NiceHomework#4

Bismillah

Setelah di NHW#2 saya diajak untuk membuat indikator keprofesionalan saya sebagai manusia, maka tugas di NHW#4 adalah untuk mempertajam, mengajak saya lebih fokus melaksanakannya.

a. Mari kita lihat kembali Nice Homework #1 , apakah sampai hari ini anda tetap memilih jurusan ilmu tersebut di Universitas Kehidupan ini? Atau setelah merenung beberapa minggu ini, anda ingin mengubah jurusan ilmu yang akan dikuasai?

Saya tetap pada pilihan saya.

b. Mari kita lihat Nice Homework #2, sudahkah kita belajar konsisten untuk mengisi checklist harian kita? Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpacu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita.

Nah ini bagian tersulit. Hiks, huwaaaaaaaaa… 😦

Saya belum konsisten. Saya masih sering menunda pekerjaan. Saya belum keras berlatih.

c. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #3, apakah sudah terbayang apa kira-kira maksud Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Kalau sudah, maka tetapkan bidang yang akan kita kuasai, sehingga peran hidup anda akan makin terlihat.

Sebenernya udah pernah membaca dan mendengar, bahwa saya diciptakan Alloh Ta’ala adalah untuk beribadah kepada-Nya.

Ibadah adalah segala hal yang Alloh cintai, Allah ridhoi.

Dari mana saya tahu tentang yang Alloh cinta dan ridho? Dari sunnah Rosul Muhammad ShollaLloohu ‘alayhi wasallam, sunnah Khulafaurrasyid, para Shahabat, dan nasehat para ulama.

c. Setelah menemukan 3 hal tersebut, susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.

Mengingat kaidah Melakukan yang wajib, kemudian yang Sunnah, maka set langkah saya :

KM 0 (nol kilometer), adalah hari ini untuk berlatih menjadi ibu yang bertanggungjawab. Salah satu cara yang saya tempuh adalah mengikuti dan lulus program Matrikulasi IIP ini. Kemudian dilanjutkan KM 1 dan seterusnya adalah Program Bunda Sayang, Bunda Cekatan dan seterusnya sesuai program wajib di IIP.

KM 0 di ilmu agama adalah mulai hari ini. Berjuang meluangkan waktu untuk membaca Kitab Suci, Tafsir, dan buku yang lain.

KM 0 di belajar mengemudi adalah di akhir pekan ini. Saya belum menemukan tempat kursus setir mobil khusus perempuan, sehingga saya akan mulai merayu kembali suami untuk ngajari saya. hihihihi.

KM 0 di pengolahan sampah adalah bulan ini. Sudah menumpuk banyak itu cup bekas eskrim dan tutup galon. Belajar adalah dengan melakukan.

Saya memilih jurusan ilmu yang bersifat seumur hidup, dan paling mendasar (menurut saya lho) sebagai manusia. Kebermanfaatan diri saya yang saya harapkan, sesuai dengan kapasitas saya yang terbatas ini.

e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#2, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

Saya merevisi aktifitas harian saya dengan menambahkan bagaimana perasaan saya ketika melakukannya.

nhw-daftar-pekanan-revisi1

f. Lakukan, lakukan, dan lakukan. Buatlah sejarah!

I have my own journey. Saya merencanakan apa yang saya mampu raih. Terlihat sangat sederhana checklist harian saya. Saya sengaja membuatnya demikian. Saya ingin “selesai dengan diri sendiri” dulu sebelum saya berpikir untuk menginspirasi orang.

Seperti halnya Bu Septi Wulandari, Founder IIP, penggagas materi-materi di IIP. Beliau kini mempunyai misi hidup sebagai inspirator dalam bidang pendidikan ibu dan anak. Tentu, beliau mengajarkan apa yang sudah beliau kerjakan. Walk the talk.

Fokus saya saat ini, keberadaan saya bermanfaat untuk keluarga saya ; suami dan anak-anak. Target saya saat ini adalah Lillah, agar aktifitas kerumahtanggaan saya tak hanya berujung Lelah.

Semangat!!

 

Materi 4 Matrikulasi IIP Batch 3

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini.

Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi.

Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI.

Apakah mudah? TIDAK.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain.

Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah Anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3.

Bagi yang sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi Anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“ Just DO It”,

Lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada Apa yang harus dipelajari anak-anak kita,  bukan pada Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut, sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu :

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:

a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya. Tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

e. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

f. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition”.

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Page 2 of 10

Catatan Andaru

Sudah lama kami rutin membeli majalah Mombi dan Mombi SD, karena suami meminta loper koran di kantor untuk membawakan majalah-majalah itu. Untuk saat ini sih Mombi (TK)nya kami stop, tinggal yang Mombi SD saja. Terbitnya bulanan.

Karena itulah, majalah-majalah numpuk di rumah. Mau dibuang, sayang banget. Jadilah saya terpikir untuk menulis ulang aja artikel-artikel di majalah itu, tentu dengan menyertakan sumber tulisan. Siapa tahu ada anak-anak yang butuh artikel untuk bahan tugas sekolah mereka kan…

Untuk sementara ini saya yang mengetik ulang. Harapannya sih, Si Kakak suatu saat ikut mengetik juga. Itung-itung latihan menulis/mengetik.

Silahkan ke https://catatanandaru.wordpress.com yaa… Semoga bermanfaat.

 

Review NHW #2

Bismillaah

Berikut ini saya copas aja ya review NHW#2 dari tim IIP.


CHECKLIST PEREMPUAN PROFESIONAL

Pertama yang akan kami katakan adalah SALUT untuk para bunda dan calon bunda peserta matrikulasi Ibu Profesional yang berhasil mengalahkan “rasa” berat untuk mengerjakan nice homework#2 ini. Kalau di Jawa ada pepatah  yang mengatakan “Ojo kalah karo wegah” (Jangan mau kalah dengan rasa malas).  Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU. Terbukti teman-teman bisa melakukannya di tengah kesibukan yang luar biasa.

Kami sangat menghargai proses teman-teman membuat checklist profesionalisme ini. Mulai dari menanti-nanti jawaban dari suami dan anak bagi yang sudah berkeluarga, maupun melakukan kesungguhan bermain “andaikata aku menjadi istri dan ibu” bagi yang sedang dalam proses memantaskan diri membangun keluarga. Ada yang terkaget-kaget dengan banyaknya list jawaban dari suami dan anak-anak, ada juga yang bingung dengan jawaban dari para suami dan anak, karena terlalu sederhananya keinginan mereka terhadap kita, demi sebuah kebahagiaan.

KOMITMEN DAN KONSISTEN

Dua kata itulah yang akan menjadi kunci keberhasilan kita dalam membuat checklist profesionalisme ini. Buatlah komitmen setahap demi setahap, sesuai dengan kemampuan kita, kemudian belajar istiqomah, konsisten menjalankannya.

Konsistensi kita terhadap sebuah komitmen yang indikatornya kita susun sendiri, akan menjadi pondasi kita dalam menyusunDEEP HABIT yaitu kebiasaan-kebiasaan yang dibangun secara terus menerus untuk mendukung aktivitas yang membutuhkan fokus, ketajaman berpikir dan benar-benar krusial untuk hidup kita.

Selama ini disadari atau tidak banyak diantara kita memaknai aktivitas sehari-hari mendidik anak dan mengelola keluarga sebagai aktivitas  “Shallow Work”, yaitu aktivitas yang dangkal, tidak fokus, penuh distraksi (gangguan-gangguan) sehingga tidak memunculkan perubahan besar dalam hidup kita, bahkan banyak yang cenderung bosan dengan kesehariannya.

Selama ini status-status dangkal yang terus mengalir di sosial media seperti Facebook (FB) ditambah puluhan notifikasi whatsapp (WA) sering membuat kita terjebak dalam “shallow activities”, kelihatan sibuk menghabiskan waktu, tetapi sebenarnya tidak memberikan hasil nyata bagi perubahan hidup kita.

Harapan kami dengan adanya Checklist Profesionalisme Perempuan ini, teman-teman akan lebih fokus dalam proses “peningkatan kualitas diri” kita sebagai perempuan, istri dan ibu, meski kita menggunakan media WA dan FB sebagai kendaraan belajar kita, Sehinga bisa mengubah aktivitas yang dulunya masuk kategori “SHALLOW WORK” menjadi “DEEP WORK” (aktivitas yang memerlukan fokus, ketajaman berpikir sehingga membawa perubahan besar dalam hidup kita).

Untuk itu mari kita lihat kembali Checklist kita :

1.Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat “akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah” akan lebih baik anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan Gadget hours selama 2 jam.

2.Apakah kalimat-kalimat di checklist  sudah terukur? misal “Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga”, akan lebih baik kalau diganti dengan ” Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga”

3. Apakah checklist yang kita tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan? ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya.

Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan.

Kembali ke istilah jawa ini namanya “gayuk…gayuk tuna” (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai proses)

4. Apakah tantangan yang kita tulis di checklist ini merupakan tantangan-tantangan yang kita hadapi sehari-hari? misal anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP baik offline maupun online. Jadi jelas memang akan menyelesaikan tantangan yang ada selama ini.

5. Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan November. Akan belajar tepat waktu selama 1 bulan pertama mulai Pebruari 2017.

Kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi nantinya.

Silakan teman-teman  lihat  kembali checklist masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri kita.

Silakan di print out, dan ditempel di tempat yang kita lihat setiap hari.

Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang kita tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita.

Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

 


Fiuuuuuhhh….

Reaksi saya membaca review tersebut adalah,

Pertama, saya bahagia! karena usaha saya dan teman-teman yang udah susah payah menyusun NHW dihargai. Pemilihan kata SALUT itu udah membuat saya merasa spesial.

Kedua, saya menangkap nasehat yang saaaaangat daleem. Nasehat yang tidak menggurui, namun justru didasari rasa ingin membantu/mendukung/merangkul kami. Kami yang tak jarang memang menghabiskan waktu untuk Shallow Work.

Ketiga, setelah mulai tergugah, tersadar bahwa ada yang harus diubah demi terwujudnya Peningkatan Kualitas Diri Perempuan (Ibu), maka kami diajak untuk menuliskan, mencanangkan target-target yang sudah kami susun pada NHW#2 

Keempat, saya disuruh ngeprint booo’.. hihihi. Biar selalu inget, jadi lebih kenceng usaha melakukan target. Hihihi. Baiklah, kalau sebelumnya saya hanya nulis asal-asalan to do list, sekarang saya bikin cantik. Supaya lebih semangattt!

Link di bawah ini format pdfnya

daftar-pekanan-nhw2

Ya Allooh ya Robbi, mohon taufiq untuk menjalani hari.

 

Hari Ini Mama Sudah…

Bismillaah

Pernah, ngga, merasa jengkel sama diri sendiri? merasa diri tak berharga?

Saya sering, hehehe. Kapan itu? Ketika saya merasa do nothing, padahal kan ya ngga bengong-bengong amat di rumah. Pengen berdaya guna, tapi penyakit moody-nya sering kambuh. Sigh.

Trus, saya ngga mau dong keadaan ini berlangsung selamanya. Saya ingin ada perubahan pada diri saya.

Oke, saatnya nengok-nengok pengalaman dulu-dulu. Ketika masih gadis dulu, saya suka mencatat to do list harian, misalnya di kantor saya akan ngerjain apa aja. Atau saya ada rencana pergi ke mana aja, beli apa aja. Ketika itu tercentang semua, rasanya bahagia dan puas. Kalaupun ada yang tidak tercentang, masih oke-oke aja toh lain hari masih bisa dilakukan.

Trus ketika udah berstatus stay at home mom, saya merasa kewalahan aja dengan kerjaan rumah tangga, yang justru rutin sifatnya. Karena saya terpaku pada rutinitas itulah, saya jadi agak kaku nih dalam menyikapi tercentang-tidaknya to do list saya. Kalau ngga banyak centang, saya jadi bete lagi. Huh…

Cukup sudah yaa diombang-ambing suasana hati.

Jadi saya menjadikan to do list saya menjadi seperti ini :

Alhamdulillaah. Selamat, Mama, hari ini sudah :

  1. Mencuci baju
  2. Memasak
  3. dst

Lalu, ngaruh ngga ke suasana hati? ngaruh banget sekaliiiii…! Hihihi. Meskipun tidak setiap hari juga saya mendadak jadi wonderwoman, namun tetap ada semangat untuk merasa berharga sepanjang hari itu.

Dahsyat ya efek yang ditimbulkan dari kata-kata yang positif, yang mengapresiasi sekecil apapun perbuatan. Saya tempel kertas berisi kegiatan saya hari itu di pintu lemari baju saya. Si Kakak melihat-lihat tapi ngga berkomentar apa-apa. Tapi saya tahu, dia akan mudah saya ajak menuliskan hal semacam ini juga untuk pembelajaran keluarga yang InsyaAllah akan saya terapkan, biidznillaah.

Jadi, saya berharga. Saya muslimah, berdaya guna. Alloh menciptakan saya untuk beribadah. Apapun pekerjaan rumah tangga, itu adalah ibadah, untuk mencari ridho Alloh.

 

NiceHomeWork#2

Bismillaah…

NHW#2 ini saya rasakan lebih berat

(…Tarik napas…)

karena tugasnya adalah membuat checklist indikator-indikator profesionalisme perempuan, sebagai individu, istri, dan ibu, yang saya sendiri bisa menjalankannya. Boleh tanya dulu ke suami dan anak-anak tentang harapan mereka kepada saya.

Indikator itu haruslah SMART ; Specific, Measurable (terukur), Achievable, Realistic, and Timebond (batas waktu)

Dengan metode wawancara, pengalaman saya sih, suami hanya menjawab “jadilah dirimu sendiri”. Kalau kepada anak-anak, jawaban utamanya “jangan marah-marah” 🙂 Jlebbb!!

Saya memilih menyatukan peran saya (sebagai individu, istri, dan ibu) karena satu-sama lain saling berkaitan.

Dirangkum berdasarkan :

a. kesadaran bahwa saya adalah hamba Alloh yang diperintahkan untuk bertaqwa kepada-Nya

b. hasil wawancara dan mengingat respon suami dan anak-anak terhadap apa yang saya lakukan selama ini

c. suara hati saya

maka berikut ini hasilnya :

  1. Menjaga sholat. Maksimal molornya 30 menit dari adzan. Semangaatt, Mamaa!
  2. Tilawah Al-qur’an, setiap hari, 1 jam (akumulasi). Berjuanglah, Mama!
  3. Membaca Al-Mulk, setiap malam. You can do it, Mama!
  4. Dzikir pagi-petang, setiap hari
  5. Membaca buku dan/atau mendengarkan rekaman kajian Islam tema Aqidah (pekan 1), Fiqih (pekan 2), Akhlaq (pekan 3), Sejarah (pekan 4). Let’s do it!
  6. Membacakan buku dan/atau beraktifitas melibatkan anak-anak sesuai tema pekanan. This is it!
  7. Membaca buku parenting, hari Sabtu-Ahad. Itu buku-buku jangan dipajang aja, hihi.
  8. Exciting Thing, setiap hari, terdiri atas memasak, mencuci baju, menata rumah dan lain sebagainya pekerjaan domestik rumah tangga. C’mon give it a shot!!! hapenya disimpen duluuuu!!!
  9. Free gadget jam 15-18, 19-21. Umpetiiiiiiin!
  10. Belajar Bahasa Arab dengan rekaman kajian Durusul Lughoh di radio Rodja setiap Senin, Rabu, dan Jum’at. Pasti sempet, Mama!
  11. Crafting, setiap hari, waktunya menyesuaikan maksimal 30 menit. Itu bahan craft numpuk, Mama, ayo tanggungjawab. Hihi.
  12. Mengajari anak-anak mengaji, setiap hari, setelah Maghrib atau Isya, atau menyesuaikan. Tiap hari, Mamaaaa, itu anaknya jangan dilepasin aja ngajinya!

Fiuuuuhhhh…

Sudah? iya sudah, segitu dulu aja. Jalani duluuu dan konsistenlah sebulaaaan aja dulu.

Ya Allooh… saya memohon pertolongan…

Ganbate!


Rencana-rencana di atas sebagai sebuah acuan agar semua tetap on track. Dibuat  fleksibel mengikuti keadaan di lapangan.

 

Review NHW #1

Bismillaah

Tadi malam di Whatsapp Group dibahas review NHW#1. Saya rangkum dengan kata-kata tambahan yaa… Monggo…

Dalam konteks NHW, tidak ada jawaban benar atau salah, karena yang diminta adalah untuk fokus saja pada ilmu-ilmu yang akan ditekuni. Fokus dan percaya diri.

Tentu saja ada tantangan yang harus dihadapi, yaitu :

~ bagaimana menentukan ilmu yang akan dipelajari atau hal-hal yang diminati (passion)

Bahkan menentukan mau ngapain aja sering membingungkan ya…

Untuk itu perlu membuat atau memilih skala prioritas. Tentukan alasan terkuat untuk apa kita perlu mempelajari suatu hal. Kesadaran untuk memilih ini sebagai bahan bakar semangat kita dalam menjalankannya.

Untuk memilih skala prioritas jika passionnya di banyak bidang, fokus dulu aja ke passion yang paling memungkinkan untuk diwujudkan. Saat ilmu-ilmu lain menggoda, gunakan prinsip menarik, tapi tidak tertarik“.

Tatkala muncul indikator di diri kita beberapa hal berikut ini, pada saat menjalankan suatu aktivitas :

  1. Rasa ingin tahu semakin tinggi di bidang tersebut,
  2. Mata semakin berbinar,
  3. Semangat tak pernah pudar,
  4. Tidak pernah capek, mengeluh,
  5. Imunitas tubuh naik, karena selalu bahagia,

maka kemungkinan itu bakat kita.

Passion adalah sesuatu yang membuat mata berbinar-binar saat melakukan, merasa senang/sehat, tidak merasa lelah, capek dan bete, karena saat itu endorphin berproduksi.

Setiap selesai mendapat ilmu baru segera tuliskan, apa perubahan yg harus dilakukan mulai besok berkaitan dengan ilmu tersebut. Kunci saat mendapat ilmu adalah segera praktikkan, tidak perlu menunggu sukses, melainkan proses yang berharga ini harus diamalkan dan disampaikan.

~ Strategi pelaksanaannya.

Yang terbanyak digalaukan Ibu-ibu di group saya yaaa apalagi kalau bukan manajemen waktu dan perasaan. Lhooo kok bawa-bawa perasaan? ehehehe. Umumnya wanita memang cenderung baper (moody) ya.

Merasa pontang-panting karena manajemen waktu buruk, baper.

Baper berlarut-larut, berimbas pada manajemen waktu yang buruk.

Haiyaaah bak lingkaran setan.

Maka…

Buat jadwal harian, patuhi, evaluasi selama seminggu dulu, cari yang cocok buat kita. Ada teori 7 to7, ada teori kandang waktu, ada teori standar pagi-siang-petang… (akan ada di Materi selanjutnya)

Lakukan, lakukan, lakukan, sampai terbentuk habbit. Minimal 90 hari. Bisa dicicil dulu, tantang diri dengan melakukannya sepekan dulu atau 10 hari dulu..

Konsisten terhadap jadwal yg sudah dibuat. Lakukan apa yang sudah ditulis, dan tulis apa yang sudah dilakukan untuk bahan evaluasi.

Komunikasikan dengan keluarga terdekat mengenai tujuan kita. Agar bisa ikut mengawasi kita tetap on track.

Masalah lain lagi adalah kita sering merasa kehabisan waktu. Kita? saya doang ‘kalee… hiks. Godaan buka sosmed, godaan chit-chat dengan teman dan godaan nengok obrolan di group-group. Hihihihi.

Maka…

Menentukan berapa lama kita akan bergadget dan bersosmed ria. Dan patuhilah. Straight.

Apabila kita keras pada diri sendiri, maka lingkunganlah yang akan lunak kepada hidup kita, demikian juga sebaliknya. Ayo berkomitmen dengan “gadget hour” kita, jangan mau kita diperbudak gadget. Gadgetlah yang harus bekerja untuk kita.

Wuiiiihh.. benar-benar membakar (semangat) !

Kalau diri kita udah melakukan, akan muncul perasaan berharga. Selanjutnya semakin percaya diri, bahwa kita bisa.

Uudah deh, ngga baper laagi deh. Yekan?

 

Tentang Saya

gambar nyomot di internet

Apa yang Anda rasakan bila Anda diminta mendeskripsikan diri Anda sendiri, tentang kepribadian pun cita-cita Anda?

Kalau saya… saya bingung. Weeewh… *lap keringet

Sewaktu mendaftar kelas Matrikulasi IIP beberapa waktu yang lalu, saya diminta mengisi formulir. Salah satu pertanyaannya adalah “Apa kekuatan Anda?”. Duuh binguung saya njawabnya.

Apa kekuatan saya? Apa kebisaan saya yang dominan? Apa keinginan saya?

Saya senang belajar. Halah mosook?

Saya periang. Huu, tenanee?

Saya ingin masuk surga. Lha kok sholate sering molor?

Saya… Aaaahh… *jambak rambut

Saya kesulitan menuliskan hal-hal positif tentang diri saya. Kayaknya saya perlu ikut pelatihan pengembangan diri nih rupanyaa. Saya bahkan lupa menuliskan apa di formulir itu. Gubrak!

Saya sedikit tahu sih, kalau konsep diri itu penting. Bagaimana saya memandang diri saya sendiri akan berpengaruh terhadap bagaimana saya menjalani hidup. Yang saya ingat, saya pernah menuliskan Tentang Saya di blog ini sebagai Stay At Home Mom Wannabe. Pernah juga nulis saya ini Pemulung.

Nah!

Sekarang saya udah ngga Wannabe lagi lho stay at home mom-nya. Sekarang saya memang ngumpulin sampah lho, meski skala rumah tangga. Yang saya tuliskan, saya bayangkan, saya dambakan, yang saya berminat padanya, menjadi kenyataan. MaasyaaAllooh.

Jadi… sebaiknya saya segera mematrikan dalam hati saya, bahwa saya punya hal-hal positif, punya kekuatan baik, untuk saya pupuk dan kembangkan. Layaknya kalimat sakti, menuliskannya juga perlu ini kayaknya mengingat saya ini masih sering lalai dan lupa.

Yo wis ndang!

 

Belajar di IIP

Bismillaah…

Postingan pertama saya di tahun 2017 adalah tentang Nice Home Work, disingkat NHW. Ujug-ujug nulis tentang tugas/PR, ehehe.

Jadi ceritanya, saya memberanikan diri untuk ikut program Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP). Sebelumnya saya sudah lama mengetahui IIP ini dari buku-buku dan medsos. Dalam hati saya berkata, saya juga pengen kayak ibu-ibu di IIP itu, menjadi ibu sholihah, penyayang dan penyabar, pandai mengatur keuangan keluarga dan menata rumah.

Keinginan yang sangat sederhana. Namun pada praktiknya, saya merasa keteteran, merasa payah dan gagal. Duuuh 😦

Membaca buku Bunda Sayang, pada prinsipnya sih ya seperti ilmu-ilmu parenting pada umumnya. Sudah tahu? yaa tahu siih. Sudah dilaksanakan? yaaa seringnya enggak. Duarr!

Membaca buku Bunda Cekatan, awalnya merasa menggebu untuk mempraktikkan. Yaa sekali-dua kali dipraktikkan, selanjutnya lewaatt… lupaa… malees… ngaliiiir aja kayak ngga punya tujuan. Menjalani rutinitas tanpa ruh, sekedar menyelesaikan supaya ngga numpuk, dan menggugurkan kewajiban. Duh 😦

Sering saya berpikir, saya butuh perubahan. But how?

Saya butuh teman seperjuangan, yang akan rutin saling support dan mengingatkan. Saya memilih ikut komunitas dalam program Matrikulasi IIP batch 3.

Alhamdulillaah, langkah pertama yakni menuliskan HNW, sangat mempengaruhi saya. Memberikan harapan bahwa saya bisa menjadi pribadi yang bersemangat dalam kebaikan, berusaha menjadi ibu dan istri yang lebih baik lagi.