Ray Usia 2 Tahun, bagian 2

Setelah merasa kurang puas dengan PAUD, kami menyekolahkan Ray di Kelompok Bermain swasta dekat rumah. Kami menyampaikan kepada guru-guru di sana perihal Ray, dan mereka menerimanya. Namanya juga sekolah kecil, tentu belum secanggih sekolah-sekolah mahal dan terkenal itu. Kami hanya ingin Ray belajar bersosialisasi dan bertemu dengan banyak teman, siapa tahu dia mau “bicara”.

Ray beradaptasi. Agak lama. Masa awal sekolah adalah masa perjuangan buat Mama. Mama mengantar sendiri Ray ke sekolah karena waktu itu sedang tidak ada asisten di rumah. Setelah itu baru Mama berangkat kerja (seminggu tiga kali Mama datang terlambat, Alhamdulillaah bos Mama pengertian) . Ray ditinggal di rumah dengan Mbah Ti dan Affan, adiknya yang masih bayi.

Semester II Ray sudah lebih tertib. Frekuensi ke luar kelas sewaktu pelajaran berlangsung sudah mulai berkurang. Kalaupun itu terjadi, paling cuma sebentar dan mudah dibujuk kembali masuk kelas.

“Mau main prosotan ya? ya deh boleh, satu kali merosot ya… 1, 2, 3, meluncuuur…”

“yaa… yuk masuk kelas lagi yuk…”, Mama lari menggandeng Ray masuk kelas. Dia tertawa-tawa. Tak jarang Mama bermain pura-pura mengejar dia.

Mama selalu bersiap di dekat pintu kelas, sedangkan ibu-ibu pengantar lainnya sedang asyik ngobrol dengan yang lain. Duduk-duduk, cerita-cerita. Hmm, memperhatikan Ray belajar di kelas jauh (sangat jauh) lebih menyenangkan daripada ikut ngobrol dengan ibu-ibu itu. Mama senyum-senyum sendiri melihat Ray, dia bertepuk tangan ketika anak-anak menyanyi, ikut melafalkan doa-doa (meskipun pengucapannya belum benar). Dalam hati Mama bahagia dan bersyukur bisa menikmati momen seperti ini.

Sebelum bersekolah, kami juga memeriksakan Ray ke dokter dan membawanya terapi wicara seperti pernah dituliskan di sini. Bahkan kami pernah mengundang seorang terapis ke rumah. Β Seminggu sekali beliau datang.

Waktu itu, yang terpikirkan oleh kami adalah bagaimana mengejar ketertinggalan Ray. Terapis yang datang ke rumah mengobservasi Ray. Pekan berikutnya dia datang, mengkondisikan Ray belajar dengan duduk di kursi seperti di sekolah. Duuh, Ray tidak mau menurut. Lari-lari, teriak-teriak, nangis.

Kurang lebih empat kali terapis itu datang ke rumah, kami tidak melihat kemajuan berarti. Ray hampir selalu teriak-teriak kalau diajak belajar. Mama dan Ayah mulai berpikir bahwa cara ini bukan yang terbaik untuk Ray. Ada kesan paksaan dan tidak ‘fun’. Kami putuskan untuk tidak mendatangkan terapis ke rumah.

Akhirnya, kami lebih memilih cara yang lebih menyenangkan, dengan mengajaknya bermain, bernyanyi, tidak harus dalam kondisi belajar. Kami bacakan buku-buku cerita. Kami banyak mengajaknya bicara dan lebih sering bertemu dengan orang-orang asing. Kami mengajaknya berkunjung ke rumah teman-teman Ayah, yang sebelumnya belum pernah dia kenal. Kami ajak bermain di taman. Di area bermain anak-anak, dia belajar mengantri. Kami juga sering mengajaknya belanja ke pasar tradisional, kami kenalkan apa-apa saja barang yang dibeli.

Alhamdulillaah, ada kemajuan. Ray sudah mulai bicara, dengan bahasa yang belum jelas. Namun demikian, syukur kepada Allah SWT tiada henti. Setiap kemajuan Ray kami hargai, sangat kami hargai.

Maafkan Mama dan Ayah, ya, Nak, bila dalam proses belajarmu, pernah ada hal-hal yang membuatmu kurang nyaman. Maafkan kami, ya, Nak, kami masih harus terus belajar untuk memahamimu…

Iklan

8 thoughts on “Ray Usia 2 Tahun, bagian 2

  1. Saya yakin …
    Se yakin-yakinnya …
    Jika Ray kelak besar nanti …
    Dia pasti akan menangis membaca postingan Mama yang satu ini …

    Ini sangat menyentuh …
    Dan jujur … entah mengapa … mata saya berkaca-kaca

    Salam saya

    Suka

  2. salam kenal mama ray.anakku fachry juga sama divonis dokter msdd,sekarang umurnya 4 thn.sudah agak lumayan bicaranya,aku terapi dari umur 2 thn, tapi yang aku bingung dia suka menarik diri di tempat keramaian, takut akan gelap, dan takut naik lift. Gmana cara mengatasinya,ya?

    re : salam kenal, Mba Linda πŸ™‚
    Dulu Ray juga seperti Fachry, merasa ngga nyaman di tempat yang ramai/bising, dan takut naik lift. Kemudian kami sering mengajak dia pergi, Mba, ke kondangan (yg ramai) misalnya. Awal2 dia ga mau, Mba, tapi lama2 mau juga. Saya pikir karena anak-anak seperti ini perlu adaptasi agak lama, maka melatihnya juga dalam ‘porsi’ kecil namun sering. πŸ™‚
    Kalau sudah terbiasa, InsyaAllah lama-lama enjoy juga, Mba.

    Menurut saya berdasarkan pengalaman pribadi, anak2 merasa kurang nyaman justru kadangkala karena kita, Mba, ortunya yang terlalu ‘push’ dia untuk menjadi seperti anak2 lain. Tentu ya kita ingin anak2 kita tunbuh ‘normal’, sementara anak2 hanya ingin kita pahami. Ihiks… semoga cuma saya saja nih yang kayak gini 😦

    Terima kasih sudah mampir, Mba Linda… πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s