RSS

Arsip Tag: nemu di jalan

Sore Bahagia

Tentu telah menjadi kehendak Allah Swt aku membaca artikel di web pengusaha muslim. Ijinkan aku membagi di sini ya, semoga teman-teman mendapati petunjuk Allah Swt, mendapati semangat dan keyakinan yang kuat, juga sirnanya lara hati, seperti yang aku rasakan.

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”

“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir.

Alhamdulillaah, sore hari menjelang pulang kantor, seperti mendapat jawaban dari-Nya terhadap resah-gelisahku. Terima kasih, Rabbi, sore ini aku bahagia. :)

NB : silahkan membaca artikel sumber untuk mendapatkan informasi lengkap terkait dengan redaksi istighfar yang benar

 
5 Comments

Posted by pada 15 Desember 2011 in Mama, Renungan

 

Kaitkata: ,

Fatwa Hati

Dan dari Wabishah bin Ma’bad ra, ia berkata, “Saya mendatangi Rasulullah saw, lalu beliau bertanya, ‘Engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Mintalah fatwa kepada hatimu; kebajikan adalah sesuatu yang jiwamu tenteram kepadanya dan hatimu menjadi tenang, dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di dalam jiwa dan ragu di dada, meski manusia memberi fatwa kepadamu.”

(Imam Nawawi berkata, “Hadits hasan, kami meriwayatkannya dalam dua kitab Musnad; Ahmad bin Hanbal dan Ad-Darimi dengan isnad hasan.“)

Hadits ini dicuplik dari web majalah Ummi.

 
2 Comments

Posted by pada 28 November 2011 in Renungan

 

Kaitkata: , ,

Gendong dan Bayi Stres (tulis ulang)

Tahukah Anda, menggendong bayi menghadap ke depan dapat berdampak negatif pada pertumbuhannya?

Menurut studi dari Dundee University, Inggris, bayi yang sering digendong dengan wajahnya menghadap ke depan rentan mengalami perkembangan yang naik turun sehingga saat dewasa kelak cenderung memliki tingkat kecemasan tinggi. Efek yang sama juga terjadi ketika menggunakan kereta dorong bayi.

“Bayi yang dipangku menghadap ke depan dan kereta dorong menciptakan situasi yang sangat menegangkan,” kata Profesor Catherine Fowler.

Sebaliknya, bayi yang digendong secara tradisional cenderung tertawa, mendengarkan ibu, dan tertidur menghadap ibunya sehingga tingkat stres rendah. (Daily Mail/*/X-5)

Tulisan di atas adalah hasil saya menulis ulang, mencontek dari harian Media Indonesia, hari Rabu tanggal 24 Agustus 2011, halaman 1 rubrik ‘PAUSE’.

~***~

Saya baru tahu loh perihal tersebut di atas. Karena menarik maka saya catat di sini.

Mungkin tidak berlaku secara umum ya, karena ada juga bayi-bayi yang nyaman-nyaman saja di kereta mereka. Atau mereka senyam-senyum saja digendong menghadap ke depan.

Namun demikian, hal ini patut kita perhatikan juga. Di saat bayi membutuhkan dekapan kita, tentu saya sebaiknya segera kita dekap dan gendong mereka, dengan kasih sayang.

Saya jadi teringat yang disampaikan Bu Elly Risman (dan rekan-rekan di Yayasan Kita dan Buah Hati, dalam seminar/pelatihan dan rekaman acara Dear Parents di radio), bahwa bayi sudah mengenal ibunya sejak dalam kandungan melalui suara sang ibu. Di awal kelahiran bayi belajar mengenali ibunya melalui suara, sentuhan, dan juga wajah.

Bayi-bayi dengan ibu yang selalu mendampingi (full-time-mom) saya rasa lebih beruntung daripada yang ibunya bekerja. Mengapa? karena di usia yang ketiga bulan, bayi sudah berpisah dengan ibunya yang bekerja, meski hanya beberapa jam. Bayi dengan ibu bekerja harus beradaptasi dengan wajah baru yang mengasuhnya, padahal sebelumnya dia sudah akrab dengan wajah ibunya, termasuk juga suara, sentuhan dan buaian.

Menurut para ahli jiwa, manusia itu memiliki rasa cemas sejak awal, berkaitan dengan cemas akan wajah asing dan perpisahan. Bayi usia 0-3 bulan, matanya belum fokus menatap wajah orangtua. Jadi untuk benar-benar mengenali wajah Ayah-Ibu bayi-bayi membutuhkan waktu yang lama. Belum juga akrab benar dengan wajah ibu, bayi kemudian diasuh orang lain, sehingga mereka merasa cemas dengan wajah asing dan perpisahan.

Jadi tanpa disadari, kita sudah menanamkan kecemasan/stres kepada bayi kita…

Ujung-ujungnya, tulisan ini membuat saya tenggelam dalam dilema… :(

 
4 Comments

Posted by pada 7 September 2011 in Anak-anak, Mama, Renungan

 

Kaitkata: , , , ,

Remaja dan Ali bin Abu Thalib

Di rubrik Psikologi salah satu harian ibukota, terbaca judul Dampak Perceraian pada Anak. Aku tidak akan membahas perceraian itu. Aku hanya ingin mengutip dan mencatat kalimat-kalimat yang menurutku sayang kalo ngga disimpan.

Oleh psikolog (yang menulis di rubrik itu), dikatakan bahwa “Remaja sesungguhnya tidak mandiri. Mereka hanya merasa bahwa mereka harus mandiri. Meskipun menjauh dari orangtua, mencari lebih banyak kemandirian dan kebebasan, remaja tetap ingin mengetahui bahwa orangtua masih ada jika mereka membutuhkan”.

Aku langsung teringat akan Ali bin Abu Thalib RA. Beliau mengajarkan tahapan mendidik anak, yaitu :
Usia 0-7 tahun : jadikan ia raja (kita melayani kebutuhannya)
Usia 7-14 tahun : jadikan ia tentara (ajarkan kemandirian)
Usia 14 tahun ke atas : jadikan ia kawan. Teman yang sejajar, bukan melulu orangtua yang superior terhadap anak remaja. Remaja butuh kawan (yaitu orangtua) yang asyik, yang bisa mendengarkan mereka.

Posted with WordPressBlackBerry.

 
3 Comments

Posted by pada 17 Juli 2011 in Anak-anak, Renungan

 

Kaitkata: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.