Bola

Saya sedang mengupas kulit pepaya. Adik menghampiri.

“Bola…”, serunya ketika melihat biji-biji pepaya berwarna hitam.

Ini biji, Nak.

“Biji bola…”, lanjutnya.

Eeng… Ya baiklah, memang bentuknya bulat-bulat sih, kayak bola ya, Diiik… Hihihi.


mobile wordpress

Sampah Dapur dan Pupuk Kompos Cair

Setelah tidak bekerja, saya punya banyak waktu untuk merealisasikan keinginan (saya dan suami) untuk mengolah sampah. Khususnya sampah dapur. Apalagi waktu tahu ada teman yang juga bersemangat mengolahnya. Sebelumnya, ketika isu-isu peduli lingkungan, semangat Go Green, sedang banyak diberitakan dan disosialisasikan media, saya hanya kepengan-kepengen aja.

Paling-paling saya melakukan penghematan kertas, penggunaan kembali kertas bekas, membawa minum dari rumah (pake gelas), yaah yang kecil-kecil gitu lah. Ohya, pernah juga bikin kertas daur ulang dari koran bekas. Karena hanya sebatas coba-coba dan tidak serius, saya ngga melakukannya lagi.

Tapi ketika ada pameran Flona di bulan Juli lalu, saya dan suami membeli Komposter (tong pembuat kompos) dan Bio Kompos-nya (bakteri pembusuk sampah).

Di tong tertulis Made in India. Weleeh, saya rasa kita bikin sendiri juga bisa πŸ˜› hanya tong biasa yang dimodifikasi sedikit. Dikasih semacam ‘sarangan dandang’ (istilah nasionalnya apa ya? ada yang tahu?) dari bahan polikarbonat, dan beberapa pipa pendek sebagai lubang udara.

Β Kalo yang di samping ini adalah Bio-Komposnya.

Jadi yang saya lakukan adalah memilah sampah dapur. Misalnya kulit bawang, kulit wortel, kentang, kulit dan biji mangga, tulang ayam, dan kawan-kawan selain kertas dan plastik. Masukkan ke dalam komposter, kemudian siram dengan sedikit biokompos yang sudah diencerkan dengan air. Begitu seterusnya. Jujur saja, saya ngga pake aturan-aturan yang pakem, heheh, agak-agak ngawur ini.

Dan inilah hasil panen saya, hehe… Warnanya hitam, bentuknya cair, berbau sampah dikit (tapi masih mending daripada sampah-sampah yang udah kecampur di bak sampah).

Bagaimana? Anda tertarik mengolah sampah? Let’s Go Green…! ^_^

Menimbang, Mengingat, Memutuskan…

Wiii… judulnya mengingatkanku pada redaksi Surat-surat Keputusan yang sering kubaca sewaktu masih ngantor dulu, hihi. Hari ini saya mau membahas lagi tentang sebab-sebab dan perjalanan resign saya karena sampai saat ini pun masih ada beberapa teman yang bertanya.

Ya memang masalah bekerja atau tidak itu membingungkan, dan bukan masalah ringan bagi sebagian orang. Termasuk saya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Sisi A dan B, sisi Plus dan Minusnya. Dan kalo hanya dihitung secara matematika, ngga akan “ketemu”. Bersyukur saya punya Allah, Maha Tahu segala hal, yang mengarahkan saya, menunjuki saya kepada jalan yang menyenangkan ini.

Saya menghabiskan waktu kurang-lebih setengah tahun untuk yakin. Selama itu saya banyak membaca, mendengar, dan melihat.Β  Baca lebih lanjut