perawatan bayi. Alhamdulillaah, di kelas Matrikulasi kemarin, saya jadi berteman dengan ibu-ibu muda yang update ilmu terbaru.

Alhamdulillaah juga, anak-anak sudah besar-besar, jadi sudah mulai mandiri, dan bisa dimintai bantuan ketika saya mulai teler, mual-mual, pusing-pusing. Hihi.

Iya, sudah sebulan ini, saya mual-mual khas trimester pertama. Jadi, apa kabar ceklis-ceklis di NHW yang sudah dibuat? Dengan sedih, saya katakan, berantakan! Huhuhu… Sediih karena banyak hal terlewat. Jadwal harian tak terlaksana. Mual-pusing ini sesuatuu banget.

Jadi saat ini saya masih memaafkan diri sendiri karena belum mulai aktif melaksanakan jadwal. Masih sering tiduran di kala mual-pusing mendera.

Etapi, hari ini saya merasa fit. Saya nulis di blog saja. Alhamdulillaah.

Sekian.

Iklan

NiceHomework#5

Bismillaah

Untuk mengerjakan NHW#5 ini saya meminta perpanjangan waktu kepada Koodinator Mingguan. Apa pasal? Hehe, jujur sampai kemarin saya masih meraba-raba apa yang saya rasa dan pikirkan, karena tugas kali ini adalah membuat Design Pembelajaran. Untuk siapa? Untuk saya sendiri! Blarrr!

Emang selama ini ngga pernah belajar, apa?

Yaa belajar sih. Dimulai dari belajar semasa sekolah dulu deh. Yang paling saya ingat ya cara belajar yang SKS (Sistem Kebut Semalam) dengan tujuan hanya agar bisa menjawab soal dan mendapat nilai bagus.

Udah tua begini, baru deh ngerasain kalo cara belajar seperti itu ngga efektif untuk saya. Buktinya, memori saya tentang pelajaran itu yaa ngga bertahan lama, apalagi kalo pelajarannya ngga berhubungan dengan aktifitas sehari-hari. Hihihi.

Nah, karena sejak di IIP ini saya mencanangkan untuk belajar ilmu agama (Tauhid), bahasa Arab, parenting, nyetir mobil, dan mengelola sampah, maka saya berpikir bahwa keempatnya ngga bisa dijalani hanya dengan SKS dan hafalan, melainkan dengan praktik.

Padahal bagian praktik inilah bagian yang paling menantang. Hiks.

Yuk mundur ke belakang. Lihat lagi pelaksanaan NHW#4 yang udah dibuat.

Lancar? enggak. Hiks.

Tahu sebabnya? Tahu. Gadget. #Plakk

Jadi, udah tahu Design Pembelajaran yang akan dijalani? Ya, begini :

  1. Patuh gadget hour.
  2. Membuat time-limit sesuai jenis aktifitas. Ini yang baru kemarin saya canangkan. Karena dengan gadget hour 15-18 dan 19-21 ternyata belum efektif untuk harmoni tugas-tugas rumahtangga, maka saya perlu membuat time-limit.
  3. Membuat media belajar yang bersifat visual untuk semakin menguatkan kosakata bahasa arab yang dipelajari.
  4. Menjadwalkan sharing keluarga di akhir pekan, mengenai pengalaman saya sepekan itu, juga review buku yang saya baca pekan itu (sesuai tema yang sudah saya buat di NHW sebelumnya)
  5. Belajar nyetir belum terlaksanana. Suami belum mau ngajarin lagi. Hiks.

Cukup? ya, segini dulu aja.

Everyone is unique, dan design ini cocok untuk saya saat ini.

Semangat!!

 

 

Catatan Andaru

Sudah lama kami rutin membeli majalah Mombi dan Mombi SD, karena suami meminta loper koran di kantor untuk membawakan majalah-majalah itu. Untuk saat ini sih Mombi (TK)nya kami stop, tinggal yang Mombi SD saja. Terbitnya bulanan.

Karena itulah, majalah-majalah numpuk di rumah. Mau dibuang, sayang banget. Jadilah saya terpikir untuk menulis ulang aja artikel-artikel di majalah itu, tentu dengan menyertakan sumber tulisan. Siapa tahu ada anak-anak yang butuh artikel untuk bahan tugas sekolah mereka kan…

Untuk sementara ini saya yang mengetik ulang. Harapannya sih, Si Kakak suatu saat ikut mengetik juga. Itung-itung latihan menulis/mengetik.

Silahkan ke https://catatanandaru.wordpress.com yaa… Semoga bermanfaat.

 

Review NHW #2

Bismillaah

Berikut ini saya copas aja ya review NHW#2 dari tim IIP.


CHECKLIST PEREMPUAN PROFESIONAL

Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan “rasa” berat untuk mengerjakan nice homework#2 ini. Kalau di Jawa ada pepatah  yang mengatakan “Ojo kalah karo wegah” (Jangan mau kalah dengan rasa malas).  Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU. Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa.

Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga. Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.

KOMITMEN DAN KONSISTEN

Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya.

Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusunDEEP HABIT yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.

Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas  “Shallow Work”, yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.

Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam “shallow activities”, kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.

Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses “peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu, meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, Sehinga bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori “SHALLOW WORK” menjadi “DEEP WORK” (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).

Untuk itu mari kita lihat kembali Checklist kita :

1.Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat “akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah” akan lebih baik anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan Gadget hours selama 2 jam.

2.Apakah kalimat-kalimat di checklist  sudah terukur? misal “Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga”, akan lebih baik kalau diganti dengan ” Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga”

3. Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya.

Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan.

Kembali ke istilah jawa ini namanya “gayuk…gayuk tuna” (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)

4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online. Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.

5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan November. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai Pebruari 2017.

Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya.

Silakan teman-teman  lihat  kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.

Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari.

Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.

Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

 


Fiuuuuuhhh….

Reaksi saya membaca review tersebut adalah,

Pertama, saya bahagia! karena usaha saya dan teman-teman yang udah susah payah menyusun NHW dihargai. Pemilihan kata SALUT itu udah membuat saya merasa spesial.

Kedua, saya menangkap nasehat yang saaaaangat daleem. Nasehat yang tidak menggurui, namun justru didasari rasa ingin membantu/mendukung/merangkul kami. Kami yang tak jarang memang menghabiskan waktu untuk Shallow Work.

Ketiga, setelah mulai tergugah, tersadar bahwa ada yang harus diubah demi terwujudnya Peningkatan Kualitas Diri Perempuan (Ibu), maka kami diajak untuk menuliskan, mencanangkan target-target yang sudah kami susun pada NHW#2 

Keempat, saya disuruh ngeprint booo’.. hihihi. Biar selalu inget, jadi lebih kenceng usaha melakukan target. Hihihi. Baiklah, kalau sebelumnya saya hanya nulis asal-asalan to do list, sekarang saya bikin cantik. Supaya lebih semangattt!

Link di bawah ini format pdfnya

daftar-pekanan-nhw2

Ya Allooh ya Robbi, mohon taufiq untuk menjalani hari.

 

Hari Ini Mama Sudah…

Bismillaah

Pernah, ngga, merasa jengkel sama diri sendiri? merasa diri tak berharga?

Saya sering, hehehe. Kapan itu? Ketika saya merasa do nothing, padahal kan ya ngga bengong-bengong amat di rumah. Pengen berdaya guna, tapi penyakit moody-nya sering kambuh. Sigh.

Trus, saya ngga mau dong keadaan ini berlangsung selamanya. Saya ingin ada perubahan pada diri saya.

Oke, saatnya nengok-nengok pengalaman dulu-dulu. Ketika masih gadis dulu, saya suka mencatat to do list harian, misalnya di kantor saya akan ngerjain apa aja. Atau saya ada rencana pergi ke mana aja, beli apa aja. Ketika itu tercentang semua, rasanya bahagia dan puas. Kalaupun ada yang tidak tercentang, masih oke-oke aja toh lain hari masih bisa dilakukan.

Trus ketika udah berstatus stay at home mom, saya merasa kewalahan aja dengan kerjaan rumah tangga, yang justru rutin sifatnya. Karena saya terpaku pada rutinitas itulah, saya jadi agak kaku nih dalam menyikapi tercentang-tidaknya to do list saya. Kalau ngga banyak centang, saya jadi bete lagi. Huh…

Cukup sudah yaa diombang-ambing suasana hati.

Jadi saya menjadikan to do list saya menjadi seperti ini :

Alhamdulillaah. Selamat, Mama, hari ini sudah :

  1. Mencuci baju
  2. Memasak
  3. dst

Lalu, ngaruh ngga ke suasana hati? ngaruh banget sekaliiiii…! Hihihi. Meskipun tidak setiap hari juga saya mendadak jadi wonderwoman, namun tetap ada semangat untuk merasa berharga sepanjang hari itu.

Dahsyat ya efek yang ditimbulkan dari kata-kata yang positif, yang mengapresiasi sekecil apapun perbuatan. Saya tempel kertas berisi kegiatan saya hari itu di pintu lemari baju saya. Si Kakak melihat-lihat tapi ngga berkomentar apa-apa. Tapi saya tahu, dia akan mudah saya ajak menuliskan hal semacam ini juga untuk pembelajaran keluarga yang InsyaAllah akan saya terapkan, biidznillaah.

Jadi, saya berharga. Saya muslimah, berdaya guna. Alloh menciptakan saya untuk beribadah. Apapun pekerjaan rumah tangga, itu adalah ibadah, untuk mencari ridho Alloh.

 

Belajar di IIP

Bismillaah…

Postingan pertama saya di tahun 2017 adalah tentang Nice Home Work, disingkat NHW. Ujug-ujug nulis tentang tugas/PR, ehehe.

Jadi ceritanya, saya memberanikan diri untuk ikut program Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP). Sebelumnya saya sudah lama mengetahui IIP ini dari buku-buku dan medsos. Dalam hati saya berkata, saya juga pengen kayak ibu-ibu di IIP itu, menjadi ibu sholihah, penyayang dan penyabar, pandai mengatur keuangan keluarga dan menata rumah.

Keinginan yang sangat sederhana. Namun pada praktiknya, saya merasa keteteran, merasa payah dan gagal. Duuuh 😦

Membaca buku Bunda Sayang, pada prinsipnya sih ya seperti ilmu-ilmu parenting pada umumnya. Sudah tahu? yaa tahu siih. Sudah dilaksanakan? yaaa seringnya enggak. Duarr!

Membaca buku Bunda Cekatan, awalnya merasa menggebu untuk mempraktikkan. Yaa sekali-dua kali dipraktikkan, selanjutnya lewaatt… lupaa… malees… ngaliiiir aja kayak ngga punya tujuan. Menjalani rutinitas tanpa ruh, sekedar menyelesaikan supaya ngga numpuk, dan menggugurkan kewajiban. Duh 😦

Sering saya berpikir, saya butuh perubahan. But how?

Saya butuh teman seperjuangan, yang akan rutin saling support dan mengingatkan. Saya memilih ikut komunitas dalam program Matrikulasi IIP batch 3.

Alhamdulillaah, langkah pertama yakni menuliskan HNW, sangat mempengaruhi saya. Memberikan harapan bahwa saya bisa menjadi pribadi yang bersemangat dalam kebaikan, berusaha menjadi ibu dan istri yang lebih baik lagi.

Syukron for Sharing

Bismillaah…

Alhamdulillaah ada internet. Saya bisa ketemu sama blog-blog bermanfaat, insyaaAllah, yang dengan senang hati berbagi ilmu, sumber bacaan, bahan ajar, tautan-tautan bermanfaat dan cerita-cerita inspiratif.

Ada ebook yang bisa dicetak di Raudhah Al-Muhibbin

Ada tautan Belajar Asyik yang dipajang di blognya Ummu Jita

Kepada beliau-beliau penulis blog tersebut, jazaakumullaahu khoiron.

Percaya Diri dan Jualan

Yuk, mulai melanjutkan ngeblog lagi.

Ketika saya membaca tulisan Mba Devi berjudul “Terkadang” ini, ingatan saya melayang mundur ke beberapa bulan lalu. Obrolan kami, nasehat beliau yang cukup membuat saya terinspirasi dan menjadi bersemangat.

Temanya sih tentang Percaya Diri. Percaya diri untuk jualan, tepatnya.

Kami ngobrolin hobi “bikin-bikin prakarya” kami, art and craft bahasa kerennya. Karena beliau cukup sering melihat-lihat karya orang lain yang dijual di pasar/bazaar, beliau jadi berpikir bahwa barang-barang itu cukup mudah untuk beliau buat sendiri. Barang-barang yang berbahan murah namun dijual dengan harga yang oke. Penjual-penjual itu memiliki sesuatu yang tidak semua orang miliki, yaitu Percaya Diri. Mereka pede dengan barang yang mereka jual. Itu kesimpulannya.

Nah, pede ini yang nampaknya tidak saya punyai saat itu. Setiap kali hendak membuat karya untuk dijual, saya kuatir apakah karya saya akan diminati, apakah akan laku. Mengingat saya menilai diri saya sendiri sebagai crafter yang cukup pemilih dan perfeksionis. Pemilih berarti saya hanya membuat dan menjual karya yang saya suka. Perfeksionis berarti saya membuatnya dengan hati-hati (biasanya memakan waktu lama) yang berimbas pada harga jual.

Saya ngga pede jika ada calon pembeli yang beranggapan bahwa harga yang saya bandrol terlalu tinggi untuk barang tertentu yang orang lainpun bikin. Duh, sebenarnya bahasan beginian udah pernah dibahas di forum crafter. Pilihan ada di masing-masing orang, dan saya sepertinya memilih untuk Work For Free or Full Price, Never For Cheap. Sekumpulan kalimat keren yang saya dapat dari Instagram.

Terima kasih ya, Mbak Dev, untuk obrolan waktu itu.

Dengan terbitnya tulisan ini, berarti saya sedang percaya diri untuk berkarya. Meskipun saya merasa tulisan saya masih berantakan dan tidak cukup mulus sambungan antarkalimatnya, saya berlatih untuk pede klik publish. Hehe.

 

Apa Kabar, Mbak?

“Apa kabar, Mbak? apa kegiatanmu sekarang? eh, nama blogmu apa ya, aku mau lihat aktifitasmu setelah berhenti bekerja (resign)…”

Hehehe… saya pernah diberondong dengan pertanyaan semacam itu oleh seorang teman. Teman yang resah dan bimbang. Akankah dia tetap bekerja, atau resign saja.

Dari obrolan selanjutnya sih, dia sebenernya sudah paham kok kalau dia seharusnya berada di rumah, berhenti bekerja. Jadi saya ngga perlu membantunya menggali pertimbangan sisi kelebihan dan kekurangan pilihannya. Namun yaa masih saja terlintas kekhawatiran-kekhawatiran bila dia berhenti bekerja. Kalau nanti kekurangan uang, bagaimana? Kalau nanti suami berpulang duluan, sementara dia tidak lagi bekerja, bagaimana nafkah anak-anak? Daaan bagaimana-bagaimana yang lainnya…

Ya, manusiawi dan wajar banget. Itu semua masuk akal kok. Dan kemungkinan itu akan selalu ada.

Tapi, terkadang kita perlu melongok ke dalam dada kita sebab Alloh Ta’ala sudah mengaruniakan hati yang sudah diset sesuai fitrah dari-Nya kok. Apa iya, kita ngga percaya sama Alloh yang Maha Kaya? Apa iya, kita meragukan hikmah dari setiap perintah-Nya? Beneran, berani ngeyel sama Dia? Kalau saya tempo hari sih, saya ngga berani ngeyel, lha wong alasan saya ngga ada yang cukup kuat kok untuk saya tetep bekerja. ^^

Jadi, apapun pilihanmu, Teman, sebaiknya sejak sekarang siapkan deh jawaban untuk pertanggungjawaban kelak.

“Emang, Mbak ngga pernah khawatir tentang kemungkinan-kemungkinan di atas?”

Ya sering…! 🙂

Saya sering khawatir, pas ada keperluan mendesak, saya ngga punya uang. Saya sering khawatir bila Ayahnya anak-anak berpulang lebih dulu, lalu bla bla bla… Baca lebih lanjut