Khalifah

Hari Selasa kemarin, sementara lagi di atas boncengan motor menuju Lapangan Banteng, jam 7 pagi lewat sekian menit, handphone berdering. Ah, nada deringnya khas panggilan telepon rumah.

“Bu, Kakak ngga mau sekolah… masih ngantuk katanya…”, pengasuhnya menyampaikan kabar.

( Ah… terjadi lagi… ada apa, Nak…?? 😦 )

“Ngantuk, Mama…”. Hm… baiklah. Hari ini Kakak nggak masuk sekolah. Belajar dan bermain di rumah saja.

Otakku mulai bertanya-tanya. Tumben. Ya memang dulu pernah sih dia mogok sekolah, waktu di TK A ( mungkin kali lain aku akan ceritakan juga di sini ). Apa bener hanya karena mengantuk? Setahuku, sejak di TK B, Kakak belum pernah nggak sekolah dengan alasan seperti ini. Bangun paginya juga seperti biasa, hanya memang dia tadi pagi kurang bersemangat. Aku curiga.

Malam, sepulang dari kantor. “Kakak nggak masuk sekolah ya tadi? Mama ditanya Bu Dewi loh tadi, nanyain kabar Kakak. Ada apa sih Kak, kok nggak sekolah?”

“Aku nggak mau ‘alifah’…”

Alifah? siapa itu? teman Kakak?

“Bukan… Kha…li…fah…”

Oowh, khalifah…!

Kakak bertugas menjadi khalifah ya… Owalaah… rupanya Kakak grogi, takut, cemas, kurang percaya diri menjadi khalifah, yang selama sehari akan memimpin teman-temannya di kelas, misalnya memandu baca doa dan sejenisnya. Hmm, oke, aku sudah mendapat petunjuk.

Kemudian aku telepon Gurunya. Demi mendengar ceritaku, beliau tersenyum. Beliau bilang, sebenarnya tugas menjadi khalifah ini sudah dijadwalkan di hari Kamis pekan lalu. Setiap diberi kesempatan menjadi khalifah, Kakak hanya menggeleng. Sehingga Bu Guru menuliskan jadwal hari Selasa itu Kakak yang bertugas.

Ah, ada apa denganmu, Nak… Mama dan Bu Guru menjadi bertanya-tanya. Padahal sebelumnya Kakak bersedia bertugas menjadi khalifah, nggak pernah ada masalah. Kami membicarakan masalah ini, bertukar informasi. Sambil menunggu apa hasilnya sementara kami terus menyemangatinya.

Di antara resahku, sungguh ada rasa syukur dan bahagia yang membuncah. Pertama, berarti selama ini Kakak sudah pandai menjadi khalifah. Jangan nila setitik membuat rusak susu sebelanga. Kedua, Kakak sudah bisa menyampaikan alasan ( dan tentu perasaannya meskipun belum secara eksplisit ). Kata-katanya, sungguh merupakan petunjuk dari Allah untukku.

Mama bahagia bercampur resah, Nak. Inilah hidup, Nak. Tidak selalu berjalan mudah, namun juga InsyaAllah tidak terlalu sulit untuk dijalani. Semoga proses yang kau jalani ini, membawa kebaikan, juga melatih kecerdasanmu.

( Ya Allah, tunjuki jalan, kami mohon Ya Allah… tumbuhkan semangat, motivasi dan percaya diri anakku, Ray…)

p.s. : ada sarankah, Kawan, untukku? apa yang harus kuperbuat ya? *edisi bingung*

Iklan

2 thoughts on “Khalifah

  1. Nyumbang ide ya mbak. Kalau misalnya bermain peran dulu di rumah, gimana? Si Kakak pura2 jadi khalifah gitu di rumah. Kita yang jadi murid. Tapi bilangnya yang asyik, misal:maen sekolah2an. Mama yang jadi anak TK. Kakak yang ngajarin, pura2 jadi guru. terus kalo jadi khalifah gimana? Mungkin dr situ ketahuan si Kakak gak pede-nya di mana dst. Just my 2 cents ya mbak…. πŸ˜‰


    re : iya, Mba Retma. Saya juga berpikir begitu.
    Bismillaah ya, dicoba.
    Terima kasih ya, Mbak, sudah membantu… *peluk*

    Eh, ternyata kita bertetangga yaaa? hihih πŸ˜€

    Suka

  2. Ping-balik: Prioritas « MamaRay's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s