Investasi Buku

Hari Ahad yang lalu, Mama merapikan meja belajar anak-anak di kamar. Debunya banyak. Buku-buku juga berantakan. Nyampuuuur aja. Nah sekalian sortir deh, sesuai kategori.

Ketemu sama Ensyclopebee yang sejak beberapa tahun lalu saya beli, sejak Kakak R masih piyik. Hihi, biasaaa, karena tergoda promonya Mbak Sales Bee Magazine, dibela-belain beli secara nyicil πŸ™‚

Alhamdulillaah, buku bisa kepake sampe sekarang. Investasi buku tak pernah rugi, Buu… hehe

Sementara Mama beberes, Mas U baca-baca. Kakak R dan Mas A kemana? sedang di perjalanan dari mudik πŸ™‚

#Day8 #GamesLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBundaSayang #InstitutIbuProfesional #ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Iklan

Read Aloud

Sabtu malam, ada Pakde dan Bude anak-anak yang datang, untuk menemani saya dan Mas U yang ditinggal mudik oleh Ayah, Kakak R, dan Mas A. Kegiatan kami setelah santai ba’da Isya adalah kembali membaca komik Muslim Cilik Cintai Masjid. Read Aloud, saya membacakannya dan Mas U mendengarkan sambil melihat komiknya.

Small step banget ya perjalanan kami merimbunkan Pohon Literasi. Hehe. Ngga papa ya, Nak. Tetep semangatt !!

#Day6 #Tantangan10Hari #GamesLevel5 #KuliahBundaSayang #InstitutIbuProfesional #ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Asal Baca AjaΒ 

Kemarin malam kumat lagi ketidakkonsistenan saya ngawal anak-anak membaca buku. Huhuhu. Kadang tenaga tidak full tank, perut rasa ngga enak, nyeri punggung, dan sebagainya rasa ibu hamil.

Kakak R mengerjakan PR, alhamdulillah dia sudah mandiri, tidak harus dibantu kecuali memang dia merasa kesulitan.

Mas A baca buku tapi tidak tuntas. Mas U malah nonton tivi. Hufh…

Alhamdulillah Ayah pulang lebih cepat daripada biasanya. Setelah makan malam dan menemani Kakak R bikin PR, kami ke rumah kawan untuk nanya-nanya tentang pesantren yang Kakak R ingin melanjutkan sekolah ke sana.

Semoga Alloh memberi kemudahan Kakak R bersekolah di sana, mentakdirkan Kakak R menimba ilmu di sana. Aamiin.

Jadi kegiatan baca bukunya bagaimana? Asal baca saja deh hari ini. He he.

#day4 #GameLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBundaSayang #InstitutIbuProfesional

Baca Apa?

Alhamdulillaah, setelah melihat Pohon Literasi, anak-anak mulai membaca buku lagi. Yang paling seneng baca sih Mas U, tapi ya itu tidak pernah tuntas kecuali komik Pengen Jadi Baik (PJB). Anak-anak ngga bosen-bosen baca komik itu, seperti ngga ada buku lain aja. Tapi memang komiknya lucu dan membawa pesan-pesan kebaikan sih dengan gambar dan tulisan yang enak dibaca/dilihat.

Kunci dari keberhasilan merimbunkan Pohon sih dengan mengatur waktu ya. Jadi saya mulai memberlakukan “jam membaca” yaitu setelah belajar, sekitar jam 8 malam. Anak-anak mulai ambil buku, tapi yang antusias menempelkan daun hanya Mas A. Sebetulnya baca bukunya juga tidak sampai tamat, tapi untuk menghargai semangatnya, maka tetep kami tempelkan. Baca Apa? Komik! hihihi. Komik Pesantren Keren ini bagus juga. Bahasanya mudah dicerna, ceritanya lucu dan sarat pesan.

Selamat ya, Mas A !

#Day2 #GamesLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBundaSayang #InstitutIbuProfesional #ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Pohon Literasi

Setelah lamaaaaa ngga ngerjain Tantangan 10 hari Kelas Bunda Sayang, bismillaah saya mulai melanjutkan lagi ya. Masih ragu juga sih, mengingat saya sudah mendekati HPL nih. Mau lanjut Bunsay atau mengajukan cuti dulu aja.

Yah, kalaupun akhirnya cuti, saya coba lanjut saja… masih ada hari-hari yang bisa dioptimalkan untuk belajar di Bunsay.

Materi kelima adalah MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA.

Dan games kali ini adalah membuat Pohon Literasi dan Merimbunkannya. Heheh. Membuatnya sih mudah. Merimbunkannya ini yang perlu usaha. Ya iyalaah…

Jadi, pada Senin kemarin saya mulai membuatnya. Bahan dan alatnya adalah kardus bekas, flanel, pita, gunting, lem, dan ranting kering. Setelah jadi nanti ditempel atau digantung di dinding.

Ayo semangat merimbunkan daunnya, Mama. Kurangi main medsos, tambah alokasi waktu membaca buku. Tempelkan daunnya setelah satu judul buku selesai dibaca.

Semangattt !

Pohon Literasi

#Day1 #GamesLevel5 #Tantangan10Hari #KuliahBundaSayang #InstitutIbuProfesional #ForThingsToChangeIMustChangeFirst

 

Review Materi#2 Bunda Sayang IIP

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan 10 hari tentang β€œMELATIH KEMANDIRIAN ANAK”. 
Pekan ini kita akan review berbagai pola kemandirian yang telah Bunda lakukan bersama dengan anak-anak di rumah. 
🌟 Selamat untuk para Bunda, yang berhasil menyelesaikan tantangan 10 hari ini sampai dengan tanggal 30 juli 2017, dengan berbagai kondisi, ada yang konsisten setiap hari, lompat-lompat, maupun dirapel.
Sekali lagi KONSISTENSI masih diperlukan di tahap bunda sayang ini, karena Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus menerus melakukan sesuatu sampai  tercapai tujuan akhir. 
Sikap/sifat yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi luar biasa.
KEMANDIRIAN erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada  seberapa besar tingkat keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa bergantung pada orang lain.
Anak mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri. 
Seorang anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa  life skill yang perlu dimiliki oleh anak.
Ketika hari ini bunda bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka 
Jangan pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah
Hasilnya akan bunda lihat dalam beberapa tahun mendatang, tidak seketika. Sehingga hal inlah kadang yang menggoda keteguhan kita untuk bersungguh –sungguh mendidik kemandirian anak kita. 
Karena kalau kita berhenti melatih kemandirian anak akan muncul perilaku negatif yang dapat menjauhkan anak dari kemandirian di usia selanjutnya.
Gejala-gejala tersebut seperti contoh di bawah ini:

a. Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku  tidak konsisten.
b. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya.
c.Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.
Kalau melihat gejala-gejala di atas, menyelesaikan tugas kemandirian anak  sekarang, sifatnya menjadi wajib dalam membangun peradaban dunia ini. Karena merekalah nanti yang disebut generasi penerus pembangun peradaban.
Berikut beberapa indikator yang bisa bunda lihat untuk melihat tingkat keberhasilan anak-anak kita secara global. 
πŸ„ Ciri khas kemandirian anak :

a. Anak mandiri mempunyai kecenderungan memecahkan masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran.
b. Anak mandiri tidak takut dalam mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan hasil sebelum berbuat.
c. Anak percaya terhadap penilaian sendiri, sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan.
d. Anak memiliki  kontrol yang lebih baik terhadap kehidupannya

Menurut Masrun dkk dalam bukunya jurnal kemandirian anak, membagi kemandirian dalam lima komponen sbb :
a. MERDEKA, anak bertindak atas kehendak sendiri, bukan karena orang lain dan tidak bergantung orang lain
b. PROGRESIF, berusaha mengejar prestasi, tekun, terencana dalam mewujudkan harapannya.
c. INISIATIF , mampu berpikir dan bertindak secara original, kreatif dan penuh inisiatif

d. TERKENDALI DARI DALAM,  individu yang mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya serta mampu mempengaruhi lingkungan .
e. KEMANTAPAN DIRI, memiliki harga diri dan kepercayaan diri, percaya terhadap kemampuan sendiri, menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.

Kemandirian-kemandirian tersebut di atas akan sangat penting kita persiapkan hari ini, karena anak-anak kita nanti akan memasuki pendidikan abad 21, yang memerlukan ketrampilan kemandirian yang  lebih untuk mencapainya.
Sumber Bacaan :

Masrun dkk, Jurnal Kemandirian Anak, diakses melalui http://www.lib.ug.co.id, pada tanggal 13 Februari 2016
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Melatih Kemandirian Anak, Gaza Media,2016
Trilling dan Fadel, 21st century skills, 2009

— 

Keteladanan

Alhamdulillaah, latihan kemandirian Kakak R dan Mas A untuk mencuci alat makannya terus dilakukan. Bahkan Mas U pun mulai mengikutinya tanpa diminta meskipun belum ajeg. Kekuatan keteladanan memang menjadi salah satu kunci keberhasilannya. 

Kakak R dan Mas A pun masih semangat naik angkot pulang sekolahnya. Dan masih ada teman saya sesama walimurid yang baru tahu dan merasa turut bangga dengan hal ini. 

Mas U pun saya perhatikan mulai konsisten memakai sepatu dimulai dari kaki kanan. 

Baarakallaahufiikum, anak-anak Mama  πŸ˜

Belanja Sayur dan Jemuran

Hari ini ada rapat walimurid di SDnya Mas U. Mama sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Dari luar pagar terdengar suara Pak No, tukang sayur langganan, memberi kode woro-woro agar ibu-ibu berbelanja. Karena saya repot, maka saya meminta bantuan Kakak R untuk berbelanja sayur untuk melatih kemandiriannya sekaligus agar saya dapat menghemat waktu karena saya akan segera berangkat ke sekolah.

Saya menuliskan daftar belanja di sehelai kertas dan memberinya uang. Kakak R pun melakukan tugas ini dengan baik. Alhamdulillaah.

Sore ini langit gelap. Saya meminta Kakak R dan Mas A untuk angkat jemuran sementara saya melakukan hal lain. Sebelumnya saya sudah pernah mengajak mereka melakukan kegiatan ini. Terkadang saya meminta Kakak R melakukannya sendiri, namun seringnya dia tak bersedia. Alasannya, tangannya ngga nyampe. Padahal ada kursi kecil yang bisa mereka gunakan lho untuk mengambil jemuran yang dirasa tinggi letaknya. Hari ini mereka berdua bekerjasama melaksanakan tugasnya.

Baarakallaahufiikum


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day9

 

Merapikan Pakaian

Sudah lama Ayahnya anak-anak melatihkan skill ini ; memasukkan baju yang sudah disetrika ke dalam lemari.

Saya? saya justru terkadang “melemahkan” keterampilan ini. Hiks. Hehehe. Soalnya saya gemes aja melihat tumpukan pakaian mereka yang tidak rapi.

Anak-anak masih harus diingatkan oleh ayahnya untuk kegiatan ini. Hanya satu-dua kali saja Kakak R berinisiatif melakukannya tanpa disuruh.

Saat ini pun, tumpukan pakaian rapi masih teronggok di keranjang, belum dimasukkan ke dalam lemari. Ayahnya belum lagi “bersuara” karena belakangan ini anak-anak tidur lebih cepat dari biasanya, sementara di pagi hari kami semua sibuk dengan persiapan bekerja dan bersekolah.

Oh, ayolah, Mama… rapikan lemari…!


#Level2 #Tantangan10Hari #MelatihKemandirian #BunsayIIP #Day8