RSS

Arsip Tag: ibu bekerja

Resign III : Bukan Sampah

Apakah saya terlihat mengeluh (dengan tulisan saya yang bertema resign)? saya kok ngga merasa gitu ya. (hehehe…)

Menuliskan kata hati dan pikiran-pikiran saya di sini, sungguh tidak bermaksud “mengasihani diri sendiri” dengan mengeluhkan ini-itu. Saya hanya berbagi kata hati, barangkali saja ada pencerahan dari teman-teman. Atau mungkin… ada banyak ibu bekerja di luar sana yang punya pikiran senada dengan saya bisa merasa “punya teman”. :p

Jadi bukan sampah-menyampah, Kawan. Ini kata hati yaaang…manusiawi kan?


 
5 Comments

Posted by pada 24 November 2011 in Mama, Renungan

 

Kaitkata: , ,

Perewangan

Berangkat dari rumah, saya sudah berniat, hari ini mau kerja (jadi selama ini???). Maksud saya, saya tidak berencana menambah postingan di blog ini. Namun, pembicaraan dengan teman di area toilet perempuan, mengusik hati dan pikiran saya.

Tarik napaass….

Salah seorang teman saya, kembali memulangkan Asisten-nya (Asisten Rumah Tangga). Kenapa lagi? karena, si anak mengeluhkan pipinya yang sakit karena telah dipukul oleh si asisten. Duuh, sediiih, bercampur geram dengernya.

“Tuh, Mamaray, hati-hati sama pembantu…!”, pesan teman saya. Hiyaaa, huwaaa :(

Sama juga dengan teman yang tadi, saya juga sudah sering gonta-ganti asisten. Macem-macem sebabnya. Karena si mbak menikah, si mbak ga betah, si mbak gak saling akur (ketika ada dua asisten di rumah), hingga saya PHK si mbak karena galak sama anak-anak, juga kedapatan mencuri pulsa telepon rumah. Urusan perewangan (rewang = asisten, bukan jin, hihihihi) ini memang cukup menguras pikiran dan perhatian. Karena mereka sewaktu-waktu bisa minta pulang, dsb. :P   secara saya ngga bisa membeli loyalitas mereka dengan gaji yang terlalu tinggi, saya belum bisa menggaji Baby Sitter (gaji Babysitter dan ART biasa berbeda).

Ini, konsekuensi ibu bekerja. Ujung-ujungnya, saya semakin pingin resign. :P *tapi nek ga kerjo, ga duwe duit, piye jaaal??? mbuuh…*

 
9 Comments

Posted by pada 22 November 2011 in Mama

 

Kaitkata: , ,

Untukmu, Mbak…

semoga Allah Swt memberikan kemudahan kepada Mbak Ari, memberikan kesehatan yang prima, ketenangan batin dan pikir, kelapangan dada dan keluasan rezeki. Semoga niat muliamu diganjar Allah Swt dengan pahala berlipat, dihadiahi-Nya dengan anak-anak yg sehat dan bahagia. Semoga penuhnya waktumu mengurus keluargamu, Mbak, menuai keridloan Allah dan keridloan suami. Semoga Allah Swt dan suamimu, Mbak, semakin cinta kepadamu… amiin, amiin, amiin….

Menahan tangis aku menuliskannya.

Itu do’aku untuk seorang kawan yang esok hari sudah tidak bekerja di kantor ini, Cuti di Luar Tanggungan Negara (sebelumnya dia berniat mengundurkan diri, resign, tapi ditolak sama atasannya). Baik-baik ya Mbak, aku akan merindukanmu,  tentu.

 
10 Comments

Posted by pada 14 September 2011 in Mama

 

Kaitkata: ,

Gendong dan Bayi Stres (tulis ulang)

Tahukah Anda, menggendong bayi menghadap ke depan dapat berdampak negatif pada pertumbuhannya?

Menurut studi dari Dundee University, Inggris, bayi yang sering digendong dengan wajahnya menghadap ke depan rentan mengalami perkembangan yang naik turun sehingga saat dewasa kelak cenderung memliki tingkat kecemasan tinggi. Efek yang sama juga terjadi ketika menggunakan kereta dorong bayi.

“Bayi yang dipangku menghadap ke depan dan kereta dorong menciptakan situasi yang sangat menegangkan,” kata Profesor Catherine Fowler.

Sebaliknya, bayi yang digendong secara tradisional cenderung tertawa, mendengarkan ibu, dan tertidur menghadap ibunya sehingga tingkat stres rendah. (Daily Mail/*/X-5)

Tulisan di atas adalah hasil saya menulis ulang, mencontek dari harian Media Indonesia, hari Rabu tanggal 24 Agustus 2011, halaman 1 rubrik ‘PAUSE’.

~***~

Saya baru tahu loh perihal tersebut di atas. Karena menarik maka saya catat di sini.

Mungkin tidak berlaku secara umum ya, karena ada juga bayi-bayi yang nyaman-nyaman saja di kereta mereka. Atau mereka senyam-senyum saja digendong menghadap ke depan.

Namun demikian, hal ini patut kita perhatikan juga. Di saat bayi membutuhkan dekapan kita, tentu saya sebaiknya segera kita dekap dan gendong mereka, dengan kasih sayang.

Saya jadi teringat yang disampaikan Bu Elly Risman (dan rekan-rekan di Yayasan Kita dan Buah Hati, dalam seminar/pelatihan dan rekaman acara Dear Parents di radio), bahwa bayi sudah mengenal ibunya sejak dalam kandungan melalui suara sang ibu. Di awal kelahiran bayi belajar mengenali ibunya melalui suara, sentuhan, dan juga wajah.

Bayi-bayi dengan ibu yang selalu mendampingi (full-time-mom) saya rasa lebih beruntung daripada yang ibunya bekerja. Mengapa? karena di usia yang ketiga bulan, bayi sudah berpisah dengan ibunya yang bekerja, meski hanya beberapa jam. Bayi dengan ibu bekerja harus beradaptasi dengan wajah baru yang mengasuhnya, padahal sebelumnya dia sudah akrab dengan wajah ibunya, termasuk juga suara, sentuhan dan buaian.

Menurut para ahli jiwa, manusia itu memiliki rasa cemas sejak awal, berkaitan dengan cemas akan wajah asing dan perpisahan. Bayi usia 0-3 bulan, matanya belum fokus menatap wajah orangtua. Jadi untuk benar-benar mengenali wajah Ayah-Ibu bayi-bayi membutuhkan waktu yang lama. Belum juga akrab benar dengan wajah ibu, bayi kemudian diasuh orang lain, sehingga mereka merasa cemas dengan wajah asing dan perpisahan.

Jadi tanpa disadari, kita sudah menanamkan kecemasan/stres kepada bayi kita…

Ujung-ujungnya, tulisan ini membuat saya tenggelam dalam dilema… :(

 
4 Comments

Posted by pada 7 September 2011 in Anak-anak, Mama, Renungan

 

Kaitkata: , , , ,

Lagu Semalam

Aku sedih
Duduk sendiri
Papa pergi
Mama pergi

Eh itu dia
Mereka datang

Aku senang
Hatiku riang

Kumpulan kata-kata di atas itu yang kutangkap dari mulut Si Mas, semalam. Entah mengapa, hati saya terasa teriris, pedih. Itu lagu anak kesepian, kata teman saya. Ihiks… :(

Sebelumnya aku udah pernah dengar juga Si Kakak dan Si Mas nyanyi lagu yang mereka dapatkan dari VCD lagu anak-anak itu. Aku kaget dan sedih juga, namun aku berusaha ‘nyaman’ mendengarnya. Tapi semalem itu kok terasa lain ya. Cocok banget dengan keadaanku, bekerja meninggalkan anak-anak. Hiks… :(

 
8 Comments

Posted by pada 31 Juli 2011 in 2, Mama

 

Kaitkata:

Resign

Kata resign ini kerap ganggu pikiranku. Ahh…

Tunjuki aku jalan, Yaa Allaah…

Posted with WordPressBlackBerry.

 
11 Comments

Posted by pada 19 Juli 2011 in Mama, Uncategorized

 

Kaitkata: , ,

ASI

Tahu ga? Bisa memberikan ASI-Ex itu suatu perjuangan buat ibu bekerja.

Yang harus disiapkan adalah… yang pertama dan utama, niat! Supaya punya niat memberikan ASI-Ex, ketahui dulu apa manfaat ASI bagi bayi, monggo dicek di sini, di situ, juga di sana (dan masih banyak lagi informasi mengenai keunggulan ASI di internet). Kalo sudah tahu, pasang niat kuat di hati ya, untuk tetap memberikan ASI, meskipun ibu kembali bekerja.

Niat udah ada nih, sekarang cari tahu caranya supaya bisa tetap memberikan ASI meskipun ibu kembali bekerja. Intinya ada 2 hal yang harus dilakukan, yaitu memerah ASI dan menabung ASI Perah (ASIP) sebelum kembali bekerja dan selama berada di tempat kerja.

Hah, ribet yaa..? Aaah, enggak koooq… kan udah ada niat. Ada kemauan, pasti ada jalan.

Trus, cari tahu tentang teknik memerah ASI dan menabung ASIP. Di internet udah bertebaran tuh informasinya, salah satunya adalah milis asiforbaby.

Selama masa menyusui, pergi ke kantor pasti mbawa “peralatan perang”. Cooler bag plus Ice gel, sapu tangan, dan 4-6 botol ASIP. Saya ngga bawa pompa ASI karena saya memompa dengan tangan. ASIP saya simpan di kulkas. Alhamdulillaah ada kulkas di kantor, jd cooler bag dan ice gelnya digunakan saat dalam perjalanan pulang kantor saja (1-1.5 jam).

Hambatannya apa? Hambatan terbesarnya adalah ketika semangat memerahnya menurun karena sedang diburu pekerjaan, atau karena memang sedang malas. Hehe. Alhamdulillaah ada teman-teman seperjuangan, bisa saling menyemangati. Atau, bayangkan saja wajah bayi kita di rumah, ah dia sedang menanti, merindukan kita, dia butuh kita karena (tentu) makanan dia ada di kita. Hehe. Ga tega kan kalo harus menggantinya dengan susu sapi???

Jadi, ibu bekerja dan ingin memberikan ASI-Ex? Bisa banget…!!

 
5 Comments

Posted by pada 16 Juli 2011 in Anak-anak, Mama

 

Kaitkata: ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.