Duuh, bahasaku tinggi banget ya, jarang-jarang nih, hehhee, lha itu juga hasil nyontek dari tabloid Nakita No. 555/TH.XI/16-22 Nopember 2009. Berikut ini sebagian ulasannya….
Istilah MSDD pertama kali digunakan oleh Stanley Greenspan, MD., seorang peneliti Autisme dan pengajar di Bagian Psikiatri, Universitas George Washington, Amerika Serikat. Hasil observasi terhadap 200 anak yang mendapat diagnosis autisme menunjukkan bahwa sebagian dari mereka berkembang dengan keunikan masing-masing. Ada anak yang sebelumnya diam seribu bahasa kemudian berkembang sangat komunikatif, bahkan mampu menggunakan kalimat kompleks dan adaptif. Anak yang sebelumnya acuh tak acuh dan tampak asosial kemudian menjadi anak kreatif, hangat, penuh rasa cinta, dan gembira.
Selanjutnya ia menemukan, anak-anak di bawah usia 3 tahun yang menunjukkan tanda-tanda gangguan komunikasi seperti dalam autisme ini nyatanya tetap memiliki emosi yang kuat (sesuatu yang tidak tampak pada anak-anak yang benar menyandang autisme). Malah ketika kemudian duduk di bangku sekolah-sekolah umum, anak-anak ini mampu berprestasi dalam kegiatan belajar, menyenangi persahabatan, dan mampu berimajinasi dalam bermain. Melihat keadaan ini, Greenspan mengusulkan penggunaan terminologi MSDD (Multisystem Development Disorder) untuk membedakan anak-anak tersebut dari penyandang autisme.
MSDD sering terdeteksi di usia dini, yaitu di usia bayi hingga 3 tahun. Sejatinya orangtua tak perlu khawatir sebab kesulitan dalam berinteraksi dan berkomunikasi pada usia 0-3 tahun dinilai sebagai kondisi yang masih dapat berubah. Meski demikian, memang tak mudah untuk mengetahui mana anak yang bisa berkembang normal di tahapan usia selanjutnya dan mana yang akan mengalami gangguan untuk seterusnya. Oleh karena itu, proses tumbuh kembang anak usia dini, termasuk perkembangan bahasa dan sosialnya harus terus dipantau.
Tanda-tanda MSDD sebetulnya tampak jelas pada anak, sehingga dapat membantu orangtua mengenalinya sejak dini :
- Reaksi abnormal, bisa hiposensitif (kurang sensitif) atau hipersensitif (kelewat sensitif) terhadap suara, aroma, tekstur, gerakan, suhu, dan sensasi indera lainnya. Usia 2 tahun, Ray tidak suka label di krah bajunya, pasti minta digunting. Dia juga tidak suka bermain dengan lem, juga risih dengan remahan krayon yang menempel di kuku dan jari tangannya. Juga pernah menangis seperti orang ketakutan ketika mendengar suara peluit yang ditiup temannya. Suara bajaj juga membuat dia nangis (bayi).
- Sulit berpartisipasi dalam kegiatan dengan baik, tetapi bukan karena kurang tertarik. Ya, dulu Ray juga lebih sering sebagai penonton ketika teman-temannya bermain.
- Ada masalah dalam komunikasi, terlambat bicara atau sulit berkomunikasi dua arah. Yes, he is.
- Minat berkomunikasi dan minat interaksi tetap normal, tetapi tidak bereaksi secara optimal dalam interaksinya. Yup.
- Ada masalah dengan koordinasi tubuh atau canggung (clumsy). Yup, di gerak tubuh tertentu. Dia dulu belum bisa bermain ‘Rolly Polly’, gerakan memutar kedua tangan di depan dada.
- Ada masalah yang terkait dengan keteraturan tidur, selera makan, dan aktivitas rutin lainnya. Kurasa ini tidak.
—
Anak-anak dengan gangguan seperti ini sepertinya tidak pernah merasa sakit meski terjatuh atau terbentur, kurang suka dipeluk, ditimang-timang, dielus, sebagian berjalan jinjit, tidak suka keramas, disisir, digunting rambut/kukunya, dan menunjukkan reaksi berlebihan terhadap suara tertentu.
Bedanya dari autisme, anak-anak MSDD cenderung menunjukkan perkembangan mental yang normal, tidak mengulang-ulang perilakunya, dan tidak memiliki ritual khas, misalnya harus melepas sepatu/baju dengan cara tertentu yang menjadi ciri khas menonjol anak autisme. Minat mereka untuk berinteraksi pun lebih tinggi dibanding anak autis. Kesimpulannya, gangguan MSDD sangat mungkin untuk mengalami perubahan dan perbaikan karena tidak menetap seperti gangguan pada Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau autisme.
—
Sebelum tahu istilah MSDD, aku sudah punya ‘feeling’ bahwa anakku bukan anak autis. Ada teman yang bilang Ray anak autis ringan, tapi feeling-ku sebagai ibunya, meragukannya. Dan keraguanku terjawab sudah melalui artikel itu. 
Kini Ray berusia 4 tahun, sudah bicara, bisa membuat kalimat sederhana, dan semakin banyak saja kosakata yang dikuasainya. Dia terlihat lebih gambira, percaya diri, sudah bisa bermain dengan baik bersama teman-temannya. Alhamdulillaah… terima kasih, Ya Allah, atas segala kemudahan yang Engkau berikan.














Acara di sekolah dimulai dengan pawai keliling komplek sekolah. Hihihi, meski peluh deleweran di keningnya, rambutnya pun basah oleh keringat (Mama tahu Ray kegerahan), tapi dia tetap bertahan, tidak mengeluh, tidak minta lepas tutup kepala. Kakak hebat deh!