Remaja dan Ali bin Abu Thalib

Di rubrik Psikologi salah satu harian ibukota, terbaca judul Dampak Perceraian pada Anak. Aku tidak akan membahas perceraian itu. Aku hanya ingin mengutip dan mencatat kalimat-kalimat yang menurutku sayang kalo ngga disimpan.

Oleh psikolog (yang menulis di rubrik itu), dikatakan bahwa “Remaja sesungguhnya tidak mandiri. Mereka hanya merasa bahwa mereka harus mandiri. Meskipun menjauh dari orangtua, mencari lebih banyak kemandirian dan kebebasan, remaja tetap ingin mengetahui bahwa orangtua masih ada jika mereka membutuhkan”.

Aku langsung teringat akan Ali bin Abu Thalib RA. Beliau mengajarkan tahapan mendidik anak, yaitu :
Usia 0-7 tahun : jadikan ia raja (kita melayani kebutuhannya)
Usia 7-14 tahun : jadikan ia tentara (ajarkan kemandirian)
Usia 14 tahun ke atas : jadikan ia kawan. Teman yang sejajar, bukan melulu orangtua yang superior terhadap anak remaja. Remaja butuh kawan (yaitu orangtua) yang asyik, yang bisa mendengarkan mereka.

Posted with WordPressBlackBerry.

Iklan

3 thoughts on “Remaja dan Ali bin Abu Thalib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s