Materi 4 Matrikulasi IIP Batch 3

Bunda, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini.

Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi.

Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI.

Apakah mudah? TIDAK.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain.

Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah Anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3.

Bagi yang sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi Anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak.

“ Just DO It”,

Lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada Apa yang harus dipelajari anak-anak kita,  bukan pada Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut, sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya.

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu :

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:

a. Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.

b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya. Tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.

c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll.

e. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

f. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition”.

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Page 2 of 10

Iklan

Flanel : Alat Bantu Belajar Berhitung

~ Bismillaah ~

Kali ini saya mau berbagi pengalaman tentang membantu Si Sulung belajar berhitung. Sekarang Si Kakak ini udah naik kelas 3 loh, tetapi cerita tentang belajar berhitung di kelas 1 yang lalu baru ditulis sekarang. Hehe, ngga papa ya.

Dulu itu, sewaktu pelajaran Matematika tentang penjumlahan sederhana yang tidak lebih dari 10, Si Kakak lebih mudah mengerti. Namun, ketika sudah mulai Penjumlahan dengan metode Menyimpan, kayaknya dia memerlukan waktu dan usaha yang lebih banyak.

Saya sudah membantu dengan menuliskan di kertas/buku, papan tulis juga, tetapi sepertinya dia masih mengalami kebingungan.

Saya berpikir, Si Kakak ini lebih mudah mengerti kalau yang dia pelajari berbentuk nyata, bisa dilihat, atau mungkin diraba. Cenderung visual gaya belajarnya. Kalau dengan coret-coret di kertas/papan pun belum banyak membantunya, maka saya harus cari cara lain.

Akhirnya saya membuatkan angka 0 sampai dengan 9, menggunakan flanel-flanel yang ada di rumah. Masing-masing angka, 5 buah banyaknya (3 buah saja juga cukup). Cara menggunakannya ya sama saja dengan menuliskannya di kertas/buku, hanya saja ini angka-angkanya bisa diraba, warna-warni, bisa lebih asyik belajarnya karena bisa sambil main-main.

angkahitungAlhamdulillaah, dengan alat bantu angka-angka flanel ini, Si Kakak bisa lebih mudah mengerti konsep penjumlahan.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk teman-teman 🙂

~ Selamat berakhir pekan ~

Prioritas

Kamis pekan lalu, si kecil Ulung demam, batuuuk sampe napasnya berat. Hari Sabtu sore baru dibawa ke dokter. Dahaknya banyak. Itu yang bikin napasnya berat. Dokter memberi resep obat batuk, tanpa antibiotik. Juga merujuk ke bagian fisioterapi buat inhalasi (diuap). Hari Senin aku udah ijin gak ngantor, karena mau bawa Ulung inhalasi lagi, semaleman masih demam dan masih batuk grak-grek.

Aku berharap Senin ini anak-anak bisa ‘tertib’ seperti biasa tanpa ada aku (aku biasanya berangkat pagi-pagi, maklum rumah jauh dari tempat kerja). Oh ternyata aku harus sedikit kecewa, karena Kakak mogok sekolah lagi. Dan problemnya sama, Kakak bertugas jadi khalifah! ( Ya Allah, Naak… sabar, sabar, sabar….! )

Oke.. Kakak nggak sekolah. Dan Adik kurang sehat. Jadi, aku harus menentukan prioritas. Baiklah, aku tidak marah. Adik saja didahulukan. Aku berdamai dengan hatiku sendiri. Aku memaafkan Kakak. Aku fokus dengan rencana membawa Adik ke rumah sakit.

Haaahh, dengan memilah-milah masalah seperti ini, pikiran jadi lebih tenang… Dan aku bisa tetap bersikap lembut sama Kakak, meskipun tetap saja ya, masalah mogok sekolah ini harus dipikirkan solusinya.

 

 

 

Khalifah

Hari Selasa kemarin, sementara lagi di atas boncengan motor menuju Lapangan Banteng, jam 7 pagi lewat sekian menit, handphone berdering. Ah, nada deringnya khas panggilan telepon rumah.

“Bu, Kakak ngga mau sekolah… masih ngantuk katanya…”, pengasuhnya menyampaikan kabar.

( Ah… terjadi lagi… ada apa, Nak…?? 😦 )

“Ngantuk, Mama…”. Hm… baiklah. Hari ini Kakak nggak masuk sekolah. Belajar dan bermain di rumah saja.

Otakku mulai bertanya-tanya. Tumben. Ya memang dulu pernah sih dia mogok sekolah, waktu di TK A ( mungkin kali lain aku akan ceritakan juga di sini ). Apa bener hanya karena mengantuk? Setahuku, sejak di TK B, Kakak belum pernah nggak sekolah dengan alasan seperti ini. Bangun paginya juga seperti biasa, hanya memang dia tadi pagi kurang bersemangat. Aku curiga.

Baca lebih lanjut

Dulu itu…

Dulu itu… saya belum sempet melanjutkan catatan karena sedang sibuk. Sibuk apaan? biasa… sibuk kerjaan menjelang akhir tahun 2009. Super sibuk karena SK Mutasi pegawai juga keluar. Saya sempet menyampaikan uneg-uneg saya kepada teman di Bagian Kepegawaian, kalau ngeluarin SK Mutasi itu mbok ya jangan pas akhir tahun…! :p

***

Dulu itu… tanggal 12 Desember 2009 kami pindah rumah, dari Pisangan Lama ke Jati Asih, Bekasi. Kami mengambil cuti tahunan selama beberapa hari supaya kami, terutama anak-anak, lebih tenang di rumah dan lingkungan baru. Saya menghubungi beberapa Kelompok Bermain untuk Ray bersekolah. Sebelumnya saya mencari info tentang sekolah di Bekasi (Jati Asih, Jatibening, Pondok Gede, dan sekitarnya) dan nemu sekolah Al-Alaq di sini.

Satu semester saja Ray bersekolah di Al-Alaq. Hari pertama sekolah adalah hari yang penuh perjuangan untuk membuat dia merasa nyaman. Dia harus berkeliling, melihat-lihat dulu, nangis-nangis pula, tidak bisa langsung masuk kelas dengan tenang. Namun, alhamdulillaah, di hari-hari berikutnya Ray sudah bisa beradaptasi dan menikmati sekolahnya.

Kami bahagia Ray bersekolah di sana. Dia berangkat sekolah dengan bersemangat. Tak jarang dia pulang sekolah dengan membawa hasil prakarya. Dia terlihat lebih percaya diri, komunikasi verbalnya pun meningkat. Ray yang sebelumnya pemalu, kini bersedia tampil di acara ‘wisuda’nya. Wah, hebat, Nak…!