Sesuatu bernama kematian (2)

Peristiwa meninggalnya suami temanku, membuka mataku, bahwa umur manusia adalah misteri, dan kesempatan hidup bersamaΒ  suami adalah suatu kenikmatan yang tidak boleh kusia-siakan. Suami adalah ladang ilmu, amal, dan pahala. Mumpung masih bisa hidup bersamanya, melihatnya setiap hari, dan mumpung-mumpung yang lain, rugilah kiranya kalau kuhabiskan waktuku tanpa makna berarti untuknya. Rugilah kiranya kalau kuhabiskan tenaga dan pikiranku untuk mendata kekurangan-kekurangannya.

Entahlah siapa yang akan lebih dulu dipanggil-Nya, aku atau dia. Yang jelas, aku ingin menghabiskan hari-hariku bersamanya dengan lebih baik, melayaninya dengan lebih tulus. Aku ingin dia mengenangku sebagai isteri yang berbakti dan hal-hal indah lainnya. Sehingga ketika aku lebih dulu dipanggil-Nya, aku pergi dengan membawa ridho suamiku….

Kematian… sesuatu yang kehidupan sesudahnya aku khawatirkan. Khawatir akan kurangnya bekal amal. Astaghfirullaah… ampuni aku ya, Rabb… Jadikanlah akhir hidupku sebagai akhir yang baik. Beri aku petunjuk dan kekuatan untuk terus beramal secara ihsan, ikhlas karena-Mu. Amiin.

Iklan

4 thoughts on “Sesuatu bernama kematian (2)

  1. hallo mbak,terima kasih sudah mampir di blog aku :). sekalinya mampir, tertohok banget ama bahasan yg satu ini. terima kasih sudah sharing ttg ini …. seperti diingatkan. salam kenal yaa :).

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s